Anak vs orangtua. Sebenarnya saya masih bingung dengan hubungan fungsional dari siklus biologis keduanya. Orangtua melahirkan anak. Anak nggak minta dilahirkan. Tapi, katanya hidup itu anugerah paling besar jadi berbahagialah sama yang telah dilahirkan ke dunia *meureun, kalo orangtuanya KB emang itu anugerah. Gatau deh yang nggak dan bikin negara makin miskin aja dan si anak itu sendiri sengsara.
Agak melenceng sepertinya saya. Dan yang mau saya omongin adalah, mengapa dalam hubungan fungsionalis biologis itu peran masing-masing, anak, ibu, bapak, terlihat pakem, statis, dan hanya mewariskan dari, hubungan anak-orangtua versi terdahulu. Maksudnya, si mamah aku atau mamahmu, dalam mendidik anak sering tanpa referensi kecuali bagaimana cara orangtua mereka dulunya mendidik mereka. Terjadi plagiarisme di sini, penjiplakan pola asuh. Padahal, anak mereka berbeda dengan mereka. Anak-anak yang mereka lahirkan itu, yang diwariskan mutlak hanya gen dan kromosom-kromosom (iya nggak sih), absolut. Sedang sifat, karakter adalah sesuatu yang berbeda, relatif, dan berdiri sendiri.
Mungkin memang benar ada penurunan sifat-sifat seperti kalimat-kalimat yang sering kita dengar ketika seorang ibu sedang memarahi anaknya, “watakmu memang seperti bapakmu. Keras kepala.” Tapi saya percaya, everyone is made of such specific details. Elo nggak bisa memperlakukan semua orang dengan perlakuan yang sama. Semua orang unik. Nggak biasa. Nggak sama. Jangan melakukan generalisasi.
Dann, sepertinya gue melenceng lagi. Yang mau saya tekankan di sini, semua anak pasti beranjak dewasa, tapi peran “anak” ga bakal pernah bisa lepas dari dia (saya nggak memungkiri itu). Cuma satu poin yang nggak saya sreg, nggak kompatibel sama jiwa saya. Kenapa orangtua dengan mudahnya menyatakan harapan-harapan, keinginan-keinginan mereka kepada si anak -yang tanpa mereka sadari telah menaruh beban yang berat ke pundak si anak. Sedangkan, kenapa si anak tidak bisa dengan mudahnya, dengan leluasanya, menyatakan mimpi-mimpi mereka kepada orangtuanya. Orangtua sudah curi start dengan terlebih dahulu menaruh beban-beban yang telanjur dipikul si anak. Terlebih, mimpi-mimpi si anak pada akhirnya bertentangan dengan mimpi-mimpi orangtuanya.
Menurut saya, banyak orang yang menjalankan hidup nggak sesuai dengan keinginannya atau mimpinya karena faktor tadi. Padahal ya, orangtua pasti mati (I mean, everyone must be dead). Dan kita, anak-anak yang ditinggal para orangtuanya harus menjalani hidup sendiri, menemukan pendamping, dan bikin anak lagi. Mengapa hidup harus terdikte sama yang melahirkan kita. wow, saya nggak bisa menemukan kata yang lebih halus dari itu. Maaf, jiwa sarkastik.
Dan yang mau saya luruskan di sini adalah, saya mempunyai orangtua yang amazing. Mereka nggak pernah BENAR-BENAR mengikat saya untuk menjadi A atau B. jelas mereka inginnya saya menjadi seperti yang mereka mau tapi kayaknya mereka udah nyerah untuk hal itu. still, I have doubts in my mind to tell them what I really want to do in my life. Dan meninggalkan pertanyaan besar buat gue: Why.
Mungkin pola asuh tadi ya. Mereka telanjur pernah nyuri start dengan mengatakan harapan-harapan mereka dari saya, telanjur pernah mengatakan tidak atas mimpi saya, telanjur pernah menaruh beban di pundak ini dan sejumlah do’s-and-don’t’s-thingy in my mind. Well, hingga pagi ini saya akhirnya memutuskan untuk mendobrak benteng tersebut. Benteng yang entah siapa yang menciptakan. Sayakah, merekakah, tidak penting..
There are dreams that I dare to dream, I’m striving to make them really do come true.
(Tulisan ini dibuat pada Jumat (14/08) tapi baru sempat di-posting sekarang ^^!)
Hari ini saya cukup senang. Ok. Saya senang. Begini, hari ini tepatnya pukul 08.00 – 15.00 WIB saya ditugaskan menjadi juri kebersihan lingkungan dalam rangka peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus. Penugasan saya sudah dijadwalkan sejak lama. Dan sejak lama pula saya bete menunggu kedatangan hari ini. Jadi, saya sudah double bete dan bersiap-siap menjadi triple bete ketika melaksanakan tugas tersebut di hari H. ya iyalah secara saya menilai 31 RT dengan poin-poin membosankan seperti pekarangan rumah, keberadaan MCK, dan sejenisnya. Selain itu, saya juga membayangkan bahwa hari ini saya akan cape beerrraaattt melakukan safari keliling 31 RT.
Ternyata kenyataan berkata lain. Saya malah mendapat kesenangan dan saya merasa senang. Dimulai dengan kejadian switching form penjurian. Saya akhirnya menjadi juri keindahan dan kerapihan lingkungan yang poin-poin penilaiannya lebih asyik seperti pengadaan pagar, umbul-umbul, gapura, dan lampu hias. Saya juga mengalami pengalaman petualangan menjelajah desa Sindangwangi yang rapih dan indah. Melewati hamparan sawah yang menguning dengan background langit dan pegunungan, sungai-sungai, irigasi, dan juga trek yang cukup menegangkan (saya dibonceng Oke naik motor Pak Kadus).
Melihat keindahan alam itu semua saya hanya ingin berteriak “Wohoo!”. Saya pun berteriak kemudian bernyanyi-nyanyi kecil. Dan tak lupa, ternyata penjurian keliling 31 RT itu tak lain adalah wisata kuliner. Ya. Wisata kuliner, karena kami berhenti di pos ronda tiap RT untuk menyantap hidangan yang telah disajikan dan juga membungkusnya buat teman-teman di rumah induk semang.
Begitulah. Saya enjoy dengan hari ini. Lalu, ketika sore hari, ketika saya pikir hari sudah berakhir dengan happy ending.. ternyata tidak. Bad mood lantas menghinggapi hingga ingin men-skip waktu saja rasanya. Saya ingin pulang. Malam pun datang dan diisi dengan kegiatan rutin selama KKN –main poker. Hingga sebelum tidur pun saya menulis paragraf-paragraf ini. Goodnight everyone..
Tebak saya di mana. Yosh! Saya saat ini sedang berada di warnet Desa Sindangwangi. Oke banget kaann huahahahaha. Well, walaupun saya cengengesan seperti saat ini sebenarnya hati saya sedang gundah gulana tak terkira *lebay MODE: ON
h-12 menuju kepulangan ke tanah air (baca: Tangerang), saya berada dalam fase jenuh plus masalah yang pasti datang menghampiri ke siapapun insan di dunia ini. Masalah terbesar adalah canon error99. huaaa. Entah karena kemasukan pasir, atau karena udara laut, atau karena entah.. yang jelas lagi-lagi karena pantai. Sensitif sekali. Dulu juga body kamera saya pernah muncul jamur sehabis saya pulang dari pantai (nampaknya si jamur juga masih ada hingga sekarang).
Masalah terbesar (lagi), saya kangen berat dengan keluarga. KANGEN PAARRRAAHHHH!
Yok. Sekian. Intinya saya lagi pusing.
Trouble will find you no mater where you go, oh oh. No Matter if you're fast no matter if you're slow, oh oh. The eye of the storm and the cry in the morn, oh oh. Your fine for a while but then start to loose control. (Trouble is A Friend – Lenka)
Hai! Saat ini saya berada di Jatinangor. Saya menumpang tidur dua malam di kosan teman KKN saya, Fiki. Perjalanan panjang Dusun Balater – Jatinangor itu dimulai Kamis lalu dengan menggunakan bus cepat Budiman. Cukup melelahkan 6 jam perjalanan dan setengahnya adalah rute pegunungan berkelok-kelok.
Sampai di Jatinangor, kira-kira pukul 1 siang saya bersama Fiki langsung ke kosannya di Hegarmanah. Lalu saya ke kampus. Menanyakan surat cuti (yang ternyata masih di proses ). Si orang SBA menanyakan apakah saya Dina yang mengajukan surat cuti tersebut. Oh, tentu saja. Saya sedikit khawatir dengan cara kerja SBA. Saya mengerti SOP. Tapi masalahnya adalah orang-orang yang menjalankan SOP tersebut. Baiklah, saya tidak akan suudzon lebih jauh dan tetap berdoa surat cuti tersebut diproses dengan baik.
Di kampus, saya juga melihat nilai saya (yang tidak ada A-nya) kemudian ke piano room, maksud saya Ruang Oemi. Saya mencoba memainkan sebuah lagu. Dammit saya lupa bagaimana memainkannya dan menggerakkan jari-jari saya. Lalu tiba-tiba saja hal sekecil itu membuat mood saya berubah, BT. Yasudah, Triste Couer saja yang saya ingat lalu saya mainkan.
Berada di Ruang Oemi sendirian terlalu luas buat saya. Saya teringat teman saya dan menulis di atas piano berdebu tersebut “I miss u, as a friend”. Saya tahu, esok tulisan ini akan hilang atau ketika Ruang Oemi ini digunakan untuk keperluan ospek atau apapun, seseorang akan menghapusnya. It’s easy to erase the dust. Maybe it’s just the same as our friendship. But I will always be your friend if you only knew.
Hari kedua di Jatinangor, seharusnya agenda saya tidak jauh beda dengan hari pertama. Tapi saya malas ke mana-mana. Lalu sore hari bersama Fiki, kami pergi ke Jatinangor Town Square (Jatos). Berbelanja dan makan makanan yang diinginkan. Saya membeli Klenger Burger dan Fiki makan di Paparon’s Pizza. Haha. Tentu dua makanan tersebut tidak akan kami temukan di Dusun Balater :p
And here we go, hari ketiga di Sabitu pagi ini saya menyempatkan diri online dengan computer (akhirnyaa) setelah hp berminggu-minggu cepat lowbatt karena saya pake OL terus. Sudah ya, saya harus bersiap-siap karena beberapa jam lagi akan kembali ke Batu Karas. Maksud saya Dusun Balater.
Besok, 13 Juli saya akan berangkat untuk KKN (Kuliah Kerja Nyata) ke Desa Sindangwangi, Padaherang, Ciamis sampai tanggal 22 Agustus 2009. Hari ini lagi sibuk-sibuknya. Packing, mengembalikan barang teman-teman, transfer foto, musik, dll.
Oh ya, karena 40 hari saya akan berada di desa maka saya akan kesepian. Bukan kesepian karena tidak ada orang atau teman. Tapi karena saya meninggalkan leptop yang merupakan music player saya. I will leave my keyboard, too L Saya memutuskan bawa kamera aja ke desa. Oleh karenanya, kemarin saya membeli Ipod. Yasudah hari ini saya juga sibuk mentransfer lagu. Repot karena si leptop saya tinggal di rumah.
Hmm, mungkin bagian yang terlewat saya ceritakan adalah Rabu kemarin, seusai nyontreng, saya dan kedua orangtua ke Jatinangor dan mengangkut semua barang-barang di kosan. SEMUA. Jadinya kosan saya kosong melompong. Tak ada tv atau leptop atau keyboard. Sudah dua malam ini saya tidur dalam sepi dan dua malam pula saya bermimpi berturut-turut. Heheh. Gatau saya dari dulu tidak bisa tidur tanpa suara berisik. Kalo nggak, bawaannya suka mimpi buruk atau terbangun dengan kaget tengah malam. Hiihhh.
Alhamdulillah, dua malam ini saya selamat. Cuma mimpinya aneh-aneh. Udahlah yaa, sukur-sukur ga mimpi tentang setan.
Hari ini, saya dan keluarga besar (jumlah kami 17 orang) bertamasya ke Taman Wisata Matahari (TWM) di daerah Cisarua, Bogor. Tempatnya biasa saja. Malah kurang nyaman saking padatnya pengunjung. Dan lagi, untuk remaja beranjak dewasa seperti saya (ahiww) kayaknya cuma bisa mati gaya. It’ll be fun if you have kids anyway, haha. Karena emang semua permainan di sana ukurannya mini semua.
Hal baik yang diambil hari ini adalah saya bisa berkumpul bersama keluarga besar mulai dari nenek, kakek, tante, om(s) *banyakk, sepupu(s), dan tentu saja keluarga inti saya. Yah, memang ada yang kurang, which are my beloved sista and her family and my bro, too. Yah saya jadi inget Izaz (terutama) yang berada di Jubail nun jauh di sana. Saya yakin, kalau keponakan saya tercinta itu ikut hari ini akan lebih ramai, lebih rusuh, dan lebih liarrr (apa coba).
Yang penting (lagi), hari ini saya bisa berarung jeram \m/
Setelah melalui masa kapok dengan internet -tentu saja aplikasinya- yakni gmail, ym, dan facebook.. finally saya kembali dan berusaha berhasil mengatasinya dan saya pikir saya memang berhasil. Yea, apalagi penyebab traumatic saya terhadap tiga aplikasi tersebut kalau bukan tragedi yang akhir-akhir ini saya tulis di postingan sebelumnya secara abstrak (karena memang bukan konsumsi umum). Oh well, singkat cerita saya baru sembuh dari perasaan down level tinggi karena kehilangan seorang teman baik, purely my fault.
Tapi saya tidak ingin melebih-lebihkan keadaan dan memperburuk situasi yang sudah memang buruk. Saya ingin bangkit. I’ve lost a friend. Fortunately, I haven’t lost myself. That’s the point. Life must go on, dear. Oleh karena itu, saya pun ingin menuliskan hal-hal lain di luar topik tersebut. Umm, let’s try.
Tanggal 23-29 juni kemarin saya mengikuti Bandung Tour De Bali. Berdua saja (tadinya mau berenam tapi ga jadi), dengan mantan pacar saya. Rencana berlibur ke Bali sudah kami buat sebelum putus dan mungkin kalian bisa membayangkan betapa kacaunya rencana tersebut. Dilematis. Antara uang dan harga diri. Huahahhahahha. Ga ikut, sayang duitnya (udah disetor ke si travel agent). Ikut, ga enak maning. lagi benci-bencinya soale putusnya beneran baru banget, kayak tai ayam gitu, masih anget. Bodohnya, dina yang ga konsisten ini malah berprilaku seperti masih seorang girlfriend buat dia. Dan dia berprilaku sama. Kita udah kayak sepasang kekasih yang berlibur. Yah, pokoknya apa yang terjadi seminggu kemarin tidak membuat saya berubah pikiran untuk tetap single.
Cerita Balinya saja ya teman-teman.. Perjalanan menuju Bali melalui jalur darat bener-bener ga bikin ketagihan. Kayaknya saya ogah dua kali deh naik bus dua malem menuju Bali. Sampai di Bali hari pertama, kita (saya dan rombongan tur) mengunjungi Galuh, Cening Ayu, Krisna, dan apa lagi saya lupa. Pokoknya semua pusat oleh-oleh. Jadilah hari pertama saya sudah kere duluan, shopping ‘til die.
oya, kami juga mengunjungi Bedugul. which is, fotonya adalah ini, hehe
Hari kedua, kami wisata bahari. Mengunjungi Batara water sports dan saya main parasailing, juga mengunjungi pulau Penyu di sana. Lalu kami ke Dreamland dan GWK (Garuda Wisnu Kencana). Yang paling berkesan buat saya adalah GWK. Okei banget. Tiap ujung jengkalnya adalah karya seni. Jenius gilak itu si Nyoman blablabla yang jadi otak atas patung GWK dan karya-karya dia lainnya. Malamnya, kami romantic dinner di Jimbaran. Oh yes, ada kejadian yang romantis tapi pasangan lain yang melakukannya. Heheheh.
Hari terakhir, saya dan my ex menyempatkan diri ke Sukowati dan kami juga baru nyadar kalau Pantai Kuta begitu dekatnya dari hotel tempat kami menginap. Hahahhah. Tau gitu mah kita ke pantai mulu, til die! Lalu bersama rombongan kita ke Joger dan Tanah Lot. Terus pulang deh.. oleh-olehnya untuk keluarga saja. Love them damn much :-*
Saya ingat Kamis lalu, 18 Juni, saya yang bête karena seseorang, memutuskan tidak ikut bersenang-senang bersama yang lain dan hanya ingin jalan, menghilangkan rasa kesal campur sedih. Kamu yang baik, memaksaku untuk naik ke motor dan pergi bersama. Tapi saya hanya ingin berjalan sendiri. saya berkata saat itu, “gue lagi pengen jalan. Sama kayak loe. Kalo lagi sedih atau bête loe juga cuma pengen jalan kan. Dan berharap di tempat tujuan rasa sedih loe udah ilang.”
Sejak sabtu lalu aku sudah berjalan terlalu banyak namun rasa sedih ini tidak pergi juga. Tidak tahu, berapa kilometer lagi ku harus berjalan hingga sedih ini berganti.
I'm a lover, a wife, a daughter, a friend, an account executive, an avid reader, a writer, a traveler, and many others role :)
I can be reached at dina.tsharahahap(at)gmail.com