daily thoughts and activities

Thursday, March 19, 2020


Kehamilan saya termasuk kehamilan yang sulit di trimester awal. Bulan pertama hingga keempat, saya bahkan tidak sanggup melakukan perjalanan naik mobil. Tapi karena saya ngekos dekat kantor selama hamil, seminggu 2x saya harus menjalaninya dengan penuh penderitaan.

Bulan ke-5 dan ke-6 adalah saat yang sudah lumayan enak. Saya sudah merasa fit dan tidak mual-mual sehingga ketika ada kesempatan dinas dari kantor, saya mengiyakan.

Penerbangan pertama yakni ke Bangka Belitung menggunakan Batik Air. Saya menelepon call center untuk menanyakan informasi perihal persyaratan ibu hamil naik pesawat. Di luar ekspektasi saya, petugas call center maskapai agak gagap mengenai informasi tersebut dan meminta saya untuk menunggunya di telepon untuk mencari informasi persyaratan tersebut. Lama sekali saya menunggu di telepon hingga akhirnya ia kembali dan memberi tahu persyaratan mengenai ibu hamil untuk bisa terbang. Dari informasinya (dan cek internet), untuk kehamilan di bawah 28 minggu saya hanya diminta untuk mengisi Form of Indemnity (FOI) dan tidak dibutuhkan surat keterangan dokter untuk bisa terbang.

Sebenarnya, saya sudah mengantongi surat tersebut sekitar h-7 sebelum saya terbang. Jadi kalau diminta pun saya sudah siap. Hanya ingin memastikan saja.

Di hari keberangkatan, saya datang lebih awal ke bandara untuk jaga-jaga apabila ada pemeriksaan lebih lanjut atau butuh waktu lebih untuk mengisi formulir tertentu (ibu hamil harus check-in melalui counter, tidak bisa check-in online kecuali perut Anda masih kecil dan tidak ketahuan sedang hamil). Petugas counter check-in Batik Air menanyakan usia kehamilan saya, lalu saya jawab sesuai dengan surat keterangan dokter, yakni 21 minggu. Yang lucunya, petugas agak bingung dengan hitungan minggu.. “Err jadi kalo 21 minggu berapa bulan ya?” Terus dia nanya koleganya yang ada di counter sebelah. Lah mbak, kan tinggal dibagi 4 aja toh. 21 minggu dibagi 4 sama dengan sekian bulan -___-

Kemudian ia memberi saya formulir untuk ditandatangani. Secara cepat form tersebut telah ia isi, ceklist bahwa kita tidak akan menuntut maskapai apabila ada resiko kehamilan dan juga kita tidak akan merugikan maskapai dengan kondisi penerbangan penumpang hamil.  Saya diminta memberikan form tersebut ke petugas di gate Batik Air (waktu itu tentu saja saya di Terminal 2 Soetta). Easy.

Pulang dari Bandara Tanjung Pandan beda cerita. Saya bersama teman-teman check-in sebagai group. Tentunya saya standby karena hendak melapor kehamilan saya. Ketika saya tunjukkan surat keterangan dokter tersebut, saya diminta untuk mengecek kesehatan saya di KKP (Kantor Kesehatan Pelabuhan). Saya jadi kurang enak dengan group karena kami datang dengan waktu yang ngepas dan saya harus “diculik” dulu. Agak bingung sih sebenarnya, saya di Babel cuman 5 hari, lalu mengapa prosedur bisa begitu berbeda. Saya utarakan hal tersebut kepada petugas KKP, katanya surat dokter saya hampir berusia 2 minggu jadi sudah kelamaan sehingga harus dicek ulang tensi, suhu tubuh, dsb. Padahal kan kalau lewat 2 minggu pun usia kehamilan saya masih di bawah 28 minggu. Tapi ya sudahlah. 

Usai pemeriksaan kesehatan, saya mendapat form untuk layak terbang. Lalu ketika saya kembali ke counter check-in untuk menyerahkan form tersebut, ternyata teman-teman saya masih menunggu di sana. Waduh, jadi nggak enak. Mereka simpati sama saya hehe.

Penampakan hamil dari belakang di Pantai Tanjung Tinggi, Babel

Pengalaman kedua, saya naik Garuda Indonesia. Saya browsing mengenai aturan ibu hamil terbang di website mereka. Sepertinya easy peasy. Saya tes telepon call center, mereka juga tergagap ketika saya ingin menanyakan usia kehamilan untuk terbang. Lagi-lagi saya ditinggal petugas call center untuk memberi mereka waktu mencari informasi yang saya tanyakan tersebut. Bedanya dengan call center Batik, call center Garuda lugas menjawab tidak membutuhkan surat keterangan dokter (sampai di bawah usia kehamilan 32 minggu kalau tidak salah).

Saya datang ke Terminal 3, lapor di counter check-in lalu diarahkan untuk check-in di counter penumpang dengan kebutuhan khusus. Lalu saya cuma disuruh isi form dengan singkat (tulis data sendiri beserta tanda tangan) lalu langsung boleh masuk gate. Pulangnya juga begitu. Sepertinya kalau petugas lapangannya lebih tanggap dan terbiasa dengan ibu hamil.

Hanya saja, tidak ada perlakuan khusus juga tuh. Saya pikir kalau ibu hamil dan dapat seat di belakang akan dipindah ke agak depan hahahah. Nggak juga. Dan ketika naik Batik Air maupun Garuda sama-sama tidak ada petugas yang inisiatif membantu saya dengan koper cabin saya. Di kedua perjalanan tersebut, saya minta tolong atau inisiatif ditolong oleh penumpang lain yang melihat keadaan saya (kondisi seat mencar-mencar dengan teman kantor).

Oh, pas perjalanan pulang dari Belitung, Mbak Tunjung sempat bilang sih ada pramugari yang memanggil-manggil nama saya, sepertinya ingin membantu barang bawaan saya, tapi saya tidak dengar tuh karena saya duduk di seat yang agak belakang. Jadi tetap saja saya tidak merasa dibantu oleh petugas Batik Air maupun Garuda. Ditambah pengalaman repot saya pas turun dari pesawat, gataunya ga pake garbarata dan petugas cuma senyam-senyum aja lihat saya gotong koper turun tangga dengan perut yang mulai buncit.

Jadi, opsi yang paling baik bagi ibu hamil untuk melakukan perjalanan menggunakan pesawat terbang adalah tetap saja didampingi dengan suami :)

Udah kelihatan buncit hamil belum? 

Sunday, July 08, 2018

There once was a little boy who had a bad temper. His father gave him a bag of nails and told him that every time he lost his temper, he must hammer a nail into the back of the fence.

The first day the boy had driven 37 nails into the fence. Over the next few weeks, as he learned to control his anger, the number of nails hammered daily gradually dwindled down. He discovered it was easier to hold his temper than to drive those nails into the fence.

Finally the day came when the boy didn’t lose his temper at all. He told his father about it and the father suggested that the boy now pull out one nail for each day that he was able to hold his temper. The days passed and the young boy was finally able to tell his father that all the nails were gone.

The father took his son by the hand and led him to the fence. He said, “You have done well, my son, but look at the holes in the fence. The fence will never be the same. When you say things in anger, they leave a scar just like this one. You can put a knife in a man and draw it out. It won’t matter how many times you say I’m sorry, the wound is still there.”

Read more: Nails in the Fence: A Story About Anger


Sunday, March 11, 2018

(Kejadian ini berlangsung sudah cukup lama. Siapa tahu di kemudian hari ada part 2-nya)

Suatu malam di hari kerja urusanku sudah beres, jam menunjukkan pukul 20.25. Aku pun bergegas ke tempat parkir sembari menyusuri pinggiran Jalan Kemanggisan Raya yang macet itu. Tak lama ada langkah kaki kecil yang dengan gesitnya melewatiku dari arah bersebrangan. Cepat seperti angin.

Aku menoleh ke belakang untuk melihat gerangan yang baru saja melangkah sebegitu cepatnya. Kulihat anak kecil bertelanjang kaki dengan karungnya membuka tutup tong sampah dan mengais-ngais dalam tong tersebut. Aku pun melanjutkan langkahku.

Kepikiran.

Aku sudah begitu dekat dengan kendaraan hingga akhirnya aku memutar arah menyusuri jalan yang sama. Anak itu tidak terlihat lagi. Apa iya secepat itu meninggalkan Jalan Kemanggisan Raya ini? Aku bertanya pada Bapak-Bapak yang sedang duduk di warung pinggir jalan.

“Pak, lihat anak kecil yang bawa karung barusan lewat sini tidak? Pergi ke arah mana ya dia?”

“Oh anak kecil pemulung yang suka bawa karung ya Dek? Tadi kayaknya saya liat deh. Tapi saya nggak perhatikan dia ke mana. Memang dia jam segini jalan di daerah sini.”

“Baik, Pak. Terima kasih.”

Kususuri jalan itu sekali lagi. Dan ketika ada gang aku menoleh ke gang tersebut. Gotcha! Di sanalah dia lagi memilah tumpukan sampah.

Usai memilah sampah, dia berjalan keluar gang menuju ke arahku.
“Halo Dek, sudah makan belum? Makan yuk sama kakak.”

Dia memperhatikanku beberapa detik. Lalu menjawab “Boleh”

Ternyata di Jalan Kemanggisan malam itu rumah makan sedang tutup. Yang tersisa hanya tempat makan yang terang nan kekinian namun yang dijual hanyalah indomie, roti bakar, dan sebangsanya.

“Yang buka hanya ini , Dek. Pilih saja kamu mau makan apa. Kakak pesan minum saja, sudah makan koq”

Ia memilih indomie dan susu Milo dingin.

Dimas. Begitu dia mengatakan namanya usai memesan makanan. Dimas bersekolah kelas 2 SD dan tinggal di perkampungan pemulung di daerah Jakarta Barat.

Makanan datang dan aku mengutuk mengapa orang yang memasak hal sepele seperti Indomie saja tidak bisa. Mienya sudah mekar bagai sudah tergenang di mangkok beberapa jam. Melihatnya saja aku sudah tidak nafsu. Dan benar, Dimas tidak menghabiskan makanannya. Tapi dia menghabiskan Milo dinginnya.

“Maaf, Kak tidak habis. Udah kenyang”
“Ya. Tidak apa-apa. Apa rumah Dimas jauh dari sini?”
“Ya, masih lumayan. Tapi nanti dijemput Bapak”
“Dijemput di mana?”
“Nanti ketemu di tengah jalan. Bapak Dimas kan mulung juga. Nanti pasti ketemu. Tiap malam kayak gitu koq.”
“Kalau ga ketemu gimana?”
“Pasti ketemu koq.”
“Trus kamu tiap hari pulang semalam ini, besoknya kan sekolah. Apa nggak capek di sekolah?”
“Nggak koq. Kan Bapak pake gerobak. Jadi nanti kalo udah ketemu Bapak, Dimas tidur di gerobak sampe rumah. Biasanya juga udah ga bangun lagi, Bapak yang gendong ke tempat tidur.”

Jleb.

Langsung terbayang jaman aku macet-pacitan di daerah Jakarta, terus ga sengaja lihat Ibu2/Bapak2 yang dorong gerobak beserta anak-anaknya yang sedang tertawa-tawa senang di atas gerobak yang sedang didorong itu. Di tengah ibukota. Di tengah lautan motor dan mobil.

Mereka masih kecil hingga tak terlalu memusingkan mengapa orang lain bawa motor, bawa mobil, sedang mereka naik gerobak. Namun kalau sudah besar, mereka akan sadar dan lebih besar kemungkinan menjadi minder sehingga menutup pemikiran untuk maju dan bercita-cita. Begitulah biasanya lingkaran kemiskinan mengulang.

Di satu sisi, aku juga malu. Pada waktu itu aku lagi merengek ingin ganti mobil sedangkan bagi Dimas, dia tidak komplen gerobaknya merupakan kendaraannya yang bisa membuatnya tertidur pulas sembari ayahnya mengantarkannya ke rumah. Betapa aku termasuk kaum yang tidak bersyukur.

“Lalu bagaimana Ibumu? Dimas punya kakak atau adik?”
“Ibu sama Bapak sudah pisah. Ibu pergi dari rumah bareng kakak-kakak Dimas. Dimas anak paling kecil. Cuma Dimas yang tinggal sama Bapak. Semuanya ikut dengan Ibu.”

Aku udah speechless bagian ini. Ingin rasanya menangis. Tapi nggak mungkin lah depan anak kecil ini. Teringatku data-data perceraian di Indonesia yang tidak semuanya terdata. Karena bercerai, bahkan menikah pun butuh uang. Apa kabar bagi mereka yang miskin?

“Dimas, Kakak ada beberapa buku anak-anak. Kakak akan pinjamkan ke Dimas. Besok malam Kakak tunggu di Circle K ya dari jam 8 atau kalau Dimas sampe jam setengah 9 pun ga masalah. Kita juga bisa makan lagi”

Dimas tidak menjawab dan dia pun tidak menatapku. Pandangannya lurus dan seperti sedang mengawang-awang. Mungkin dia tidak tertarik buku. Mungkin juga dia pikir aku bohong. Mungkin dia akan datang. Atau juga tidak.

Esok malam, usai pulang kerja aku menunggu di Circle K dengan beberapa buku dan snack juga susu. Dua jam lebih aku menunggu hingga hampir pukul 10 malam. Dimas tidak datang.

---

Di pekerjaan baruku, saya punya harapan bisa berkontribusi dalam membantu atau bahkan meminimalisir Dimas-Dimas lain. Memang masih terlalu awal untuk mengatakan ini. Tapi tulisan ini juga sebagai pengingat mengapa saya berada di posisi sekarang, apa yang membuat saya termotivasi untuk bekerja lebih dan positif sekaligus optimis sebagai solusi dari Dimas. Semoga.

Thursday, February 22, 2018

Saturday, February 03, 2018

Lagi iseng browsing Youtube, nemu video ini:


Dream wedding gue banget ini siiiiiiih!!!!!

Ehm, yes, I’ve already married.

Throwback to my wedding day compared to that awesome wedding vid.

Pertama, venue. Saya suka banget pantai. Namun karena menikah di Tangerang jadi mustahil banget nikah di pantai (Pantai Tanjung Kait, anyone?)

Teringat dulu ceritanya bener-bener mau ngurus pernikahan berdua saja sama Faisal. Tanggal sudah ditetapkan. Kita nyari venue tiap weekend. Tiap abis survey, ditanyain laporannya sama Mamah dan kita selalu belum nemu yang pas. Akhirnya Mamah gemes sendiri, hingga beliau ngikut survey weekend berikutnya. Dan kita langsung deal hahahaha.

Kedua, tamu undangan. Pengennya siiih.. keluarga dekat dan teman-teman aja. TAPI KELUARGA AKUH BATAK. Ya gimana dong.. pasrah lah itu tamu undangan udah pasti paling banyak dari orangtua, mertua, sisanya penganten. Pasrah.

Ketiga, baju. Pengen sih saya pake gaun yang laid-back gitu macam di video kawinan di atas. Tapi baju adat saya juga suka koq. Jadi ga terlalu ekstrim lah ini. I still wore my dream wedding dress.

Keempat, ya wedding singer-nya lah! Gilak! Kalo kawinan saya dinyanyiin sama Jens Lekman bisa pingsan kali, trus bangun lagi, trus joget-joget lupa hari itu mau kawin. So damn lucky nih penganten YouTube. So sweet gitu lagi spouse-nya yang contact Jens Lekman. Mungkinkah suatu hari Faisal ngasih surprise kek gitu ke gua HAHAHHAHAHHAHA *baper.

Ada yang lucu sih tentang band di kawinan saya. Jadi dulu saya dan Faisal suka nge-date di mall-mall Tangsel dan kami suka liat band yang selalu bawain lagu The Beatles lengkap dengan seragam ala-alanya. Band-nya bawain lagunya bagus pokoknya spesialis The Beatles banget deh (lupa namanya siapa). Kita udah sepakat pengen pake band tsb pas kawinan. Namun pas disodorin paket Wedding udah include sama band yah akhirnya kita iyain aja (mureh).

Nah, saya diminta bikin playlist tuh sama EO-nya. Buat list maksimal 20 lagu kalo ga salah yang kemungkinan sih ngga akan dimainin semua. Sekitar belasan lah, jadi buat priority gitu. Hal tsb bagian yang menyenangkan sekaligus membingungkan. Untung saya anaknya masih Top 40 gitu kan, jadi ga Peer banget nyuruh anak orang latian lagu baru semua sampe 20 lagu hahahha.

Pas udah buat list-nya, saya liat request lagu saya ini terlalu beragam. Kan biasanya kalo kawinan tuh pilihannya antara pake grand piano atau acoustic-an gitar. Dari playlist yang saya buat, lagu-lagunya itu fifty-fifty: setengah bagusan pake piano, setengah pake gitar. 

Mengingat di venue tuh disediakan grand piano segede gaban. Otomatis saya berpikir nggak mungkin disia-siakan lah itu aset kawinan. Akhirnya saya memutuskan untuk memangkas lagu-lagu gitaran dan fokus sama lagu-lagu melodius yang cantik kalo dimaenin pake piano. Dan menyisakan satu lagu pamungkas di akhir, itu adalah.. “Rude”-nya Magic hahahahhaha.

“Saturday morning jumped out of bed..and put on my best suit..” Asik beet lah

Udah kasih note segala ini poko’e lagu pamungkas paporit penganten yang harus dimaenin pas akhir acara.

Mungkin si pemain band-nya pada bingung kenapa pake lagu itu ya, apa nih penganten ga direstuin orangtua hahahha bodo ah. Saya emang suka aja lagu itu. 

Dan seperti yang diduga, karena lagunya tuh banyak melodi yang putus-putus gitu kayak tet tet tet tet yang cuma enak kalo dimaenin pake gitar. Begitu dimaenin pake piano.. jadinya garing 

*antiklimaks*

Overall, despite all the imperfections of my wedding day, i still feel grateful for that day. The day when i married to someone I love, best partner in life God has given.


"If I had to choose a moment in time

To take with me into eternity
I would choose this,
This moment with you in my arms"

(Into Eternity - Jens Lekman)

Sunday, December 10, 2017

I feel very lucky whenever I get tired going back home from work, I still can smell and cuddle with my husband. Then I feel the most relaxing feeling in the world.

Suddenly “Your Arms Around Me” by Jens Lekman plays in my mind.




Sunday, December 03, 2017

Hola!

Mau update blog tapi nggak tahu mau nulis apa. Saking banyaknya kisah yang sudah terlewat lol. Life, work, marriage, relationships, feelings, self-development (ah ya, saya lagi tertarik dengan topik ini). Berhubung lagi bersihin bookmarks Chrome, nemu quote Good Will Hunting. Saya taruh di akhir postingan ini yaa.

Good Will Hunting, lupa lupa inget film tentang apa. Matt Damon yang nulis script sekaligus pemainnya. Duet sama sahabatnya, Ben Affleck. Kalau ga salah, tentang Will, orang jenius yang karena dia hidup sebagai kelas pekerja, orang2 pada awalnya meremehkannya. Hingga akhirnya dia ketemu mentor, seorang professor gitu. Konflik dengan sahabatnya, Ben Affleck and the genk. Dan Will yang socially awkward ini juga punya masalah percintaan. Doi menolak jadi vulnerable because of love. Semacam itu lah.

 “Sometimes I wish I had never met you, because then I could go to sleep at night not knowing there was someone like you out there.” 
― Gus Van Sant, Good Will Hunting

Friday, December 16, 2016

Pertanyaan sejuta dolar (kalau ada yang mau ngasih).

Sebagai pasutri menikah 2 tahun, saya lumayan mengalami berbagai situasi yang dihadapkan dengan pertanyaan di atas. Berikut sampel jawaban-jawaban yang bisa digunakan sebagai referensi. Ada yang berdasar kenyataan maupun referensi internet. Semoga bermanfaat.

Ini nemu di blog orang. Jawaban epic yang masih cocok diberikan sebagai respons ke orang yang lebih tua

Hong: Kong, Kapan kamu hamil?
Kong: Minggu depan, Tante. Kalau nggak hujan.
--

Jawaban kalau lagi nggak mood tapi masuk akal (banget).

Hong: Kong, Kapan lo punya anak?
Kong: Lah elo, kapan mati?

Sesungguhnya manusia lahir, menikah, hamil, dan mati adalah rahasia Allah. Jadi sah-sah aja sih jawab begitu. Ngerasa ditanya balik kapan mati kasar? Jadi kapan ngelahirin nggak kasar ya? Hmm, persoalan.
--

Dua jawaban epic itu belum pernah saya pake sih. Tapi mayan buat referensi kalo kepepet. Saya sendiri mengalami pertanyaan sejuta dolar itu beberapa kali. Yang berikutnya tanya jawabnya dari pengalaman pribadi ya :)

Mantan teman sekantor dulu pernah nanya one million dolar question tersebut 3 bulan sejak saya menikah.

MT (Mantan Teman) : Din, udah hamil belom lu?
SC (Saya Cantik) : Belom.
MT : Napa lo belom hamil? Sengaja nunda?
SC : Hmm, ya begitulah.
MT : LAAH NGAPA NUNDA?? KARMA LU nanti mandul ga bisa punya anak!
SC : ...

Tersinggung nggak? Iya, sedikit. Lebih banyak KASIANNYA sih sama orang narrow-minded kek gitu. Secara saya cantik dan pintar, jadi saya mengerti bahwa semua orang itu punya resiko dalam kehidupan ini. Mau nikah cepet nikah atau lama kek, hamil umur 16 atau umur 50 kek, resiko seperti mandul, keguguran, hamil kembar 6, melahirkan anak dengan kebutuhan khusus, dan  sebagainya adalah bagian dari roda kehidupan. Everyone has their own battle in marriage. So just keep your mouth shut because you don’t really know what other marriage couples have gone through.

Waktu masih tinggal di Karawaci, salah satu security menyapa gue,

Security (SC): Selamat siang, Ibu.
Saya (S) : Siang, Pak.
SC : Jam segini belum berangkat, Bu. Suami Ibu udah berangkat. Ibu kerja di mana?
S : Di Jakarta, Pak.
SC: Anaknya kok nggak dibawa, Bu?
S: Saya belum punya anak, Pak.
SC: Oh, maafkan saya, Bu. Saya nggak bermaksud menyinggung.
S: Nggak apa-apa (sambil senyum ramah, no hard feeling at all)
SC: Maafkan saya Bu
S: ....
SC: Sekali lagi maafkan saya, Bu. *sambil bungkuk-bungkuk*
S: .....

Udeh orang kayak gini nggak usah di apa-apain lagi dan nggak penting diceramahin. Dia beda frame sama kita dan entah kenapa dia udah nggak enakan duluan. Daripada gue komentar nambah rasa nggak enak dia, yaudah diriku berlalu dengan senyum saja. Maafkan aku juga, Pak.

Atau beberapa kasusnya seperti ini
Teman (T) : Din, udah hamil belom?
Saya (S) : Belum
Teman (T) : Gini nih caranya.. Pas lu gituan sama laki lo, posisi lu blabalala, atau balbala. Manjur dah!

Atau saran untuk gue perlu ke dokter secepatnya buat cek kenapa belum hamil juga setelah dua bulan menikah --“

Iyah itu pas awal-awal menikah gue masih polos. Dan kenapa yah kalau gue jawab “belum” dengan maupun tanpa kasih keterangan lanjutan terkadang masih aja dibahas di moment tertentu.
--

Akhirnya saya menemukan jurus (lumayan) ampuh untuk menghadapi situasi tersebut,
Question (Q): Din/Mbak, udah punya anak?
Answer (A): Belum Bu/Mbak/Cin AHAHAHA *itu loh ketawa awkward yang bener ketawanya kek baca teks AHAHAHA
Q: Kenapa?
A: AHAHAHHA
Q: Nunda ya?
A: AHAHAHHA
Q: ... (udah males nanya)

Lebih ampuh lagi kalo ada suami saya deketan. Jadi biasanya saya sama suami akan pandang2an sambil ketawa AHAHAHHA dan si penanya akan merasa awkward dan ganti topik AHAHAHHA.

Lebih sering juga, saya yang ditanya trus suami saya yang kebetulan lagi deket dan denger langsung jawab, “ini saya udah” sambil ngelus2 perut buncitnya. Suami saya tuh tuh sebel kalau di rumah saya panggil gendut, sekalipun dengan nada manja. Tapi di tengah2 orang untuk menghindari saya dari situasi awkward dia mengorbankan diri dengan memamerkan perut buncitnya di depan umum *terharu
--

Kalau lagi asik.
Teman (T) : Din, udah hamil belom?
Saya (S) : Belum. Mau namatin majalah Cosmopolitan dulu.
T : ?
S : 12 gaya bercinta dalam setahun. Jadi tiap bulan ada 1 gaya baru.
T : HAHHAHAHHAHABANGKEEEEE HAHHAHAHAan****%$I&^65w8745e67w

Btw ini majalahnya.


Saturday, June 21, 2014

Minggu, mama dan papa minta diajak ke tanah abang. Mau beli sarung untuk acara adat di rumah sekaligus cari juga buat THR karyawan. Kami bertiga berencana naik KRL (Kereta Rel Listrik atau yang biasa disebut commuterline). Pukul 10 kami melaju ke stasiun Rawa Buntu, parkir mobil, lalu membeli tiket KRL.

Ini pengalaman pertama mama papa masuk stasiun Rawa Buntu, biasanya mentok nganter saya di parkiran stasiun. Tak lama menunggu, kereta datang. Udah padat manusia, kami pun berdiri. Hehehe kasian juga sih bawa orangtua baru pertama kali naik KRL langsung nyoba situasi berdiri. Yah, tapi memang begitulah keadaannya.

Mama yang kayaknya antara shock sekaligus excited nggak henti-hentinya nanya ini itu ke saya mengenai situasi di dalam KRL. Hingga akhirnya seorang penumpang memberi tempat duduk ke mama saya karena sepertinya ia tahu mama perdana naik KRL. Hehe, thanks mbak.

Sampai di pusat perbelanjaan Tanah Abang, kami menuju basement 1 blok A. Putar-putar sebentar kami pun menawar 2 kodi sarung di sebuah toko yang bisa memberi harga yang paling miring. Nggak miring-miring amat sih, tapi dia kasih harga paling murah lah dibanding kios-kios lain. Nama tokonya Yassir, letak di Blok A Lt. B1 Los B No. 36 Tanah Abang.

Toko Yassir, sedia sarung, sajadah, baju koko, dll

Berhubung 2 kodi kain sarung itu banyak banget, masing-masing dari kita bertiga udah banyak tentengan. Tapi si mamah sempet-sempetnya nanya mamang-mamang sarung di mana tempat belanja nyari bahan. Eh buset, saya dan si papah liat-liatan dan langsung mencerahkan si mamah bahwa BAWAAN KITA UDAH BANYAK BANGET GITU LOH DAN INI NGANGKOT, EH NGRETA. Alhamdulillah, si mamah insyaf dan setuju untuk bergegas pulang.

Kami memutuskan naik bajaj ke stasiun Tanah Abang. Tarifnya 15 ribu (kalo dari pintu yang paling ujung). Cuma muterin satu blok jalan doang sih. Terus naiklah ribuan tangga menuju stasiun Tanah abang. Abis beli tiket buat mama papa yang antriannya puanjang rek, kita buru-buru masuk peron ngejar kereta menuju Serpong. Udah mana banyak banget bawa belanjaan, lari-lari ngejar kereta, eh pas udah tinggal lompat masuk kereta, saya dan mama baru nyadar,si papa dari tadi nggak ngikutin kita di belakang...

Saya langsung taruh belanjaan, buru-buru naik ribuan tangga dan menyapu pandangan ke sudut stasiun. Antara panik tapi geli. Panik karena hadeh bawa aki-aki ke Tanah Abang malah ngilang. Geli karena iya, ini ilangnya di stasiun Tanah Abang yang 2 menit lalu kita lari bertigaan ngejar kereta. Kalo ilang di stasiun Tugu Jogja atau di bandara JFK USA mungkin saya akan pusing setengah mati. Tapi ini di stasiun di daerah Jakarta yang si papah lebih paham Jakarta dibanding saya, Tanah Abang gitu. Hehehe.

Pas saya lagi scanning orang-orang di stasiun terlihatlah si papah datang menghampiri dengan muka tertawa geli. Saya tertawa balik. Kami buru-buru turun dan menghampiri mamah yang jagain belanjaan. Kami akhirnya keburu naik kereta dan tertawa terpingkal-pingkal sambil berdiri di KRL. What a shiny day..


Sunday, June 01, 2014

Tahun ini termasuk sering juga saya berkunjung ke Ancol.

Minggu kemarin tanggal 25 Mei, saya ke sana (lagi) bareng Faisal. Bangun jam 4 pagi, jemput Faisal, sampe Ancol setengah 7 terus kita lari pagi di EcoPark. Saya yang jarang lari dipaksa disemangati Faisal buat lari satu putaran. Lumayan yah, kelar lari mau muntah. Hahaha. Dasar saya nggak pernah olahraga, eh disuruh lari, bisa aja sih. Udahannya kayak orang sakaw.

Abis itu kita mandi di depan danau monumen (bukan di danaunya, tapi di toilet umum, dan terpisah juga pastinya, hahaha). Terus main ke Pasar Jatinegara nyari souvenir. Udah ada ide, tapi belum deal sih. Pulangnya, makan all you can eat di Hanamasa. Asiiik, abis dipaksa lari terus ditraktir makan. Terimakasih, sayaaaang (tapi itu kalori apa kabar ya?)

Selain Ancol minggu lalu, banyak juga sih Ancol-Ancol yang lain. Pertama kali kalo nggak salah, pulang dari kondangan siapaa gitu. Sama Faisal malas pulang. Bosen juga kalo main ke mall. Lalu kita memutuskan ke Ancol malam itu. Ke pizza hut. Hahaha. Ceritanya sih makan pinggir pantai, tapi makan pizza  -,-“

Terus, saya ke Ancol lagi pas arisan bareng teman-teman. Dora dapat arisan dan ingin berkunjung ke Sea World. Udah lama nggak ke sana, jadi seru aja sih.

haus kasih sayang gurita 

Lalu ada lagi Ancol yang mengawali persiapan kita menuju pernikahan. Aheeey.

Hari libur, saya punya voucher masuk Sea World (lagi-lagi Sea World, demen banget neng liat kuda nil). Kelar pacaran di Sea World dan ditontonin ikan piranha (iya, ikan piranhanya yang nontonin kita hahaha), kita masuk Ocean Dream yang banyak pertunjukan hewannya.

romantisme ocean dream

Ngga semuanya bagus. Ada juga yang kurang cucok kalau ditonton bocah-bocah. Lawakan si pawangnya kurang edukatif, bikin jengah. Masak seolah-olah make-out gitu sama anjing laut. Cih. Yang seru sih liat pertunjukan lumba-lumba sama putri duyung yang aslinya perenang handal. Jadi ada jalan ceritanya gitu, kerajaan bawah laut mau diserang sama gurita raksasa. Lalu lumba-lumba bantuin ikan duyung berjuang melawan pasukan gurita yang jahat. Yah, begitulah. Visually amusing ;)

Abis itu, kita jalan-jalan bentar di pantai daaaannnn, jeng, jeng, jeng, acara utamanya berlangsung di Pizza Hut Ancol (lagi?). Abis pesan makan, Faisal dan saya mengeluarkan buku notes kita masing-masing. Apa sih isinya?

Isinya adalah 100 hal yang pengen kita lakuin even after we’re married.

The List
2 bulan sebelumnya,
F: “ih,100 ga kebanyakan?”
D: “ya nggaklah, kan biar nggak ada yang kelewat. Awas lu. Wajib kerjain secepatnya!”

6 minggu kemudian,
F: “list gue udah selesai nih. Lu udah kan?”
D: “belom. Dear, 100 banyak amat. Nulis apaan yak isi list-nya?”
F: “yeeeh kan gue udah bilang. Lu yg nyuruh juga. Isi aja per sub bab. Kayak ttg marriage, mimpi lu, ttg rumah, anak, dll”

Akhirnya selesai bikin list dan mau kita reveal persamaan dan ketidaksamaan.

Saya sudah bilang sama Faisal sebelumnya, kalau-kalau saya agak menyesal juga mengusulkan hal macem bikin list gitu. Takut menyulut amuk massa. Secara dari 100 list yang saya tulis, apa Faisal akan mengatakan “yes” atas semua poinnya. Kecil kemungkinan. Begitu pula sebaliknya.

Eh tapi ternyata, revelation itu berlangsung cukup cepat. Meeennn, dari 100 poin itu ada kali setengahnya Faisal menulis hal yang sama. Dari yang penting bangeeeet, kayak gimana karir saya ke depan setelah saya jadi Ibu sampe yang penting aja, kayak sama-sama pengen ketemu Doraemon dan melihat aurora.

cuplikan the list

Amazing yah. Jalan bareng selama 3 tahun lebih, ternyata kami menjelma jadi satu sama lain (bingung ga?). Saya banyak terpengaruh sama Faisal, pun sebaliknya. Mungkin makanya kalau orang yang sering bersama-sama, jadi terlihat mirip mukanya (kata orang, jodoh mukanya mirip). Kalau muka saya sih ga mirip sama Faisal. Tapi ada sesuatu dari diri saya yang jadi menyerupai dirinya. Begitu juga sebaliknya (harus dong, hohoho).

Sebelum menutup malam yang cukup memberikan insight tentang masa depan kami, saya menaruh 1 poin yang bisa diwujudkan dalam waktu dekat di list terakhir: saya ingin dilamar.

“Hmmm, mungkin abis lebaran ibu gue baru bisa dateng.” Sambil mukanya serius banget mikir. Saya jadi ga enak meng-interrupt. Padahal sih, maksud dilamar itu maksudnya yang kayak klise-klise gitu lohhh. Kayak di film-film. Pake ditanya,“WYMM?”.

Yah, jadi sayangku kalau dirimu baca tulisan ini, ada tuh satu mimpi aku yang bisa diwujudkan dalam waktu dekat. Lamar aku, in a proper way.  

Saturday, May 17, 2014

Hubungan perpacaran ini naik satu tingkat ke level yang lebih serius. Horeee...

Gimana semua ini berawal? Jadi pada suatu malam, saya mengendap-endap ke kamar Faisal sambil membawa pisau. Lalu ku arahkan ke lehernya ketika ia sedang tertidur, “Lu mau gua gorok atau mending kawinin gua akhir taun 2014?” dia milih ngawinin saya 2014.

Nggak deng. Semua ini berawal dari... saya. Iya, saya pengen nikah. Judul awalnya sih, nikah sama siapa aja nggak penting. Saya pengen berkeluarga. Prioritas utama ya sama pacar saya lah. Kebetulan dia mau. Semenjak itulah drama menghampiri hubungan kami dengan intens.

Awal 2014 ini sih tepatnya. Semenjak saya tahu saya ingin menikah, tetiba radar saya sensitif banget. Selalu berpikir, “Apa dia orang yang tepat? Kriteria seperti apa sih orang yang saya ingin jadikan suami? Dst. Dst.” Dari situlah standar saya.. naik.

Saya banyak komplain sama orang yang udah saya pacarin 3 tahun lebih ke belakang. Hal-hal tentang Faisal yang saya toleransi sebelumnya, jadi masalah buat saya. Ini itu sedikit saya ngambek. Bumi jadi gonjang-ganjing. Saya jadi punya kriteria tersendiri tentang suami idaman. Dan dia.. menerima.

!!!

Saya sendiri nggak percaya dengan apa yang saya dengar. Saya nyaris meminta dia untuk ngubah kepribadian loh. Yang mana permintaan itu benar-benar bagaikan pedang bermata dua. Kalau dia ga mau nurutin keinginan saya, wes bye-bye. Kalau iya dia mau nurutin saya, saya juga kecewa berat. Kenapa? Saya ingin laki-laki yang punya prinsip. Meski saya tukang ngatur, saya nggak ingin mengatur laki-laki (sedemikian rupa, tulisan ini bisa disadur kemudian hari, iya saya senang mengatur sebenarnya). Saya ingin dipimpin laki-laki. Saya nggak suka lelaki loyo, sujud di hadapan wanita. Saya ingin pria berkarakter, lelaki yang kokoh. Yang ada atau tidak ada saya, selalu bisa menjadi versi terbaik dari dirinya.

Jadi mau saya apa sih? Mungkin suami idaman saya itu Bruce Wayne alias Batman.

Setelah urusan berantem itu beres. Pacar akhirnya meyakinkan saya secara logis bahwa dia loh laki-laki itu. Datang lagi badai yang lain. Pacar saya, ehm, melanggar prinsip saya yang lain. Yang dia yakin, saya belum pernah mengatakan aturan main prinsip saya tersebut. Hellooooww... saya pikir hal itu aturan main utama dalam menjalin hubungan saya sejak awal. Mengetahui Faisal melanggar prinsip dasar tersebut di tahun keempat kami pacaran benar-benar bikin saya patah arang. Saya minta putus.

Faisal saat itu tengah mengerjakan (tepatnya memimpin) proyek di kantornya. dia harusnya sedang fokus. Setelah beberapa kali permintaan putus dan penolakan putus, akhirnya dia sms: “Kalau hanya ingin berpisah, jangan datang malam ini. Karena besok hari penting buat gue, please jangan lu rusak.”

...............

Sediiiiiiiih banget baca sms itu.

Karena, saya nggak pernah berniat ngehancurin hidup Faisal walau hanya satu detik. But i did.
Teringat pepatah “Jangan sengaja pergi agar dicari. Jangan sengaja lari biar dikejar. Berjuang tak sebercanda itu.”

Saya tidak dalam posisi itu. Sengaja pergi agar dicari, sengaja lari biar dikejar. I kid you not. The truth is, I love him. I do. Dan yang saya pengen dari Faisal ialah, dia happy. Terutama dari itu, saya pengen Faisal maju. Saya nggak pernah pengen sekalipun jadi batu penghalang dalam hidup dia. Dan hal terakhir yang paling tidak saya inginkan adalah melihat Faisal sedih. Saya pengen jadi pelangi di langitnya setelah hujan reda. Saya pengen jadi oase di tengah padang gurun yang gersang. Saya ingin jadi lebah yang membantu putik menemukan benangsarinya. Saya bisa menemukan ribuan pengandaian kalau saya ini, diri saya, hanya ingin membuat hidup dia lebih.. ah apapun kata-kata positif yang tertanam di benak Anda, para pemirsa.

Jadi malam itu saya menemuinya. Saya cukup gemetar mengingat saya menyadari bahwa saya amat menyayanginya sehingga membantu saya untuk menyampingkan semua ego saya. Faisal yang nggak tahu saya datang malam itu untuk berdamai, tampak grogi juga. Setelah pembicaraan singkat malam itu, kami sama-sama tersenyum. Dan dia kembali dengan terburu-buru untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Saya tahu, saya siap. Saya ingin berjuang bersamanya melebihi hari ini, melebihi hari-hari yang telah lewat.

Dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Saturday, May 10, 2014


Hi. Drinking lunch on a school day?  That's a nice surprise.  Are you nervous about tomorrow night?

-- Not really, no.

Well, um, are you going to talk to me or should I get my paper out?

-- No, no, I'm going to talk to you.

Right.  What are you going to talk to me about?

-- I'm going to talk to you about whether or not you want to get married to me.

(laughing)

--I'm serious.

Yes, I know.

-- Well, thanks a freakin' bunch!

I'm sorry, but two days ago you were making tapes for that girl from the Reader.

-- Yeah.

Well forgive me if I don't think of you as the world's safest bet.

-- Would you marry me if I was?

What brought all this on?

-- I don't know.  I'm just sick of thinking about it all the time.

About what?

-- This stuff.  Love and settling down and marriage you know - I wanna think about something else.

I changed my mind.  That's the most romantic thing I've ever heard.  I do.  I will.

-- Just shut up, please, I'm trying to explain, okay?  That other girl, or other women, whatever, I was thinking that they're just fantasies, you know, and they always seem really great because they're never any problems, and if there are they're cute problems like we bought each other the same Christmas present or she wants to go see a movie I've already seen, you know?  And then I come home and you and I have real problems and you don't want to see the movie I wanna see, period.  There's no lingerie...

-- I have lingerie!

Yes you do.  You have great lingerie but you also have cotton underwear that's been washed a thousand times and its hanging on the thing and ... and they have it too just I don't have to see it because it's not the fantasy ... do you understand?  I'm tired of the fantasy because it doesn't really exist and there are never really any surprises and it never really...

-- Delivers?

Delivers.  Right.  And I'm tired of it and I'm tired of everything else for that matter but you'll never see me get tired of you ... so ...

-- I think I know what you mean, but were you really expecting me to say yes?

I don't know.  I didn't think about it, really.  I thought asking was the important part.

-- Well, you asked.  Thank you.
12 Januari 2014 kemarin, salah satu sahabat saya, Venesia Fitriana Daud, melangsungkan pernikahan. Hahaha sori, Nes, baru nulis sekarang.

Akhirnyaaaaaa dari kami satu geng arisan berdelapan, ada yang menikah juga. Horee, setidaknya membuka jalan yah, ikatan jomblo-jomblo arisan ini (eh, gue ga jomblo sih, tapi dari 8 orang cuma 2 yang taken. Monggo laki-laki soleh kalau mau dikenalin, bisa contact saya).

Sebenarnya kita tuh bukan nggak laku, terlalu pemilih aja. *self-esteem meeeen*

Temen saya si Pito alias Vidia, udah ditembak ribuan pria dari jaman SMA, ditolak semua. Ada apakah? Hanya pito dan Spongebob yang tahu. Sekarang dia lagi sibuk berpartisipasi programnya Anies Baswedan, turun tangan. Yak silakan kalo beruntung bisa berkenalan dan dapatkan hatinya. Hehe

Si Naila, sibuk jadi playgirl. Mungkin dia terlalu takut dengan kenyataan akan relationship yang sebenarnya *sotoy*. Tongky, terjerat dengan lelaki yang lebih tua, sayang udah taken. Anya, manis tapi cuek. Sepertinya dia terlalu lamban memberi respon sama pria-pria yang dekat sama dia kalau mereka ingin lebih dari sekedar teman. Dora a.k.a Rizka, sedang mencari pria unik yang bisa melengkapi jiwa mudanya meski usia tidak lagi muda. Ajeng, tampak masih berusaha move-on dari mantannya. Absen, absen, yak udah semua sih ringkasannnya. Balik ke cerita Nesia.

Tanggal 1 Januari 2014, kita persembahkan arisan buat bachelorette party-nya Nesia.  Kita udah beliin Nesia  bra dan CD satu set. Pas di Gramedia Bintaro Plaza, kita mau nulis kartu ucapan dan minjem pulpen yang dijual, hahaha, dan ada mbak-mbak yang liat. Langsung ga bolehin. Yah mbak, pelit amat cuma buat nulis paling banyak enam baris, hehe. Peace.

Bachelorette party-nya bertempat di karaoke. Standar yah. Maklum, baru pertama kali sih. Lain kali harus lebih hebring nih ibu-ibu. Pake dress code kali yah. Pas lagi nyanyi lagu Christina Perry yang 10.000 years, kita kasih deh tuh beha dan sidi secara simbolis sebagai bekal malam pertama nanti *terharu*

seremoni penyerahan beha dan sidi

Pas hari H acara kawinan, banyak dramanya. Terutama karena hujan badai. Kita berlima berangkat dari rumah saya. Saya, Naila, TQ, Dora, Fira jalan pas maghrib. Dan Jakarta lagi hujan gede banget dooong. Plus angin kencang, bikin hati deg-degan. Dan ini bawa teman-teman masih bercanda ria aja lagi sedang hati saya berdegup kencang waswas takut kenapa-napa nih mobil isinya cewek semua.

Wanti-wanti, “Guys, gue ga bisa jamin kita nyampe Kebayoran Lama nih. Kalo ternyata banjir parah,apa boleh buat keputusan terbaik adalah muter balik. Pulang”

“Atau nggak, kita ke Gancit aja, Nek. Gue mulai laper.”

“Iya, gue setuju,” yang lain ikut nimpalin

Nesia, maafkan kami telah durhaka padamu.

Tapi akhirnya dengan drama alam yang dramatis, kita tiba juga di kawinan lo. Ha! Bergabung dengan Pipito dan foto-foto. Happy wedding, Nesiaaa.. semoga langgeng sampe kakek nenek dan soon to be hot mommy. Smooches <3>


Saturday, January 04, 2014

Lagi seneng denger dan liat video ini. Lagunya enak dan ceritanya simpel. Tentang orang baru-baru jatuh cinta. 

Dalam kondisi saya yang udah lama berhubungan sama pacar saya dan umur juga mulai tuwir terkadang lupa aja sama hal-hal kecil layaknya orang baru jatuh cinta; gombal-gombal sayur dan sejenisnya. Sekarang mah yang diomongin “Dear kapan aku dikawinin? Malu aku pacaran lama-lama. Pendapat orangtuamu? Inflasi pendidikan kalo udah punya anak gimana ya?” dsb dsb. Ibarat lagu, udah epic banget macam making love out of nothing at all-nya Air Supply jejeritan antara hidup dan mati *lebay.

Eh iya, sebenernya ada kisah dibalik kenalnya saya sama lagu Falling In Love At A Coffee Shop ini. Jadi dulu pas saya kuliah masi bloon unyu-unyu gitu, masih banyak energi untuk tergila-gila sama fotografi. Di tengah melakukan tugas jurfo alias jurnalisme fotografi dengan motret bocah-bocah Bandung yang suka jualan cobek segede gaban di jalan Riau, seorang senior saya di kampus tetiba lewat dan menghampiri saya. Dia ngasih tips buat saya gimana enaknya motret bocah-bocah itu.

Abis motret bocah, saya diajak ke CCF Bandung (sekarang namanya IFI, Institut Francais Indonesia) untuk nonton film tentang perjalanan karir The Beatles (kalo ga salah, saya agak lupa detail tentang ini). Kelar nonton, saya diajak ngopi di kedai kopi CCF. Kami ngobrol tentang hmm, apa ya, seni kali ya. Sotoy-sotoy gitu lah gua. Ga ada firasat apa-apa.

Setelah itu, si senior suka menghubungi saya dan akhirnya dia nyuruh saya dengerin lagunya Landon Pigg – Falling In Love At A Coffee Shop. Eh ternyata lagunya bagus ya. End of story. Hehe

Kalo ngga dikenalin sama senior saya tersebut, kecil kemungkinan saya tahu lagu ini. Secara penyanyinya ga terkenal, apalagi namanya ada pig-pignya gitu *ga penting.

Bagi yang lupa rasanya jatuh cinta, monggo dengerin dan liat videonya manatau berasa lagi tuh geli-geli di perut (butterflies in stomach maksudnya). Enjoy!



Versi live-nya juga oke.




Sunday, December 29, 2013

Setelah hiatus berbulan-bulan.. saya kembali nge-blog. Haha! Maafkeun. Kasian kamu, blog.

Ada kabar apa dari dunia saya?
Muka? Cakepan. Pacar? Masi sama. status? Masi sama (ga dilamar-lamar T__T). Kerjaan? Beda.

Bahas yang beda aja lah yah..

Well, not so much to tell. Berhubung baru oktober akhir gue pindah kerja. Sekarang, alhamdulillah banyak dikelilingi orang-orang yang inspiring. Yang ngeselin bikin hati bergejolak ngajak perang? Ada juga. Bagus lah, ada angels ada devils juga. biar hidup gua balance. Kalo kata trainer gue Pak Satya kerja tuh harus “happy = productive” dan pacar gue ga pernah nyeramahin gue tentang gimana-gimana, cuma selalu ngingetin pagi-pagi “don’t forget to smile”. Alhamdulillah, those kind of positive energy that keeps me going.

Ohiya, sebentar lagi taun baru. Gue pas main ke toko buku di Teraskota beli jurnal kosong gitu. Ceritanya mau gue bikin dreams journal. Bukan jurnal mimpi pas tidur yah. Tapi mimpi target gue yang harus gue capai per bulan kek, triwulan, semester, taun, and so on.
penampakan si journal

Emang gue demen banget dah sama nyatet-nyatet kejadian, plan dll (walau masi kurang disiplin ngelaksanain plan tersebut, i try to). Dulu pertama kali punya diary waktu SD. Nggak tau sih sekarang udah kemana tuh diary. Kalo diary SMP sih masih kesimpen. Isinya cuma tentang pusing pelajaran, jajanan enak di sekolah, chiki-chiki kesukaan, dan cinta monyet gue hahahah. Kadang kalo lagi pengen nulis masi gue lanjutin tuh diary aneh.

Pas kerja, punya agenda yang penuh catetan sana-sini. Dan hari Rabu kemarin, diriku merasa sekarang saat yang tepat untuk bikin dreams journal. Terinspirasi dari Summarecon, Sinarmas Land, dan developer hebat lainnya yang walaupun udah bikin masyarakat Indonesia makin konsumtif tapi bener-bener jadi contoh nyata kalo kita bisa desain mimpi kita sendiri dan bener-bener mewujudkannya sama persis (random abis y?).

Gue keinget aja gitu dulu BSD (Bumi Serpong Damai) belom kayak sekarang, cuma brosur-brosur yang disebarin marketing supaya orang-orang mau pindahin kehidupannya kesini, hutan karet yang disinyalir bakal jadi hunian kaum urban. dan bener-bener terwujud, kalo mau dibilang profesional, apa yang dijanjikan brosur sama kenyataannya adalah persis sama.

Yes, we can do, have, and be exactly what we wish.

Semoga diriku bisa makin rajin nge-blog yah. Begitu pula dengan pembaca setia blog ini. Inget aja sama Kartini. Pahlawan wanita di negara ini  begitu banyak, tapi yang paling tenar seantero itu beliau. Kenapa? Asumsi gue sih karena dia yang paling banyak menulis. Kisah hidup beliau, kejadian sejarah, situasi sosial politik, aksi maupun emosi beliau paling komplit terdokumentasi. Menulis bisa buat perbedaan.  So, see you on letters, folks!

Sunday, April 07, 2013

(Masih dalam suasana long weekend, ditemani akang John Mayer sebagai playlist sepanjang hari.)

Kamis malam minggu lalu sepulang kerja, saya bersama mama papa menuju Bandung. Menginap barang semalam untuk menikmati cipratan long weekend. Mama papa memang selalu libur tiap hari Jumat. Saya sih sabtu minggu. Berhubung Jumat tanggal merah, kami memutuskan berlibur saja.

Mumpung baru gajian, saya booking kamar di Amaroossa Hotel jalan Aceh no.71A Bandung via Raja Kamar. Rate-nya 685K. Walau kerja di bank, tapi belum punya kartu kredit dan belum manfaatin internet banking. Alhasil pas dapet email raja kamar, time limit bayar 15 menit, langsung tancap gas ngebut ke ATM terdekat. Haha riskan sekali sodara-sodara.

Berangkat dari rumah jam setengah 8 malam, eng ing eng, sepanjang BSD sampe menjelang Cikampek macet doong. Hahah nasib. Sampe Bandung jam setengah satu pagi. Hmmm. Tidur sampe pagi. Abis sarapan yang makanannya menurut saya enak-enak, saya nyari kolam renang. 


sarapannya ada menu sushi segala loh. yum..yum...


Mau renang. Eh ternyata pool-nya lebih buat kids gitu. Ada sih yang “agak” dalem, tapi itu juga pendek jarak tempuhnya. Haha garing. Ga jadi renang deh.

Photos of The Amaroossa Hotel, Bandung
This photo of The Amaroossa Hotel is courtesy of TripAdvisor

Leyeh-leyeh aja sampe  waktunya check-out. Kuajarin si papah jalan ke mesjid istiqomah. Maksudnya nunjukin jalan di Bandung yah hehe. Saya si mamah check-in ke Heritage dan Cascade. Pake acara ditilang lagi gara-gara dari jalan Banda langsung belok kiri masuk Jalan Riau tanpa ngikutin traffic light. Ilang dah 100rb. Yah ikhlasin aja lah. Emang salah.

Jam 2-an cari makan di Sambara, pake waiting list. Huh. Abis dari sana, udah deket dong sama Pasteur alias tol pulang. Jadinya belanja cemilan di rest area pasteur yang ga jauh dari gerbang tol-nya itu hehe. Pulang lah lancar jaya. Short escape with parents.
 
Oh iya, ini kira2 kamar yg kita tempatin. enak lah buat tidur nyenyak. saya sih kemungkinan akan ke sini lagi bersama suami dan anak2 saya *review ala2 trip advisor, sambil ngayal, kawin aja belom :p

Tuesday, February 12, 2013

in your twenties you dress for men, in your forties you dress for success, in your eighties you dress for a bathroom. 
   (Hot in Cleveland - Pilot)