daily thoughts and activities

Sunday, February 15, 2009

dua postingan sebelumnya membicarakan hal yang berbeda. tentu saja, sensasinya juga beda.

hmm.. jadi pengen make jaket

Oje sudah selesai. Ga nyangka udah terlewati semuanya. Kontribusi saya sejauh ini tidak cukup besar mungkin di banding teman-teman yang lain tapi lumayanlah. Menjadi bagian dari tim getting desk lifestyle, saya getting malas bukan kepalang. Di kepanitiaan sosialiasasi oje, saya berada di divisi publikasi. Kemudian di pra oje jadi dokumentasi dan pada oje-nya beralih jadi logistik. Wara-wiri.

Nun aneh jauh di sana, ketika teman-teman heboh dan bergelora terhadap kaum muda alias jurnal-jurnil yang baru saja resmi bernaung di bawah payung hmj, saya malah diresahkan dengan… perasaan-perasaan di luar itu, sesuatu yang bukan termasuk ranah esensi oje, hehe.

Monday, February 02, 2009

Asyiknya jadi kepala negara. Well, itu yang ada di kepala saya ketika menyaksikan berita TVOne sekitar pukul enam lewat, 30 Januari lalu. Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan mengecam keras atau bahasa gaulnya menyinggung atau mempermalukan Presiden Israel Shimon Peres pada World Economic Forum. Lalu ia meninggalkan forum internasional itu begitu saja. Lanjutannya, pas bailk ke tanah air ia dielu-elukan oleh warga Turki. dahsyat.




Enak juga yah, klo jadi kepala negara gitu bisa merealisasikan sikap tegasnya sama Israel. Lah saya, hanya bisa mengutuk-ngutuk di depan kotak ajaip berwarna. Ah saya bangga sekali dengan kepala-kepala negara yang bisa menyuarakan kata hatinya tanpa takut dengan tetek bengek Amerika maupun Eropah. Turki, Iran, Venezuela, dan lain-lain. Nice job!

Thursday, January 01, 2009


Ports of Lima dinobatkan sebagai album terbaik tahun 2008 versi majalah Rolling Stone Indonesia. Sungguh menjadi prestasi dan bingkisan yang indah untuk Sore di penghujung tahun.
“Lewat aransemen yang dramatis bagaikan scoring sebuah film yang belum dibuat, Ports of Lima adalah album untuk segala macam suasana hati,” tulis Rolling Stone dalam edisi Desember 2008.

Terlebih lagi, album Ports of Lima ini menempati peringkat pertama diikuti dengan album Top Up-nya Nidji dan beberapa band lokal terkemuka lain seperti Peterpan, Andra and The Backbone, dan lain-lain.

Ports of Lima yang dirilis pertama kali oleh Aksara Record tanggal 11 April 2008 mendapat banyak pujian dari para kritikus musik. Bermodalkan 13 lagu, album kedua Sore memang patut diacungi jempol. Selain lebih banyak memasukkan distorsi pada gitar, album ini juga lebih personal dari album sebelumnya. Memang, beberapa lagu dalam Ports of Lima terinspirasi dari pengalaman pribadi para personel Sore. Beberapa lagu lainnya terinspirasi dari film. Simak saja "Essensimo" yang terinspirasi dari film Truffaut's 400 Blows, "400 Elegi" yang terinspirasi film Lynch's Elephant Man, dan lagu "Come By Sanjurou" (terinspirasi film Kurosawa's Sanjurou).

Sebelumnya, album pertama mereka yang bertitel Centralismo (2005) dinobatkan sebagai “One of 5 Asian Albums Worth Buying” versi majalah Time pada 12 September 2005.

"Sore's musical products are a pastiche of several genres gleaned enthusiastically from listening to and experiencing the music of the various decades of the 20th century, and culminating in what can only be described as ""collage rock"", a totally new, totally exciting sonic experience." (Jakarta Post 2005)

Uniknya, tidak ada vokalis utama dari band ini. Sore terbentuk pertama kali tahun 2001 dengan formasi Ade Paloh (guitar, vocal), Mondo Gascaro (piano, keyboard, vocal), Awan Garnida (bass, vocal), Gusti Pramudya (drums, vocal) Reza Dwiputranto (guitar, vocal). Spidolbiru menyaksikan penampilan live Sore terakhir kali yakni pada acara Simphonesia di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Bandung akhir November lalu. Dan terbukti, Sore memang brilian!

Sumber:
http://www.rollingstone.co.id/index.php?m=rs&s=news&a=view&cid=36&id=49
http://www.facebook.com/home.php#/pages/SORE/18706426966

Wednesday, December 31, 2008

Wew.. hepi new year. Is it really a happy new year? So-so, eh..
Taun baru ini saya di rumah aja. Dan sekarang beberapa menit menuju pergantian tahun. Mari membuat sebuah agenda resolusi. Sebetulnya saya nggak pernah buat tapi nggak ada salahnya juga sesekali ingin berbeda dari biasanya.

Pinginnya di 2009, saya..
1. Solat 5 waktu (ayoo bawa mukena kemana-mana)
2. Nggak cengeng lagi
3. Lebih gape main piano
4. Memperluas khasanah di dunia musik (bc: download lagu lebih lebih lebih banyak lagi hahhaa
5. Bisa renang!
6. Bung nabung
7. Mengunjungi Anya ke Surabaya
8. Nggak sekebo dulu
9. Bisa jaga porsi makan (halah)
10. Nggak kebobolan absen kuliah seperti semester sekarang

Eh yaudah deh.. sekarang udah pukul 00.18. wes saya posting yaa. Met taun baru, kawan-kawan. Jangan lupa berdoa dan berharap kebaikan. Cheers!

Monday, November 10, 2008

Okay. Let’s write..
Jumat lalu (31/10), sebenarnya saya dan teman-teman jurnal tidak ada kuliah. Tapi kami harus ke kampus karena apa sodara-sodara.. yak tepat sosialisasi oje –yang saya tulis asal supaya tulisan ini tidak keluar di pranala pencarian Google atau situs lainnya– dimulai dan agenda pertama adalah pemilihan ketua angkatan. Wohoo!
Mm karena oje ini sifatnya sakral dan saya juga tidak ingin berpartisipasi memberi bocoran bagi para calon jurnal-jurnil generasi berikutnya maka saya tidak akan menceritakan secara detil kronologis peristiwa Jumat lalu.
Intinya mah, si jurnal 2007 yang pertama datang ke kami setelah membuang waktu untuk disiksa selama 15 menit (atau lebih) mengeluarkan kata-kata sakti berikut: SAYA TIDAK YAKIN.
Eheheh ko dia udah disiksa (cuma dengan kata-kata loh) ujung-ujungnya ga yakin jadi pemimpin siihh. Yaudah kami sang senior (hehe) terkejutlah dan dengan emosi menyuruh si dia kembali ke angkatannya. Dalam 5 menit harus sudah ada ketua angkatan yang baru, YAKIN DAN BERSEDIA tentunya.

Segitu aja si. Oje itu asiknya dinikmatin, ngalamin cinta lokasi, dan bukan isu yang tepat buat ditulis di blog. Lu harus ngrasain sendiri. Ngahahahhaha. Salam.
*oia di bawah postingan ini adalah tugas feature cetak saya, belum versi revisi. Silakan yang ingin berkomentar, saya senang. Klo mau jadi bahan berikut feature-feature saya selanjutnya (Insya Allah) juga mangga, asal jangan lupa sertakan sumber ok?! J

Friday, October 31, 2008

Oleh: Dina Tri Septianti Harahap

Imagine there's no countries
It isn't hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace

Penggalan bait dari lagu John Lennon di atas, “Imagine” yang direkam pada tahun 1971 sampai saat ini masih sering dijadikan anthem bagi gerakan anti-agama dan anti-perang. Lagu tersebut muncul dalam film les 24 heures de la television atau 24 Jam TV.

Film yang diputar oleh Centre Culturel Francais (CCF) Bandung menampilkan cuplikan wawancara tokoh-tokoh yang membawa perubahan kebudayaan di Eropa mulai tahun 1948 sampai dengan 2008. Mulai dari band atau musisi yang membawa apa yang dinamakan British Invasion pada masa itu semisal The Beatles, The Rolling Stones, U2, The Clash sampai pelukis Pablo Picasso.

Film Prancis yang berdurasi 45 menit ini didominasi warna hitam putih di mana memang pada masa awal visualisasi televisi belum berwarna seperti sekarang. Sayangnya, teks berbahasa Inggris yang muncul menggunakan warna putih sehingga tidak terlalu jelas dilihat penonton. Meski begitu, unsur humor tidak ketinggalan dimasukkan ke dalam film.

Saat untuk melongok kembali sejarah, banyak terekam momen yang menyentuh, lucu maupun mengejutkan. "Banyak peristiwa penting yang menarik untuk diketahui dan kita juga dapat melihat perkembangan pertelevisian Prancis dari tahun ke tahunnya," jelas Penanggung Jawab Bidang Budaya yang juga menangani media, Windiana Mutiasih, yang akrab dipanggil Windi ketika diwawancara di lobi CCF.

Hari Audio Visual Internasional

Sejak 2007, tanggal 27 Oktober ditetapkan sebagai hari internasional warisan budaya bidang audiovisual. Dalam kesempatan tersebut dan untuk keempat tahun berturut-turut di Bandung, CCF menayangkan arsip audio visual yang diputar dengan beragam kategori acara televisi yakni politik, olahraga, musik, dunia, fiksi dan kemasyarakatan (societe).

Program ini dipersembahkan oleh Institut National de l’audiovisuel (INA)

atau Institut Audiovisual Nasional Prancis. Fim les 24 heures de la television ditayangkan dua kali yakni Sabtu, 25 Oktober dan Senin, 27 Oktober. “Biasanya ditayangkan satu kali saja tapi tahun ini kita tayangkan dua kali,” ujar Windi.

Pada pemutaran film hari pertama dengan segmentasi mahasiswa dan umum, terdapat kuis di akhir film. Sepuluh hadiah menarik juga dimasukkan sebagai bagian dari pancingan agar penonton, siswa CCF khususnya, menikmati film dan mencerna jalan ceritanya dengan baik. “Kalau buat umum kan mereka bisa melihat perkembangan kebudayaan di Eropa. Sedangkan untuk mahasiswa yang sedang belajar bahasa Prancis bisa buat applicate melatih pendengaran, memperdalam percakapan, dan pronounciation bahasa Prancis. Nah yang hari kedua, kita khususkan untuk pelajar SMA yang belajar berbahasa Prancis,” lanjutnya.

Tampaknya tujuan tersebut tercapai. Pukul 14.00 WIB CCF Bandung atau yang terletak di Jalan Purnawarman no. 32 dikunjungi oleh orang-orang yang bermaksud menonton pemutaran film gratis. Auditorium CCF yang berkapasitas 220 orang terisi lebih dari setengahnya. Ruang pertunjukan yang dilengkapi dengan tata suara, proyektor video 16 mm, tata lampu, AC, semi-grand piano Yamaha, dan ruang rias tersebut memang sering digunakan untuk pertunjukan, seminar, dan diskusi.

Misi Budaya

CCF Bandung mempunyai misi kebudayaan yang non-profit. Lebih lanjut Windi menjelaskan CCF berada di dalam naungan Kedutaan Prancis di Indonesia. Dalam menjalankan misi budaya dibutuhkan dana yang besar seperti mendatangkan INA dan mengumpulkan rekaman perkembangan budaya di Prancis.

INA adalah sebuah lembaga di Prancis yang menyimpan atau bank gambar yang merekam semua gambar-gambar yang terjadi di dunia pertelevisian. Penayangan film les 24 heures de la television merupakan komunikasi yang terjadi antara INA, Menteri Luar Negeri Prancis, dan Kedutaan Prancis di Indonesia. CCF sebagai solusi dalam menayangkan film kepada publik.

Dari tahun keempat CCF menayangkan film produksi INA tersebut, tema tiap tahunnya selalu berbeda. Tahun lalu tema film yang diusung mengenai politik di Eropa sedangkan tahun ini khusus mengenai budaya. “Dengan adanya pemutaran film ini, kami ingin meningkatkan dan juga memberikan gambaran mengenai sejarah audio visual di Eropa pada umumnya, Prancis pada khususnya,” tutur Windi.

Salah satu pengunjung, Satrio Rinaldi, yang menyaksikan pemutaran film meninggalkan komentarnya, “Seru juga sih filmnya dari gambar hitam putih di awal jadi berwarna di tengah-tengah. Tapi karena nggak ngerti bahasa Prancis jadinya sempat ngantuk juga. Hehehe”.

Tuesday, October 28, 2008

Duh gue ini sesat banged c kuliah..
Actually gue udah jelas-jelas say NO jadi wartawan di masa depan. I hate that job.
Tapi sekarang.. yah di sinilah gue, dengan segala kenistaan menempatkan posisi gue di jurusan jurnalistik. Gue (seharusnya) ngga terlalu heboh sama namanya deadline. Namun, apa mau dikata gue lebih eneg lagi ngebayangin harus ngulang mata kuliah ini, yang buat gue jadi manusia norak bin heboh dalam mengerjakan tugas "Wawancara Cetak". Emang guenya yang so stupid baru ngubungin narasumber di hari Jumat. Gue lupa kalo pas gue nelpon narasumber teh udah hari Jumat. Sabtu minggu pan orang-orang libur, jelas pada pergi lah, teu bisa wawancara. Deadline gue hari Senin.
My head is about to explode.
*itu tulisan gue setaun yang lalu dan sekali lagi, hari ini.. gue berada di posisi yang sama.. hehe..