daily thoughts and activities

Friday, October 28, 2011

Berawal dari ngecek inbox HP Nokia saya yang ternyata sudah overload, ada 1215 pesan. Hmm saatnya bersih2. Tapi sayang juga ada beberapa sms kenangan bareng si Faisal jaman kita masih pdkt, hehe. Supaya smsnya bisa saya hapus tapi nggak memorinya, jadi saya tulis saja di blog. Maklum, suka pelupa.


--
20-11-2010
Bulan November, saya masih jadi mahasiswa yang rajin mengerjakan tugas dan tidak mempunyai jam tidur jam bangun jam makan yang teratur. Hari itu Sabtu dan saya bangun pagi sore hari. Maksudnya bener baru bangun hari itu pada sore hari. Saya tidur subuh karena ehm, malamnya saya liputan waria (seingat saya sih itu, pokoknya jaman2 itu jadwal saya padat hengot bareng waria bersama partner saya Yuliasri).

Baru buka mata, liat hp. Si faisal sms.

(16:09:51) Jd, kmn arah angin hari ini menculik Dina?

Kayaknya baru diliat jam 17 lewat pas saya bangun tidur. Bengong. Senyum-senyum dulu. Ohya pemirsa, maap ya saya cuma ada sms dari si faisal. Berhubung sent items HP selalu dikosongin. Jadi yang dipublikasikan sms dari si Faisal aja ya *tanpa persetujuan ke orangnya sebelumnya, kikikiki >:)

Lanjut.. Saya lupa balas apa. Faisal reply lagi

(18:17:57) Lho lho, napa? Sakit? Jgn2 lu bru ngelewatin satu hri sabtu lg (tidur) <- tepat! Saya bertanya apakah wawancara untuk tugas feature-nya sudah beres.

(18:35:41) haha. Bru beres lingkar pertama td. Tgl bsk2 temen2ny.nah, wktny refresh dlu: nntn rufio!doyan?

Gila, Rufio jaman kapan tuh. SMA dah. Saya baru tau Rufio dateng ke indo saat itu dari si Faisal. Yah, sejujurnya saya suka. Bahkan, saya cenderung suka musik apa saja (bukan penyuka satu genre aja, mudah diracunin)
(18:39:51) Iy.mo nntn g?150rb lumayan..

Mikir2. Lanjut nanya. Ini kan ajakan ya. Hore! Tapi kapan?

(18:46:02) Malem ini.di score ciwalk.mau?

Ebuset. Itu mah sekarang! Secara ya udah malem. Dan saya saat itu masih di kasur dgn rambut awut2an bau naga badan lengket blom mandi. Tiba-tiba saya jadi jenius dan bertanya posisinya. Apakah dia bakal ngasi saya waktu untuk mandi terlebih dahulu. Atau apakah saya kegeeran, gataunya si Faisal nunggu di venue (masuk akal, secara yang ngajak Faisal)

(18:49:29) Gw di cibiru.klo mw gw jmpt.mw g?

Ternyata dia mau jemput, tapi buru-buru amat ya. Tapi iya juga sih, udah malem. Sebenernya ada sediki percikan keraguan mengiyakan ajakannya malam itu. Pertama, saya baru bangun. Kedua, agenda saya malam itu pengen nikmatin me-time. Bahkan terbersit buat ngerjain tulisan. Ketiga, kosan saya kan dikonci pukul 10 malam. Kalo saya baru ke bandung jam 7 jam 8 sangat mustahil balik ke kosan jam 10. Tapi berhubung itu si faisal yang ngajak....

Pokoknya dulu tuh mindset di kepala saya tiap si faisal ngajak jalan adalah, dia lagi sedikit ga waras. Mungkin lagi ada masalah, atau setres sama tugas, atau ada kata “sekalian”. Yah, pokoknya dalam keadaan labil n his mind tricks him untuk mengajak saya keluar, heheheh. Sekali lagi, saya berpikir begitu karena dia itu seorang Faisal. U should know him first, so u can understand why i bold that statement ;)

Akhirnya, saya iyakan ajakannya.

(19:02:08) Haha.yaudah siap2.pake sepatu.jgn ampe kyk utuy yg diusir.haha.(eh,tp gtw deng klo ce aturnny gmn)

(12:01:57) Wew,jalan riau rame dong:ad ariel disidang.ck ck <- wups sori, sms yang ini udah beda hari

Alkisah, akhirnya Faisal datang ke kosan saya malam itu. Saya yang baru mandi agak-agak grogi juga berasa mau nge-date kekekekek. Jurus terlihat santai pun dikeluarkan. Pamit dengan pak jana, penjaga kosan yang baik hati dan berpesan saya pulang tengah malam jam 12-1an.
Sampai di ciwalk, langsung beli tiket dan masuk. Meski udah buru2 di jalan, ternyata rufio adalah guest star terakhir acara final kompetisi band gitu. Duduklah saya dan faisal melihat2 band tsb,tak lama si Kawe sms faisal minta dijemput di pintu masuk ciwalk --"

Ternyata si Kawe bisa masuk venue dengan tiket 50rb rupiah yang dibeli dari si monik. Ah sialan. Yaudah gpp lah.
Jam 9 atau 10, rufio siap2 main. Band-nya pun makin menarik. Berhubung kami bener beli tiket 150rb, saya mengajak faisal mendekati bibir panggung. Faisal orangnya too slow, jadi saya menarik lengannya, dia melakukan hal yag sama. Dan di sana pertama kalinya faisal mengacak2 rambut saya karena saya selalu salah mengasosiasikan Rufio dengan Taking Back Sunday. Sejujurnya, saya agak amnesia dengan Rufio hingga..

"You're graceful, your grace falls, down around me in my eyes."

yey! In mah anthem jaman SMA.

Malam itu, pertama kalinya juga saya datang ke gigs di mana orang-orang langsung moshing, body slamming, headbanging, dan crowdsurfing mulai dari lagu pertama sampai lagu terakhir. Saya yang udah berusaha maju ke depan panggung, otomatis harus mundur bersama cewek-cewek senasib seperjuangan kalo nggak mau keseruduk banteng. Haha seru sih! Bandung ekspresif!

Si Faisal tak lama hilang turun ke mosh pit. Saya sendiri menikmati musik dan atmosfir malam itu hingga si Faisal muncul lagi dengan rambut awut-awutan sambil berkata,”ah sialan gue jatoh dua kali gara2 kejiret tali sepatu” dia menunjukkan sepatunya yang tidak terikat talinya. Entah kenapa sampe sekarang momen ini terekam jelas banget di kepala saya. Maybe that's the first time i saw him as a very expressive (or agressive, haha) guy.

Usai rufio manggung, kami foto-foto di luar venue. Ga dinyana, ternyata personil Rufio keluar dan sukses dikerubutin bak gula merah di atas meja. Dengan hanya sedikit perjuangan, saya faisal kawe bisa berfoto dengan mereka semua.


foto bareng gitaris Rufio Jeremy Binion Rufio,
Faisal masi gondrong, n entah knp saya terlalu deket ketek Jeremy --"

Kami nongkrong bentar di Circle K, makan pecel sambil bercakap-cakap ttg negara, nasionalisme, dll (gatau siapa yg mulai), nganter Kawe, lalu kembali ke Jatinangor. Saya liat jam sudah pukul 2 lewat. Wow, akankah pak jana masih terbangun dan mau membukakan pagar buat saya?

Sampai jatinangor, ternyata Jatinangor mati lampu termasuk kosan saya. Menunggu pak jana membuka pagar, faisal menunggui saya depan pagar.

“Ah, gue diculik ical dan dikembalikan sebelum pagi tiba”. Ical cuma diam dan tersenyum. (Gimana gue tau dia senyum ya? kan gelap gulita). Lalu kami berpisah seiring pak jana membukakan pagar.

Stockholm syndrome di Y!M
Esoknya, saya meng-update status ym “stockholm syndrome”. Bagi temen-temen yang belum tau apa itu stockholm syndrome. stockholm syndrome adalah, coba ketik di google hehe. Yah, versi romantisnya sih, keadaan di mana sandera (yang diculik) jatuh cinta sama penculiknya.

Tentu saja, asosiasi saya berhubungan dengan kejadian semalam di mana faisal “menculik” saya untuk nonton Rufio. Faisal yang waktu itu intens ym-an sama saya bertanya-tanya apa itu stockholm syndrome. Saya bilang. cari aja sendiri. Dan dia terus mendesak. Saya menunda memberitahunya hingga waktu yang tepat.

--
Well, setelah itu banyak yang terjadi di antara kami. Hingga suatu hari Faisal ngaku kalo dia sudah lama tau apa artinya stockholm syndrome. “I just want to hear it from you”, katanya. Bisa aja lo, ah! *sambil cengar-cengir cengengesan*

Waktu itu saya curiga juga si, ngapa cowok pinter kayak faisal sama terminologi stockholm syndrome aja ga ngerti2. Haha.. ternyata..

Hhmm... jadi inget percakapan yahoo messenger kita pas saya lagi mellow mlehoy setelah kamu (kebiasaan nih ganti-ganti kata ganti orang--") ngaku udah tau terminologi tsb dari lama. Saya akan memberitahu kamu apa artinya stockholm syndrome dan kamu pura-pura tidak tahu artinya. Well, that day has come, dear. Here we are.

^^ dengan caranya sendiri, dan kadang nggak terbayangkan, Faisal selalu sukses buat saya jatuh cinta berkali-kali sama dia. more stories to come, i hope :)

Monday, October 24, 2011

*this essay has no thesis statement
**some of paragraphs (ok, many paragraphs) below are quoted from site http://www.guardian.co.uk/media/2011/jan/22/social-networking-cyber-scepticism-twitter


These days, everyone has two living types. First, is in the real one and the second is in virtual one. The real one is the world we live everyday when we wake up, go to school or office, and back to sleep at the end of the day. The virtual one is in the internet. We have names, characters, and friends there. It's called social media.

According to Wikipedia, “The term Social Media refers to the use of web-based and mobile technologies to turn communication into an interactive dialogue.” There are different types of social media: collaborative projects (e.g. Wikipedia), blogs and microblogs (e.g. Twitter), content communities (e.g. Youtube), social networking sites (e.g. Facebook), virtual game worlds (e.g. World of Warcraft), and virtual social worlds (e.g. Second Life). At the top of social media networking in the world, which is known to us as Facebook.

If you just meet someone new, while asking your names, your contact numbers, there's no doubt they will ask you your Facebook profile. After that, they will add you as their friends and you will communicate through it. It's a good thing to know the details of someone, including their personal information, their stupid and cool photos, and even know what kind of persons they are based on looking their Facebook profile. But, if you know a person and can communicate with them just by sitting in front of your computer, does it improve your communication skill in real life? You can have hundreds or even thousands of friends on Facebook, but does that make you more social? Does Facebook contribute to deeper and wider social experience?

Sherry Turkle, author of a new book, Alone Together: Why We Expect More From Technology and Less From Each Other, said that the study allows Facebook to define what makes for social behavior. “I’m all for sharing photos, but you can be pro-photo sharing without being convinced that it expands our social lives,” Dr. Turkle said. “It’s a way of defining downwards what it means to be social.” (http://www.nytimes.com/)

The way in which people frantically communicate online via Twitter, Facebook and instant messaging can be seen as a form of modern madness, according to a leading American sociologist. Turkle's book, published in the UK next month, has caused a sensation in America, which is usually more obsessed with the merits of social networking. Turkle said on Stephen Colbert's late-night comedy show, The Colbert Report, she had been at funerals where people checked their iPhones, Colbert quipped: "We all say goodbye in our own way."

Turkle's thesis is simple: technology is threatening to dominate our lives and make us less human. Under the illusion of allowing us to communicate better, it is actually isolating us from real human interactions in a cyber-reality that is a poor imitation of the real world. The hit movie, The Social Network, paints an ironic, sad picture of relationships in the age of Facebook. The creators of the most powerful social media website in the world, one that focuses on having lots of friends, are utterly unable to have true friendships.

Inspite of the critics for social medias, there are always defenders who point out some positive ways of this era. Professor William Kist, an education expert at Kent State University, Ohio, is one of them. He point out that emails, Twitter and Facebook have led to more communication, not less – especially for people who may have trouble meeting in the real world because of great distance or social difference."When you go into a coffee shop and everyone is silent on their laptop, I understand what she is saying about not talking to one another," Kist said. "But it is still communicating. I disagree with her. I don't see it as so black and white."

Some experts believe the debate is so fierce because social networking is a new field that has yet to develop rules and etiquette that everyone can respect. In conclusion, it's our decision to use social media networking wisely and lead us to be more or less social person.(*)

Thursday, August 18, 2011

Yang buat he-he-he.


Nikung tingkat dewa.

Sekretaris #1: "Eh, lagu di HP-mu bagus banget deh, mau dong!"
Karyawan: "Oh, boleh... pake bluetooth aja ya..."
Sekretaris #2: "Eh, gua juga mau! Jadi nomer HP kamu berapa?"
Karyawan: "..."
Kantor di Pluit, didengar oleh karyawan lain yang merasa sekretaris #2 cukup agresif.

Mungkin dia berselingkuh?

Ustad: "Jadi ayam itu hebat sekali. Selama mengerami telurnya dia berpuasa, bahkan dengan puasanya itu, dia bisa menetaskan anak itik dari telurnya..."

Senen, didengar oleh seseorang yang merasa ayam itu bagian dari sinetron.

Menggoda juga butuh data akurat.

Bapak: "Waduh, mbaknya cantik sekali ya, soleha seperti Revalina S. Tomat."
Penjaga Pom Bensin berjilbab: "..."
Anak: "Revalina S. Temat, Pa..."
Bapak: "Oh iya, itu. Abis pipinya merah seperti tomat..." (ngeles)
Penjaga Pom Bensin: "Makasih, pak..."
Bapak: "Kapan-kapan daftar aja casting, siapa tau bisa kaya dia di Perempuan Berkalung Korban."
Anak: "Grrrr..."
MT Haryono, didengar oleh si anak yang langsung ingin bersembunyi di dalam truk tangki.

Pasti mbak gak suka deh!

Pengunjung: "Mbak, saya pesen salmon maki-nya satu ya..."
Pelayan: "Iya, tapi itu mentah lho, mbak."
Pengunjung: "Iya, nggak apa-apa, mbak. Saya juga tau kok itu mentah."
Pelayan: "Tapi amis gitu, mbak!"
Pengunjung: "..."

Restoran Sushi di Jakarta, didengar oleh pengunjung yang merasa dia tidak akan dibolehkan makan ikan mentah.

Udah bingung, gak kenyang lagi.

Bapak: "Kenapa kok cemberut?"
Anak SD: "Tadi katanya ada santapan rohani di sekolah. Tapi isinya ceramah, gak ada makan-makannya."
Didengar oleh kakak yang langsung terpingkal-pingkal ngeloyor ke dapur.

101 buat ibu!

Anak: "Arti 'don't mention it' apa ya?"
Ibu: "Itu lho, anjing totol-totol."
Sebuah tempat les bahasa Inggris, didengar oleh ibu lain yang langsung berhenti ngerumpi buat ngakak.

Iya juga sih...

Penjual: "Permen karet, permen kareeeet! Beli permen gratis kaareeeet!"
KRL, didengar oleh penumpang yang ingin menjepret lidah si penjual.

Tapi akan dipikirkan lagi kok.

Polisi: "Siang pak, bapak telah melanggar lampu merah."
Pengendara motor: "Maaf, pak, saya buru-buru. Istri saya mau melahirkan."
Polisi: "Ya sudah, silahkan lanjutkan, semoga istri dan anak bapak selamat."
Pengendara motor: "Terima kasih, pak, saya akan ingat kebaikan bapak. Tapi saya gak janji kasih nama bapak untuk anak saya."
Lampu merah Pondok Bambu, didengar oleh pengendara lain yang ingin menjanjikan nama polisi ke anaknya supaya tidak ditilang.

Cari alasan yang lebih bener kenapa?

Di tempat karaoke,
Cowok: "Jangan gua deh, gua gak apal liriknya!"
Didengar oleh semua teman yang ingin menjejalkan mic ke mulut cowok itu.

Kalau kotor nanti ditilang!

Ibu: "Nak! Pake serbetnya! Itu banyak polisi!"
Dalam sebuah mobil di Sudirman, didengar adik kakak yang berpikir ibunya ingin menyuapi mereka lagi.

Panjang bisnya, panjang bisnya!

Ibu-ibu: "Bang, bisnya rame banget sih!"
Kenek: (muka lempeng) "Iya nih, bu, supirnya lagi ulang tahun."
Kopaja, didengar oleh penumpang lain yang ingin melempari kenek dengan telur mentah.

Apabila film Warkop berasal dari Hollywood.

Cowok #1: "Wah, rambut loe beruban!"
Cowok #2: "Emang, banyak banget! Tapi bulu ketek gua pirang. Mau liat?"

Plaza Senayan, didengar oleh cowok #1 yang ingin mendorong temannya dari eskalator.

Sungguh orang yang tidak beradab!

Cewek: "Aku paling sebel kalau ada orang pup di lift!"
Kedua teman: "Kentut maksud loe kan?"
Restoran di Pacific Place, didengar oleh kedua teman yang langsung guling-guling di bawah meja.

Cukup hebat samarannya.

Cowok: "... setelah tiga tahun, baru ketahuan dia itu perempuan."
Didengar oleh seseorang yang sedang lewat dan tiba-tiba tersandung.

Liat dong Miki dan Mini!

Cewek #1: "Kalau ada musang lewat, kan enak tuh, baunya kaya pandan."
Cewek #2: "Masa, emang musang itu kaya apa sih?"
Cewek #3: "Itu lhooo, moncongnya panjang, kaya tikus..."
Cewek #4: "Ihhh, bukaaan, musang kan kakinya empat!"
Karawaci, didengar oleh cewek #2 yang paling tidak masih tahu tikus berkaki berapa.

Keinginan pribadi paling dalam...

Di sebuah kolam renang,
Anak SMA: (sedang berenang, berteriak) "Papa, papa! Aku kaya anjing laut gak?"
Jakarta, didengar oleh pengunjung lain yang bingung apakah dia masuk ke Seaworld.

Macho dan berlipstik?

Progammer: "Tolong bikinin avatar default dong..."
Illustrator: "Kaya gimana avatarnya?"
Programmer: "Avatar orang gitu. Tapi dibikin bisexual ya..."
Kantor di Jakarta, didengar oleh designer lain yang merasa si programmer baru saja membuat sebuah pengakuan.

Mau ongkos pulang, dek?

Pembeli: "Bakso, mas, dua mangkok."
Penjual: "Iya mas... makan di sini?"
Pembeli: "Iya di sini, rumah gua jauh, mas..."

ITC Cempaka Mas, didengar oleh pelanggan lain yang merasa mendengar curhat.

Supaya tidak bikin penuh.

Petugas pintu TransJakarta: "Ya, yang Buncit, yang Buncit turun, hati-hati..."

Halte Buncit Indah, didengar oleh semua penumpang yang langsung mengecek perut mereka.

Kirain mau pake jengkol...

Pengunjung: "Bu, udah, bu... mau bayar..."
Pemilik warung: (siap mencatat) "Pake apa, mas?"
Pengunjung: "Pake duit, bu..."
Warung Tegal di belakang Mal Ambassador, didengar pengunjung lain yang ingin makan recehan.

Bisa buat TV juga kayanya...

Ibu-ibu: (setengah panik) "Mbaaaak, hape siapa yang ketinggalan iniiii?"
Karyawan: "Bu, itu remote AC, bukan hape..."
BUMN di Rawamangun, didengar karyawan lain yang langsung tiarap sembunyi di balik meja untuk tertawa.

Karena guru kencing... apa hayo?

Cewek: "Temenin gua ke kamar mandi dong... ah, jangan disitu, gua males kalo WC duduk, enakan yang WC berdiri!"
Didengar oleh temannya yang mulai curiga si cewek bukan seperti yang dia kira.

Wednesday, December 29, 2010

22-12-2010 (Hari Rabu, hari Ibu, dan hari ulang tahunmu)

Daripada euforia jadiannya, saya lebih fokus ke depannya. Menantang diri sendiri untuk bertanggungjawab atas apa yang telah dimulai. Tentu saja, tantangan yang menyenangkan.

Kalo kata kamu, “abis tanggal 19 itu, gue ngerasa tembok yang di depan gue runtuh. Selanjutnya, ada lapangan luas di hadapan gue. nah, sekarang mau digimanain nih tu lapangan..”

Kalo kata saya, “pas tanggal 16, gue udah ngerasa lega. Tanggal 19, lega sih. Lebih lega lagi. Tapi kayak naik level gitu loh. Mm susah membahasakannya.. lu ngerti lah yaa.” Dia mengangguk.

Itu kayak main game. Two players. Kita udah lewatin level 1 (eh atau level 2 ya?). pokoknya gitu lah. Kita terus naik level. Dan semakin tinggi level, semakin sulit musuh-musuh yang akan dihadapi. Tapi juga makin seruu!!! Sampe akhirnya kita nanti harus ngadepin raja yang gede banget buat dikalahin tiap naik level (oke, ini sebenernya yang kebayang game macem space wars gitu hehe).

Nggak ada yang tau kita bakal game over di level berapa, atau apakah kita bisa namatin game ini dengan kemenangan: menghancurkan raja super di level akhir. Ga ada yang tau. Seperti halnya jargon hubungan kita: “let it flow, dear”

This is the most natural feeling I’ve ever felt. Kalo bisa bilang, semuanya berjalan alami. Ga ada yang direkayasa. Spontan, tidak taktis, ngga ada yang dibuat-buat. Hanya perlu niat baik, hati yang tulus, dan biarkan semesta menjalankan sisanya. Resminya hubungan kita juga, bagiku bukan kayak hal yang besar, mewah, dan perlu perayaan sebagaimana maraknya pesta tahun baruan di mana semua orang bebas mabuk saat itu (maklum, bentar lagi taun baru). Bukan kayak gini nih..



Bukan, bukan imej semacam itu yang terbayang di benak saya. tapi lebih kayak, saya sedang merebahkan diri di atas padang rumput yang luas lagi hijau. Siang-siang, santai, angin bertiup semilir, dan langit pun cerah.


Damai. Itu tepatnya. Saya merasa damai. Maybe it’s the feeling when love and friendship come together at the same time. I’m feeling good. I hope you feel the same way, too.

--
p.s. happy birthday, Mr. Magician.

Friday, December 24, 2010

Meracau ke sana kemari. Hingga akhirnya keluar dari mulutmu pertanyaan, “Kita tuh sebenernya lagi ngapain sih?” Kembali kita meracau lagi. Ah, berbelit-belit deh.

Saya: jadi, lu sayang sama gue?

Dia: iya.

Saya: gue juga.

Dia: tos dulu dong

PLAKK! *bunyi tos

Kamu pun bertanya, “Are we a couple now?” Saya balik bertanya, retoris. “Are we a couple now?" And you said yes. We both smiled.

Sunday, December 19, 2010

I'll be seeing you
In all the old familiar places
That this heart of mine embraces
All day through

In that small café
The park across the way
The children's carousel
The chestnut tree
The wishing well

I'll be seeing you
In every lovely summer's day
In everything that's light and gay
I'll always think of you that way

I'll find you in the morning sun
And when the night is new
I'll be looking at the moon
But I'll be seeing you

— I'll Be Seeing You (Iggy Pop & Francoise Hardy)

Wednesday, December 01, 2010

Dua orang mahasiswi tingkat akhir dipertemukan sebagaimana takdir dituliskan sebelum mereka lahir –mungkin. Banyak perbedaan diantara mereka: beda tinggi badan, beda berat badan, beda pengalaman, termasuk beda dalam nasib percintaan. Y sudah berpacaran menahun, D sudah jomblo menahun. Namun, mereka dipersatukan dalam satu tugas besar, mata kuliah Depth Reporting dengan tema *watch yourself*: waria.

Ternyata, tugas perkuliahan untuk dua mahasiswi tingkat akhir ini bukan tentang waria dan dunianya saja, tiap harinya ada ribuan tugas lain menanti untuk dikerjakan. Hingga h-1 keberangkatan Y ke Singapore, terjadilah percakapan berikut di kosan D. Saat itu, situasi Y begitu tertekan karena ada dua deadline tugas yang harus ia selesaikan dalam semalam demi keberangkatannya ke negeri singa, D lagi santay.

Y (melenguh seperti sapi, pikirannya lelah): Apa gue abis ini ketemu cowok gue dulu aja ya

D: Hah, serius lu? (D mengerti perasaan Y tapi waktu juga sempit). Gimana kalo cowok lu aja suruh dateng, nemenin lu ngerjain tugas..

Y: ah itu udah sering dicoba dan nggak pernah berhasil. Ujung-ujungnya pasti nggak ngerjain tugas malah pacaran

D: iya juga. Lagian, masak ada cowok trus dianggurin sih

Y: iya yah.. rugi banget yah

*LOL!

Saturday, October 02, 2010

Kamis, 30 Oktober 2010

Ketika saya lagi gaul di perpus jurusan, ambil buku, buka..

“if you don't stand for something, you'll fall for anything”

Begitu bunyi tulisan menggunakan pensil di halaman depan setelah cover buku berwarna biru itu. Saya tertampar, ah bukan, tertegun, hmm lebih tepatnya tersadarkan. Saya sudah ribuan kali mendengar kata-kata itu, namun ketika momen yang tepat tiba, saya baru bisa memaknainya.

Sudah lama. Saya lupa. Kalau manusia. Harus punya. Prinsip.

Friday, September 17, 2010

selamat datang katanya,
duduk
bercakap-cakap
bercangkir-cangkir kopi
sepanjang malam
hingga tuan-tuan rumah bertanya
"mengapa kau di sini?"

tamu itu berpikir,
harusnya di mana
ruangan itu mulai sesak
oleh tali-temali
oleh oksigen yang tak dikenali

seharusnya di hutan
mencari jalan di belantara
seharusnya di laut
menyelam di antara karang
seharusnya di kota
menundukkan pencakar langit
seharusnya di desa
melintasi damainya sawah
seharusnya di gunung
mencicipi jengkalan awan

masih kurang kisah rupanya
matahari mulai terbit
tak ada tidur malam ini
sang tamu berdiri
berlari ke pintu

bukan rumah sebelum kau temukan yang kau cari

Sunday, August 29, 2010

yahh.. aku kan emang orangnya nggak pernah bilangin kamu boleh ini, nggak boleh itu, blablabla.

aku cuma selalu mengutarakan pendapat aku terus sisanya kamu mikir sendiri. kamu kan manusia dewasa, masak mikir aja harus dibantuin?