daily thoughts and activities

Monday, October 24, 2011

*this essay has no thesis statement
**some of paragraphs (ok, many paragraphs) below are quoted from site http://www.guardian.co.uk/media/2011/jan/22/social-networking-cyber-scepticism-twitter


These days, everyone has two living types. First, is in the real one and the second is in virtual one. The real one is the world we live everyday when we wake up, go to school or office, and back to sleep at the end of the day. The virtual one is in the internet. We have names, characters, and friends there. It's called social media.

According to Wikipedia, “The term Social Media refers to the use of web-based and mobile technologies to turn communication into an interactive dialogue.” There are different types of social media: collaborative projects (e.g. Wikipedia), blogs and microblogs (e.g. Twitter), content communities (e.g. Youtube), social networking sites (e.g. Facebook), virtual game worlds (e.g. World of Warcraft), and virtual social worlds (e.g. Second Life). At the top of social media networking in the world, which is known to us as Facebook.

If you just meet someone new, while asking your names, your contact numbers, there's no doubt they will ask you your Facebook profile. After that, they will add you as their friends and you will communicate through it. It's a good thing to know the details of someone, including their personal information, their stupid and cool photos, and even know what kind of persons they are based on looking their Facebook profile. But, if you know a person and can communicate with them just by sitting in front of your computer, does it improve your communication skill in real life? You can have hundreds or even thousands of friends on Facebook, but does that make you more social? Does Facebook contribute to deeper and wider social experience?

Sherry Turkle, author of a new book, Alone Together: Why We Expect More From Technology and Less From Each Other, said that the study allows Facebook to define what makes for social behavior. “I’m all for sharing photos, but you can be pro-photo sharing without being convinced that it expands our social lives,” Dr. Turkle said. “It’s a way of defining downwards what it means to be social.” (http://www.nytimes.com/)

The way in which people frantically communicate online via Twitter, Facebook and instant messaging can be seen as a form of modern madness, according to a leading American sociologist. Turkle's book, published in the UK next month, has caused a sensation in America, which is usually more obsessed with the merits of social networking. Turkle said on Stephen Colbert's late-night comedy show, The Colbert Report, she had been at funerals where people checked their iPhones, Colbert quipped: "We all say goodbye in our own way."

Turkle's thesis is simple: technology is threatening to dominate our lives and make us less human. Under the illusion of allowing us to communicate better, it is actually isolating us from real human interactions in a cyber-reality that is a poor imitation of the real world. The hit movie, The Social Network, paints an ironic, sad picture of relationships in the age of Facebook. The creators of the most powerful social media website in the world, one that focuses on having lots of friends, are utterly unable to have true friendships.

Inspite of the critics for social medias, there are always defenders who point out some positive ways of this era. Professor William Kist, an education expert at Kent State University, Ohio, is one of them. He point out that emails, Twitter and Facebook have led to more communication, not less – especially for people who may have trouble meeting in the real world because of great distance or social difference."When you go into a coffee shop and everyone is silent on their laptop, I understand what she is saying about not talking to one another," Kist said. "But it is still communicating. I disagree with her. I don't see it as so black and white."

Some experts believe the debate is so fierce because social networking is a new field that has yet to develop rules and etiquette that everyone can respect. In conclusion, it's our decision to use social media networking wisely and lead us to be more or less social person.(*)

Thursday, August 18, 2011

Yang buat he-he-he.


Nikung tingkat dewa.

Sekretaris #1: "Eh, lagu di HP-mu bagus banget deh, mau dong!"
Karyawan: "Oh, boleh... pake bluetooth aja ya..."
Sekretaris #2: "Eh, gua juga mau! Jadi nomer HP kamu berapa?"
Karyawan: "..."
Kantor di Pluit, didengar oleh karyawan lain yang merasa sekretaris #2 cukup agresif.

Mungkin dia berselingkuh?

Ustad: "Jadi ayam itu hebat sekali. Selama mengerami telurnya dia berpuasa, bahkan dengan puasanya itu, dia bisa menetaskan anak itik dari telurnya..."

Senen, didengar oleh seseorang yang merasa ayam itu bagian dari sinetron.

Menggoda juga butuh data akurat.

Bapak: "Waduh, mbaknya cantik sekali ya, soleha seperti Revalina S. Tomat."
Penjaga Pom Bensin berjilbab: "..."
Anak: "Revalina S. Temat, Pa..."
Bapak: "Oh iya, itu. Abis pipinya merah seperti tomat..." (ngeles)
Penjaga Pom Bensin: "Makasih, pak..."
Bapak: "Kapan-kapan daftar aja casting, siapa tau bisa kaya dia di Perempuan Berkalung Korban."
Anak: "Grrrr..."
MT Haryono, didengar oleh si anak yang langsung ingin bersembunyi di dalam truk tangki.

Pasti mbak gak suka deh!

Pengunjung: "Mbak, saya pesen salmon maki-nya satu ya..."
Pelayan: "Iya, tapi itu mentah lho, mbak."
Pengunjung: "Iya, nggak apa-apa, mbak. Saya juga tau kok itu mentah."
Pelayan: "Tapi amis gitu, mbak!"
Pengunjung: "..."

Restoran Sushi di Jakarta, didengar oleh pengunjung yang merasa dia tidak akan dibolehkan makan ikan mentah.

Udah bingung, gak kenyang lagi.

Bapak: "Kenapa kok cemberut?"
Anak SD: "Tadi katanya ada santapan rohani di sekolah. Tapi isinya ceramah, gak ada makan-makannya."
Didengar oleh kakak yang langsung terpingkal-pingkal ngeloyor ke dapur.

101 buat ibu!

Anak: "Arti 'don't mention it' apa ya?"
Ibu: "Itu lho, anjing totol-totol."
Sebuah tempat les bahasa Inggris, didengar oleh ibu lain yang langsung berhenti ngerumpi buat ngakak.

Iya juga sih...

Penjual: "Permen karet, permen kareeeet! Beli permen gratis kaareeeet!"
KRL, didengar oleh penumpang yang ingin menjepret lidah si penjual.

Tapi akan dipikirkan lagi kok.

Polisi: "Siang pak, bapak telah melanggar lampu merah."
Pengendara motor: "Maaf, pak, saya buru-buru. Istri saya mau melahirkan."
Polisi: "Ya sudah, silahkan lanjutkan, semoga istri dan anak bapak selamat."
Pengendara motor: "Terima kasih, pak, saya akan ingat kebaikan bapak. Tapi saya gak janji kasih nama bapak untuk anak saya."
Lampu merah Pondok Bambu, didengar oleh pengendara lain yang ingin menjanjikan nama polisi ke anaknya supaya tidak ditilang.

Cari alasan yang lebih bener kenapa?

Di tempat karaoke,
Cowok: "Jangan gua deh, gua gak apal liriknya!"
Didengar oleh semua teman yang ingin menjejalkan mic ke mulut cowok itu.

Kalau kotor nanti ditilang!

Ibu: "Nak! Pake serbetnya! Itu banyak polisi!"
Dalam sebuah mobil di Sudirman, didengar adik kakak yang berpikir ibunya ingin menyuapi mereka lagi.

Panjang bisnya, panjang bisnya!

Ibu-ibu: "Bang, bisnya rame banget sih!"
Kenek: (muka lempeng) "Iya nih, bu, supirnya lagi ulang tahun."
Kopaja, didengar oleh penumpang lain yang ingin melempari kenek dengan telur mentah.

Apabila film Warkop berasal dari Hollywood.

Cowok #1: "Wah, rambut loe beruban!"
Cowok #2: "Emang, banyak banget! Tapi bulu ketek gua pirang. Mau liat?"

Plaza Senayan, didengar oleh cowok #1 yang ingin mendorong temannya dari eskalator.

Sungguh orang yang tidak beradab!

Cewek: "Aku paling sebel kalau ada orang pup di lift!"
Kedua teman: "Kentut maksud loe kan?"
Restoran di Pacific Place, didengar oleh kedua teman yang langsung guling-guling di bawah meja.

Cukup hebat samarannya.

Cowok: "... setelah tiga tahun, baru ketahuan dia itu perempuan."
Didengar oleh seseorang yang sedang lewat dan tiba-tiba tersandung.

Liat dong Miki dan Mini!

Cewek #1: "Kalau ada musang lewat, kan enak tuh, baunya kaya pandan."
Cewek #2: "Masa, emang musang itu kaya apa sih?"
Cewek #3: "Itu lhooo, moncongnya panjang, kaya tikus..."
Cewek #4: "Ihhh, bukaaan, musang kan kakinya empat!"
Karawaci, didengar oleh cewek #2 yang paling tidak masih tahu tikus berkaki berapa.

Keinginan pribadi paling dalam...

Di sebuah kolam renang,
Anak SMA: (sedang berenang, berteriak) "Papa, papa! Aku kaya anjing laut gak?"
Jakarta, didengar oleh pengunjung lain yang bingung apakah dia masuk ke Seaworld.

Macho dan berlipstik?

Progammer: "Tolong bikinin avatar default dong..."
Illustrator: "Kaya gimana avatarnya?"
Programmer: "Avatar orang gitu. Tapi dibikin bisexual ya..."
Kantor di Jakarta, didengar oleh designer lain yang merasa si programmer baru saja membuat sebuah pengakuan.

Mau ongkos pulang, dek?

Pembeli: "Bakso, mas, dua mangkok."
Penjual: "Iya mas... makan di sini?"
Pembeli: "Iya di sini, rumah gua jauh, mas..."

ITC Cempaka Mas, didengar oleh pelanggan lain yang merasa mendengar curhat.

Supaya tidak bikin penuh.

Petugas pintu TransJakarta: "Ya, yang Buncit, yang Buncit turun, hati-hati..."

Halte Buncit Indah, didengar oleh semua penumpang yang langsung mengecek perut mereka.

Kirain mau pake jengkol...

Pengunjung: "Bu, udah, bu... mau bayar..."
Pemilik warung: (siap mencatat) "Pake apa, mas?"
Pengunjung: "Pake duit, bu..."
Warung Tegal di belakang Mal Ambassador, didengar pengunjung lain yang ingin makan recehan.

Bisa buat TV juga kayanya...

Ibu-ibu: (setengah panik) "Mbaaaak, hape siapa yang ketinggalan iniiii?"
Karyawan: "Bu, itu remote AC, bukan hape..."
BUMN di Rawamangun, didengar karyawan lain yang langsung tiarap sembunyi di balik meja untuk tertawa.

Karena guru kencing... apa hayo?

Cewek: "Temenin gua ke kamar mandi dong... ah, jangan disitu, gua males kalo WC duduk, enakan yang WC berdiri!"
Didengar oleh temannya yang mulai curiga si cewek bukan seperti yang dia kira.

Wednesday, December 29, 2010

22-12-2010 (Hari Rabu, hari Ibu, dan hari ulang tahunmu)

Daripada euforia jadiannya, saya lebih fokus ke depannya. Menantang diri sendiri untuk bertanggungjawab atas apa yang telah dimulai. Tentu saja, tantangan yang menyenangkan.

Kalo kata kamu, “abis tanggal 19 itu, gue ngerasa tembok yang di depan gue runtuh. Selanjutnya, ada lapangan luas di hadapan gue. nah, sekarang mau digimanain nih tu lapangan..”

Kalo kata saya, “pas tanggal 16, gue udah ngerasa lega. Tanggal 19, lega sih. Lebih lega lagi. Tapi kayak naik level gitu loh. Mm susah membahasakannya.. lu ngerti lah yaa.” Dia mengangguk.

Itu kayak main game. Two players. Kita udah lewatin level 1 (eh atau level 2 ya?). pokoknya gitu lah. Kita terus naik level. Dan semakin tinggi level, semakin sulit musuh-musuh yang akan dihadapi. Tapi juga makin seruu!!! Sampe akhirnya kita nanti harus ngadepin raja yang gede banget buat dikalahin tiap naik level (oke, ini sebenernya yang kebayang game macem space wars gitu hehe).

Nggak ada yang tau kita bakal game over di level berapa, atau apakah kita bisa namatin game ini dengan kemenangan: menghancurkan raja super di level akhir. Ga ada yang tau. Seperti halnya jargon hubungan kita: “let it flow, dear”

This is the most natural feeling I’ve ever felt. Kalo bisa bilang, semuanya berjalan alami. Ga ada yang direkayasa. Spontan, tidak taktis, ngga ada yang dibuat-buat. Hanya perlu niat baik, hati yang tulus, dan biarkan semesta menjalankan sisanya. Resminya hubungan kita juga, bagiku bukan kayak hal yang besar, mewah, dan perlu perayaan sebagaimana maraknya pesta tahun baruan di mana semua orang bebas mabuk saat itu (maklum, bentar lagi taun baru). Bukan kayak gini nih..



Bukan, bukan imej semacam itu yang terbayang di benak saya. tapi lebih kayak, saya sedang merebahkan diri di atas padang rumput yang luas lagi hijau. Siang-siang, santai, angin bertiup semilir, dan langit pun cerah.


Damai. Itu tepatnya. Saya merasa damai. Maybe it’s the feeling when love and friendship come together at the same time. I’m feeling good. I hope you feel the same way, too.

--
p.s. happy birthday, Mr. Magician.

Friday, December 24, 2010

Meracau ke sana kemari. Hingga akhirnya keluar dari mulutmu pertanyaan, “Kita tuh sebenernya lagi ngapain sih?” Kembali kita meracau lagi. Ah, berbelit-belit deh.

Saya: jadi, lu sayang sama gue?

Dia: iya.

Saya: gue juga.

Dia: tos dulu dong

PLAKK! *bunyi tos

Kamu pun bertanya, “Are we a couple now?” Saya balik bertanya, retoris. “Are we a couple now?" And you said yes. We both smiled.

Sunday, December 19, 2010

I'll be seeing you
In all the old familiar places
That this heart of mine embraces
All day through

In that small café
The park across the way
The children's carousel
The chestnut tree
The wishing well

I'll be seeing you
In every lovely summer's day
In everything that's light and gay
I'll always think of you that way

I'll find you in the morning sun
And when the night is new
I'll be looking at the moon
But I'll be seeing you

— I'll Be Seeing You (Iggy Pop & Francoise Hardy)

Wednesday, December 01, 2010

Dua orang mahasiswi tingkat akhir dipertemukan sebagaimana takdir dituliskan sebelum mereka lahir –mungkin. Banyak perbedaan diantara mereka: beda tinggi badan, beda berat badan, beda pengalaman, termasuk beda dalam nasib percintaan. Y sudah berpacaran menahun, D sudah jomblo menahun. Namun, mereka dipersatukan dalam satu tugas besar, mata kuliah Depth Reporting dengan tema *watch yourself*: waria.

Ternyata, tugas perkuliahan untuk dua mahasiswi tingkat akhir ini bukan tentang waria dan dunianya saja, tiap harinya ada ribuan tugas lain menanti untuk dikerjakan. Hingga h-1 keberangkatan Y ke Singapore, terjadilah percakapan berikut di kosan D. Saat itu, situasi Y begitu tertekan karena ada dua deadline tugas yang harus ia selesaikan dalam semalam demi keberangkatannya ke negeri singa, D lagi santay.

Y (melenguh seperti sapi, pikirannya lelah): Apa gue abis ini ketemu cowok gue dulu aja ya

D: Hah, serius lu? (D mengerti perasaan Y tapi waktu juga sempit). Gimana kalo cowok lu aja suruh dateng, nemenin lu ngerjain tugas..

Y: ah itu udah sering dicoba dan nggak pernah berhasil. Ujung-ujungnya pasti nggak ngerjain tugas malah pacaran

D: iya juga. Lagian, masak ada cowok trus dianggurin sih

Y: iya yah.. rugi banget yah

*LOL!

Saturday, October 02, 2010

Kamis, 30 Oktober 2010

Ketika saya lagi gaul di perpus jurusan, ambil buku, buka..

“if you don't stand for something, you'll fall for anything”

Begitu bunyi tulisan menggunakan pensil di halaman depan setelah cover buku berwarna biru itu. Saya tertampar, ah bukan, tertegun, hmm lebih tepatnya tersadarkan. Saya sudah ribuan kali mendengar kata-kata itu, namun ketika momen yang tepat tiba, saya baru bisa memaknainya.

Sudah lama. Saya lupa. Kalau manusia. Harus punya. Prinsip.

Friday, September 17, 2010

selamat datang katanya,
duduk
bercakap-cakap
bercangkir-cangkir kopi
sepanjang malam
hingga tuan-tuan rumah bertanya
"mengapa kau di sini?"

tamu itu berpikir,
harusnya di mana
ruangan itu mulai sesak
oleh tali-temali
oleh oksigen yang tak dikenali

seharusnya di hutan
mencari jalan di belantara
seharusnya di laut
menyelam di antara karang
seharusnya di kota
menundukkan pencakar langit
seharusnya di desa
melintasi damainya sawah
seharusnya di gunung
mencicipi jengkalan awan

masih kurang kisah rupanya
matahari mulai terbit
tak ada tidur malam ini
sang tamu berdiri
berlari ke pintu

bukan rumah sebelum kau temukan yang kau cari

Sunday, August 29, 2010

yahh.. aku kan emang orangnya nggak pernah bilangin kamu boleh ini, nggak boleh itu, blablabla.

aku cuma selalu mengutarakan pendapat aku terus sisanya kamu mikir sendiri. kamu kan manusia dewasa, masak mikir aja harus dibantuin?

Saturday, August 28, 2010


Truman Capote, penulis Amerika era tahun 40-an merupakan sosok penulis yang istimewa. Selain karyanya, Capote terkenal karena kepribadiannya yang menarik. Kisah hidupnya telah diangkat ke layar lebar dalam film Capote (2005) dan Infamous (2006).

Novel lawas Breakfast at Tiffany’s diterbitkan kembali oleh Serambi. Sebagian besar khalayak mungkin terlebih dahulu mengenal Breakfast at Tiffany’s sebagai sebuah film. Melalui novelnya, penggemar Holly Golightly akan mendapat kisah yang tak kalah intim dan memikat.

Cerita dibuka dengan tokoh aku yang mengungkapkan hasratnya menulis tentang Holly yang sudah lama menghilang. Keinginan ini muncul setelah diceritakan bahwa ada ukiran kepala kayu yang mirip dengan Holly Golightly di Afrika dari sebuah foto.

Tokoh aku yang mengagumi Holly ini merupakan teman seapartemen Holly. Awal pertemuannya dengan Holly yakni ketika Holly yang sering kehilangan kunci membunyikan bel apartemen-apartemen tetangganya untuk dibukakan pintu. Aku yang berprofesi sebagai seorang penulis menuliskan deskripsi Holly Golightly dengan lugas. Diam-diam ia pun mencintai Holly.

Holly Golightly, seorang wanita muda misterius berjiwa bebas yang menjadi pujaan kaum pria kelas atas New York. Orang-orang mengenalnya sebagai ratu pesta, simpanan jutawan, dan sekaligus kaki tangan mafia. Namun, siapakah sesungguhnya dia? Apakah yang dicarinya? Cinta atau harta?


Ternyata sisi lain Holly tidak seglamor kehidupan sehari-harinya. Holly adalah seorang wanita muda yang masa kecilnya tidak bahagia, menikah di usia 14, dan pindah dari Texas ke New York. Hal tersebut terungkap ketika Doc Golightly, suami Holly datang ke New York untuk meminta Holly kembali ke Texas. Namun Holly menolaknya dengan alasan pernikahannya di usia 14 tahun tidaklah sah.

Holly yang naïf akhirnya berurusan dengan polisi karena terlibat dengan mafia narkoba. Tanpa disadarinya, ia menjadi perantara berita antara kepala mafia yang di penjara Sing Sing dengan anak buahnya. Holly mengunjungi mafia tersebut di penjara setiap hari Kamis dengan bayaran seratus dolar tiap kunjungannya. Holly harus melaporkan kunjungannya melalui kode pesan berupa laporan cuaca seperti ‘ada badai di Kuba’ dan ‘salju turun di Palermo’. Holly berpikir hal tersebut benar-benar hanya sebuah pesan. Akibatnya, rencana pernikahan Holly dengan pria terkaya di dunia di Brazil menjadi batal. Calon suaminya sedang memulai karier di bidang politik, dan tidak mau menerima Holly yang sudah memiliki catatan kriminal.

Satu alasan mengapa sosok Holly Golightly begitu banyak menginsipirasi wanita adalah karena inti pada kisah ini terletak pada keinginan Holly Golightly untuk mencari tempat dimana ia merasa aman dan senyaman di toko perhiasan Tiffany.

Penuturan orang ketiga sebagaimana yang dilakukan buku ini dalam menceritakan Holly Golightly terjalin dengan apik. Ia menceritakan karakter Holly dengan lugas. Capote mampu memainkan bahasa dengan berirama sehingga pembaca enak mengikuti jalan cerita sampai selesai. Fakta Holly Golightly diungkap satu demi satu dan pada akhirnya pembaca selalu merasa terkesan dengan sosok Golightly yang eksentrik. Selain itu, tokoh yang dimunculkan dalam novel ini pun tidak banyak. Cerita terfokus pada Holly sehingga seolah-olah Truman sedang bercerita pada kita seorang gadis yang dikenalnya.

Mungkin penggemar film Breakfast at Tiffany’s yang menyukai cerita happy ending di film akan sedikit kecewa dengan akhir cerita asli yang menggantung di novel ini. Happy ending di film yang menginspirasi semua wanita untuk berhujan ria dengan pria tampan bermata biru dan kucing jalanan itu tidak sama adanya dengan yang tertulis di buku.

Tidak bisa tidak, selesai membaca buku ini pun, saya masih sempat memejamkan mata untuk menyelidik kembali Holly Golightly yang tinggi langsing mengenakan gaun hitam dan pipa rokok panjang. Sosok Holly Golightly disebut-sebut sebagai salah satu tokoh fiksi berpengaruh. Sepertinya anggapan itu tidak berlebihan mengingat tokoh Holly Golightly begitu mudah dicintai semua orang, sebuah citra wanita muda yang naïf, berantakan, cerdas sekaligus misterius.