daily thoughts and activities

Saturday, July 04, 2009

Setelah melalui masa kapok dengan internet -tentu saja aplikasinya- yakni gmail, ym, dan facebook.. finally saya kembali dan berusaha berhasil mengatasinya dan saya pikir saya memang berhasil. Yea, apalagi penyebab traumatic saya terhadap tiga aplikasi tersebut kalau bukan tragedi yang akhir-akhir ini saya tulis di postingan sebelumnya secara abstrak (karena memang bukan konsumsi umum). Oh well, singkat cerita saya baru sembuh dari perasaan down level tinggi karena kehilangan seorang teman baik, purely my fault.

Tapi saya tidak ingin melebih-lebihkan keadaan dan memperburuk situasi yang sudah memang buruk. Saya ingin bangkit. I’ve lost a friend. Fortunately, I haven’t lost myself. That’s the point. Life must go on, dear. Oleh karena itu, saya pun ingin menuliskan hal-hal lain di luar topik tersebut. Umm, let’s try.

Tanggal 23-29 juni kemarin saya mengikuti Bandung Tour De Bali. Berdua saja (tadinya mau berenam tapi ga jadi), dengan mantan pacar saya. Rencana berlibur ke Bali sudah kami buat sebelum putus dan mungkin kalian bisa membayangkan betapa kacaunya rencana tersebut. Dilematis. Antara uang dan harga diri. Huahahhahahha. Ga ikut, sayang duitnya (udah disetor ke si travel agent). Ikut, ga enak maning. lagi benci-bencinya soale putusnya beneran baru banget, kayak tai ayam gitu, masih anget. Bodohnya, dina yang ga konsisten ini malah berprilaku seperti masih seorang girlfriend buat dia. Dan dia berprilaku sama. Kita udah kayak sepasang kekasih yang berlibur. Yah, pokoknya apa yang terjadi seminggu kemarin tidak membuat saya berubah pikiran untuk tetap single.

Cerita Balinya saja ya teman-teman.. Perjalanan menuju Bali melalui jalur darat bener-bener ga bikin ketagihan. Kayaknya saya ogah dua kali deh naik bus dua malem menuju Bali. Sampai di Bali hari pertama, kita (saya dan rombongan tur) mengunjungi Galuh, Cening Ayu, Krisna, dan apa lagi saya lupa. Pokoknya semua pusat oleh-oleh. Jadilah hari pertama saya sudah kere duluan, shopping ‘til die.
oya, kami juga mengunjungi Bedugul. which is, fotonya adalah ini, hehe




Hari kedua, kami wisata bahari. Mengunjungi Batara water sports dan saya main parasailing, juga mengunjungi pulau Penyu di sana. Lalu kami ke Dreamland dan GWK (Garuda Wisnu Kencana). Yang paling berkesan buat saya adalah GWK. Okei banget. Tiap ujung jengkalnya adalah karya seni. Jenius gilak itu si Nyoman blablabla yang jadi otak atas patung GWK dan karya-karya dia lainnya. Malamnya, kami romantic dinner di Jimbaran. Oh yes, ada kejadian yang romantis tapi pasangan lain yang melakukannya. Heheheh.

Hari terakhir, saya dan my ex menyempatkan diri ke Sukowati dan kami juga baru nyadar kalau Pantai Kuta begitu dekatnya dari hotel tempat kami menginap. Hahahhah. Tau gitu mah kita ke pantai mulu, til die! Lalu bersama rombongan kita ke Joger dan Tanah Lot. Terus pulang deh.. oleh-olehnya untuk keluarga saja. Love them damn much :-*

Monday, June 22, 2009

Saya ingat Kamis lalu, 18 Juni, saya yang bête karena seseorang, memutuskan tidak ikut bersenang-senang bersama yang lain dan hanya ingin jalan, menghilangkan rasa kesal campur sedih. Kamu yang baik, memaksaku untuk naik ke motor dan pergi bersama. Tapi saya hanya ingin berjalan sendiri. saya berkata saat itu, “gue lagi pengen jalan. Sama kayak loe. Kalo lagi sedih atau bête loe juga cuma pengen jalan kan. Dan berharap di tempat tujuan rasa sedih loe udah ilang.”
Sejak sabtu lalu aku sudah berjalan terlalu banyak namun rasa sedih ini tidak pergi juga. Tidak tahu, berapa kilometer lagi ku harus berjalan hingga sedih ini berganti.

Sunday, June 21, 2009

From : dina tsh
To : God
Date : Mon, Jun 22, 2009 at 09:20 AM
Subject : [spatubutut] a letter to God
mailed-by: blogger.bounces.google.com


Dear God, please send him an angel. Amen.


I’ve lost a friend. He’s my precious.

Saya tidak pernah merasakan kehilangan seseorang sebesar ini. I can’t handle this kind of feeling. Mungkin saya tidak akan pernah mengerti rasanya jadi dia yang tersakiti begitu dalam. Dan pernyataan maaf seperti apapun tidak bisa menghilangkan rasa sakitnya.

Tapi tetap, saya ingin mengatakan ribuan maaf ke kamu. Maaf maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf.. aku ngga tahu lagi caranya minta maaf. Sepertinya untuk minta maaf pun sebenarnya saya sudah nggak punya muka ke kamu. Dina yang bodoh ini cuma bisa mengutuki dirinya sendiri.

Di siang hari, saya selalu bisa mengalihkan pikiran dan melakukan kegiatan bersama teman. Namun, ketika malam datang dan aku sendiri di kamarku, pikiran ini rasanya ingin gila saja. Selalu bertanya: KENAPA.. tak ada habisnya….. Maaf :(

in your old room where we caught you
stepping through some old song

you said came from
where your going
a lady read it in you palm

down at the 12th avenue market

the promise you will not forget

you are going

till its gone


screen went blue
before i touched you
and my ride went home

all the photos came out lonely
but we're not alone
talking of everything we could not hope

i was stupid of thinking of east coast

already now its gone


there are things i cannot forget

i wish none had happened yet

there are some things i cannot forget


we were stronger than the preachers

we were wiser than the wall

took our sleeping by the river
and the beaches in your car
up where you taught me how to drive a stick

and told me your family secret

you were scared i was caught


why'd you stay behind
packing for the trip
why'd you ask me to be the one

first through your lips

i was awkward and i could not hear

your body through my body's fear

we were going to hell


there are things i cannot recall

there are some things that would risk it all

but these are the things we cannot recall

these are the things i cannot recall


**Things I Cannot Recall (by: Blind Pilot)

Monday, June 01, 2009

Sepertinya saya ini orang yang hidupnya hanya dituntun oleh mimpi. Mimpi saya segudang, beberapa mengatakan mimpi saya rendah. Nyatanya, mimpi serendah apapun tidak dapat diraih dengan mudah. Namun sebenarnya mimpi saya tidak rendah, hanya saja saya tidak pernah menceritakan dengan detail apa saja yang hendak saya raih. Saya ingin bahagia dan sukses. Bukan sukses. Lalu bahagia.

Keegoisan saya dalam mencapai mimpi ini sangat tinggi. Saya selalu berpikir positif bahwa saya mampu meraih semua mimpi saya. Sayangnya, hal tersebut berdampak negatif kepada orang lain. Orang lain pertama yang nampaknya selalu saya kecewakan adalah orangtua. Tidak bisa tidak, saya berprilaku sebagai bukan anak yang patuh dan diperbudak mimpi sendiri di depan mereka. Seringkali menangis, mengancam, demi membujuk mereka mengikuti keinginan saya.
Dengan mimpi pula, saya berdoa. Sepertinya, tanpa bermimpi saya tidak akan pernah terpikir untuk menemui dan memohon kepada-Nya. Sepertinya, menyembah-Nya bukan tujuan saya. Beribadah dan berdoa Nampak hanya sarana demi mencapai mimpi saya. Sarana yang esensial. Munafik kah? Dosa besar kah? Fasik kah? Tuhan, beri saya umur..

Sunday, February 15, 2009

dua postingan sebelumnya membicarakan hal yang berbeda. tentu saja, sensasinya juga beda.

hmm.. jadi pengen make jaket

Oje sudah selesai. Ga nyangka udah terlewati semuanya. Kontribusi saya sejauh ini tidak cukup besar mungkin di banding teman-teman yang lain tapi lumayanlah. Menjadi bagian dari tim getting desk lifestyle, saya getting malas bukan kepalang. Di kepanitiaan sosialiasasi oje, saya berada di divisi publikasi. Kemudian di pra oje jadi dokumentasi dan pada oje-nya beralih jadi logistik. Wara-wiri.

Nun aneh jauh di sana, ketika teman-teman heboh dan bergelora terhadap kaum muda alias jurnal-jurnil yang baru saja resmi bernaung di bawah payung hmj, saya malah diresahkan dengan… perasaan-perasaan di luar itu, sesuatu yang bukan termasuk ranah esensi oje, hehe.

Monday, February 02, 2009

Asyiknya jadi kepala negara. Well, itu yang ada di kepala saya ketika menyaksikan berita TVOne sekitar pukul enam lewat, 30 Januari lalu. Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan mengecam keras atau bahasa gaulnya menyinggung atau mempermalukan Presiden Israel Shimon Peres pada World Economic Forum. Lalu ia meninggalkan forum internasional itu begitu saja. Lanjutannya, pas bailk ke tanah air ia dielu-elukan oleh warga Turki. dahsyat.




Enak juga yah, klo jadi kepala negara gitu bisa merealisasikan sikap tegasnya sama Israel. Lah saya, hanya bisa mengutuk-ngutuk di depan kotak ajaip berwarna. Ah saya bangga sekali dengan kepala-kepala negara yang bisa menyuarakan kata hatinya tanpa takut dengan tetek bengek Amerika maupun Eropah. Turki, Iran, Venezuela, dan lain-lain. Nice job!