Sunday, February 15, 2009
Nun aneh jauh di sana, ketika teman-teman heboh dan bergelora terhadap kaum muda alias jurnal-jurnil yang baru saja resmi bernaung di bawah payung hmj, saya malah diresahkan dengan… perasaan-perasaan di luar itu, sesuatu yang bukan termasuk ranah esensi oje, hehe.
Monday, February 02, 2009
Enak juga yah, klo jadi kepala negara gitu bisa merealisasikan sikap tegasnya sama Israel. Lah saya, hanya bisa mengutuk-ngutuk di depan kotak ajaip berwarna. Ah saya bangga sekali dengan kepala-kepala negara yang bisa menyuarakan kata hatinya tanpa takut dengan tetek bengek Amerika maupun Eropah. Turki, Iran, Venezuela, dan lain-lain. Nice job!
Thursday, January 01, 2009

“Lewat aransemen yang dramatis bagaikan scoring sebuah film yang belum dibuat, Ports of Lima adalah album untuk segala macam suasana hati,” tulis Rolling Stone dalam edisi Desember 2008.
Terlebih lagi, album Ports of Lima ini menempati peringkat pertama diikuti dengan album Top Up-nya Nidji dan beberapa band lokal terkemuka lain seperti Peterpan, Andra and The Backbone, dan lain-lain.
Ports of Lima yang dirilis pertama kali oleh Aksara Record tanggal 11 April 2008 mendapat banyak pujian dari para kritikus musik. Bermodalkan 13 lagu, album kedua Sore memang patut diacungi jempol. Selain lebih banyak memasukkan distorsi pada gitar, album ini juga lebih personal dari album sebelumnya. Memang, beberapa lagu dalam Ports of Lima terinspirasi dari pengalaman pribadi para personel Sore. Beberapa lagu lainnya terinspirasi dari film. Simak saja "Essensimo" yang terinspirasi dari film Truffaut's 400 Blows, "400 Elegi" yang terinspirasi film Lynch's Elephant Man, dan lagu "Come By Sanjurou" (terinspirasi film Kurosawa's Sanjurou).
Sebelumnya, album pertama mereka yang bertitel Centralismo (2005) dinobatkan sebagai “One of 5 Asian Albums Worth Buying” versi majalah Time pada 12 September 2005.
"Sore's musical products are a pastiche of several genres gleaned enthusiastically from listening to and experiencing the music of the various decades of the 20th century, and culminating in what can only be described as ""collage rock"", a totally new, totally exciting sonic experience." (Jakarta Post 2005)
Uniknya, tidak ada vokalis utama dari band ini. Sore terbentuk pertama kali tahun 2001 dengan formasi Ade Paloh (guitar, vocal), Mondo Gascaro (piano, keyboard, vocal), Awan Garnida (bass, vocal), Gusti Pramudya (drums, vocal) Reza Dwiputranto (guitar, vocal). Spidolbiru menyaksikan penampilan live Sore terakhir kali yakni pada acara Simphonesia di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Bandung akhir November lalu. Dan terbukti, Sore memang brilian!
Sumber:
http://www.rollingstone.co.id/index.php?m=rs&s=news&a=view&cid=36&id=49
http://www.facebook.com/home.php#/pages/SORE/18706426966
Wednesday, December 31, 2008
Taun baru ini saya di rumah aja. Dan sekarang beberapa menit menuju pergantian tahun. Mari membuat sebuah agenda resolusi. Sebetulnya saya nggak pernah buat tapi nggak ada salahnya juga sesekali ingin berbeda dari biasanya.
Pinginnya di 2009, saya..
1. Solat 5 waktu (ayoo bawa mukena kemana-mana)
2. Nggak cengeng lagi
3. Lebih gape main piano
4. Memperluas khasanah di dunia musik (bc: download lagu lebih lebih lebih banyak lagi hahhaa
5. Bisa renang!
6. Bung nabung
7. Mengunjungi Anya ke Surabaya
8. Nggak sekebo dulu
9. Bisa jaga porsi makan (halah)
10. Nggak kebobolan absen kuliah seperti semester sekarang
Eh yaudah deh.. sekarang udah pukul 00.18. wes saya posting yaa. Met taun baru, kawan-kawan. Jangan lupa berdoa dan berharap kebaikan. Cheers!
Monday, November 10, 2008
Mm karena oje ini sifatnya sakral dan saya juga tidak ingin berpartisipasi memberi bocoran bagi para calon jurnal-jurnil generasi berikutnya maka saya tidak akan menceritakan secara detil kronologis peristiwa Jumat lalu.Friday, October 31, 2008
Imagine there's no countries
It isn't hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace
Penggalan bait dari lagu John Lennon di atas, “Imagine” yang direkam pada tahun 1971 sampai saat ini masih sering dijadikan anthem bagi gerakan anti-agama dan anti-perang. Lagu tersebut muncul dalam film les 24 heures de la television atau 24 Jam TV.
Film yang diputar oleh Centre Culturel Francais (CCF) Bandung menampilkan cuplikan wawancara tokoh-tokoh yang membawa perubahan kebudayaan di Eropa mulai tahun 1948 sampai dengan 2008. Mulai dari band atau musisi yang membawa apa yang dinamakan British Invasion pada masa itu semisal The Beatles, The Rolling Stones, U2, The Clash sampai pelukis Pablo Picasso.
Film Prancis yang berdurasi 45 menit ini didominasi warna hitam putih di mana memang pada masa awal visualisasi televisi belum berwarna seperti sekarang. Sayangnya, teks berbahasa Inggris yang muncul menggunakan warna putih sehingga tidak terlalu jelas dilihat penonton. Meski begitu, unsur humor tidak ketinggalan dimasukkan ke dalam film.
Saat untuk melongok kembali sejarah, banyak terekam momen yang menyentuh, lucu maupun mengejutkan. "Banyak peristiwa penting yang menarik untuk diketahui dan kita juga dapat melihat perkembangan pertelevisian Prancis dari tahun ke tahunnya," jelas Penanggung Jawab Bidang Budaya yang juga menangani media, Windiana Mutiasih, yang akrab dipanggil Windi ketika diwawancara di lobi CCF.
Hari Audio Visual Internasional
Sejak 2007, tanggal 27 Oktober ditetapkan sebagai hari internasional warisan budaya bidang audiovisual. Dalam kesempatan tersebut dan untuk keempat tahun berturut-turut di Bandung, CCF menayangkan arsip audio visual yang diputar dengan beragam kategori acara televisi yakni politik, olahraga, musik, dunia, fiksi dan kemasyarakatan (societe).
Program ini dipersembahkan oleh Institut National de l’audiovisuel (INA)
atau Institut Audiovisual Nasional Prancis. Fim les 24 heures de la television ditayangkan dua kali yakni Sabtu, 25 Oktober dan Senin, 27 Oktober. “Biasanya ditayangkan satu kali saja tapi tahun ini kita tayangkan dua kali,” ujar Windi.
Pada pemutaran film hari pertama dengan segmentasi mahasiswa dan umum, terdapat kuis di akhir film. Sepuluh hadiah menarik juga dimasukkan sebagai bagian dari pancingan agar penonton, siswa CCF khususnya, menikmati film dan mencerna jalan ceritanya dengan baik. “Kalau buat umum kan mereka bisa melihat perkembangan kebudayaan di Eropa. Sedangkan untuk mahasiswa yang sedang belajar bahasa Prancis bisa buat applicate melatih pendengaran, memperdalam percakapan, dan pronounciation bahasa Prancis. Nah yang hari kedua, kita khususkan untuk pelajar SMA yang belajar berbahasa Prancis,” lanjutnya.
Tampaknya tujuan tersebut tercapai. Pukul 14.00 WIB CCF Bandung atau yang terletak di Jalan Purnawarman no. 32 dikunjungi oleh orang-orang yang bermaksud menonton pemutaran film gratis. Auditorium CCF yang berkapasitas 220 orang terisi lebih dari setengahnya. Ruang pertunjukan yang dilengkapi dengan tata suara, proyektor video 16 mm, tata lampu, AC, semi-grand piano Yamaha, dan ruang rias tersebut memang sering digunakan untuk pertunjukan, seminar, dan diskusi.
Misi Budaya
CCF Bandung mempunyai misi kebudayaan yang non-profit. Lebih lanjut Windi menjelaskan CCF berada di dalam naungan Kedutaan Prancis di Indonesia. Dalam menjalankan misi budaya dibutuhkan dana yang besar seperti mendatangkan INA dan mengumpulkan rekaman perkembangan budaya di Prancis.
INA adalah sebuah lembaga di Prancis yang menyimpan atau bank gambar yang merekam semua gambar-gambar yang terjadi di dunia pertelevisian. Penayangan film les 24 heures de la television merupakan komunikasi yang terjadi antara INA, Menteri Luar Negeri Prancis, dan Kedutaan Prancis di Indonesia. CCF sebagai solusi dalam menayangkan film kepada publik.
Dari tahun keempat CCF menayangkan film produksi INA tersebut, tema tiap tahunnya selalu berbeda. Tahun lalu tema film yang diusung mengenai politik di Eropa sedangkan tahun ini khusus mengenai budaya. “Dengan adanya pemutaran film ini, kami ingin meningkatkan dan juga memberikan gambaran mengenai sejarah audio visual di Eropa pada umumnya, Prancis pada khususnya,” tutur Windi.
Salah satu pengunjung, Satrio Rinaldi, yang menyaksikan pemutaran film meninggalkan komentarnya, “Seru juga sih filmnya dari gambar hitam putih di awal jadi berwarna di tengah-tengah. Tapi karena nggak ngerti bahasa Prancis jadinya sempat ngantuk juga. Hehehe”.


