“Legenda dan kisahnya sudah diturunkan dari generasi ke generasi. Ketenarannya bahkan sudah menyentuh banyak bagian negeri ini. Sangkuriang, Interniran, Ambulans Bahureksa, Rumah Kentang, Patung Pastor Verbraak, Nancy, dan Sumur Keramat Bandung. Kini, terserah Anda untuk memercayainya.”
BANDUNG TRAILS menggelar URBAN-DUNG LEGEND 2009 jalan-jalan malam bertema legenda dan hantu Bandung
Sabtu, 7 November 2009 Meeting Point : Seberang SMA Santo Aloysius, Jl. Sultan Agung (jam 19:00) Ending Point : Gedung PLN, Jl. Asia Afrika (jam 22:30)
MENGUAK : Kisah Interniran, Ambulans Bahureksa, Rumah Kentang, Patung Pastor Verbraak, hantu Nancy, dan Sumur Keramat Bandung.
TIKET : Rp 35.000/org (umum), umum ≥ 5 orang Rp 30.000/org Rp 30.000/org (anggota milis BTers, plus mahasiswa, anggota milis Bdg Heritage, JPPI, Archipelago Trails, TM Online, Tourism-Indonesia) Termasuk: interpreter (pemandu), donasi Rumah Kentang & Sumur Bandung, makan malam & minuman spesial Urban-dung Legend “Bloody Nancy”, pin eksklusif BANDUNG TRAILS, dan games & prizes
BOOKING & PEMBAYARAN : Booking: 022-7149667 (no sms please) Pembayaran: Bank Mandiri Cab Setiabudhi no rek 132-00-0698336-6 an Bandung Trails atau BCA Cab Kiaracondong no rek 280-049791-7 an Teguh Amor Patria (mohon sms segera setelah pembayaran ke nomor booking di atas berikut nama bank, jumlah peserta & jumlah transfer) paling lambat Kamis, 5 November 2009
DRESS CODE (disarankan tapi tidak wajib) : mengandung unsur Haloween (contoh: topeng, jubah, lentera, lampion labu, sapu, dsb) untuk keunikan pendokumentasian event
Booking segera – tempat terbatas 75 orang saja – dan ikuti kuis berhadiah. Bawa juga kamera Anda!
Urban-dung Legend 2009 – Lebih malam, lebih lama, dan lebih menghibur…!
Catatan : Urban-dung Legend merupakan perpaduan antara jalan-jalan dan entertainment bertema legenda dan kisah-kisah hantu terkenal di Kota Bandung. Urban-dung Legend 2009 tidak mengajak peserta masuk ke dalam bangunan-bangunan yang erat kaitannya dengan kisah-kisah tersebut, kecuali Rumah Kentang dan Sumur Bandung. Peserta tur diharapkan untuk membatasi harapan dalam konteks sewajarnya.
The Original BANDUNG TRAILS, founded in 2003, is dedicated to promoting Bandung and its heritage to the public through educational and tourism activities. Address: Jl H Ibrahim Adjie 304 No 24, Bandung, West Java, Indonesia. Tel: 022-7149667 E-mail: info@bandungtrails.net. Website: www.bandungtrails.net Join our Mailing List: bters-subscribe@yahoogroups.com and Facebook bandungtrail@yahoo.co.id
“The legend and the stories have been told from generation to generation. Their fame is even nationwide. Sangkuriang, the refugee camp, Bahureksa Ambulance, Potato House, Verbraak statue, Nancy, and the Holy Well of Bandung. Now, it’s up to you to believe.”
BANDUNG TRAILS organizes URBAN-DUNG LEGEND 2009 an evening walk of Bandung’s legend and ghost stories
Saturday, November 7, 2009 Meeting Point : Opposite of SMA Santo Aloysius, Jl. Sultan Agung (7 pm) Ending Point : Gedung PLN, Jl. Asia Afrika (10:30 pm)
DISCOVER : The story of the refugee camp, the Bahureksa ambulance, Potato House, Verbraak statue, the ghost of Nancy, and the holy well of Bandung.
TICKET : IDR 35.000 p.p. (public), public ≥ 5 persons IDR 30.000 pp IDR 30.000 p.p. (members of BTers mailing list, plus students, members of Bdg Heritage, JPPI, Archipelago Trails, TM Online, Tourism-Indonesia mailing list) Inclusive of: interpreter, donation for Potato House & Bandung’s holy well, dinner & Urban-dung Legend’s special drink “Bloody Nancy”, BANDUNG TRAILS’ exclusive pin, and games & prizes
BOOKING & PAYMENT : Booking: 022-7149667 (no sms please) Payment: Bank Mandiri Cab Setiabudhi # 132-00-0698336-6 Bandung Trails or BCA Cab Kiaracondong # 280-049791-7 Teguh Amor Patria (pls sms right after payment to the above booking number along with the info on the bank, number of participants, and amount of transfer) by Thursday, November 5, 2009
DRESS CODE (recommended but not compulsary) : Haloween (eg: mask, robe, lantern, pumpkin lamp, broom, etc) for unique documentation
Book soon – place is limited to 75 persons only – and join games. Bring along your camera!
Urban-dung Legend 2009 – Later, longer, and more entertaining…!
Notes : Urban-dung Legend combines walk and entertainment. Urban-dung Legend 2009 will not take participants into the houses/buildings associated with the stories, except Potato House and the holy well.
The Original BANDUNG TRAILS, founded in 2003, is dedicated to promoting Bandung and its heritage to the public through educational and tourism activities. Address: Jl H Ibrahim Adjie 304 No 24, Bandung, West Java, Indonesia. Celullar: 022-7149667 E-mail: info@bandungtrails.net. Website: www.bandungtrails.net Join our Mailing List: bters-subscribe@yahoogroups.com and Facebook bandungtrail@yahoo.co.id
Ini postingan beberapa malam yang lalu. yang di tengah-tengah menulis, saya baru sadar anjis-ni-tulisan-pribadi-banget. abis itu saya berenti. Hehe. Tapi karena udah telanjur saya tulis panjang-panjang sekalian saja saya posting temans. Satu hal yang saya suka dari posting sesuatu di blog adalah, di kemudian hari saya bisa tertawa, bisa malu, dan keluar komentar begini, “oh dulu ko cara berpikir gue culun abis sih”. Yea, sekedar meninggalkan jejak. So, here we go.
----
Mmh.. baru jam setengah sembilan malam. Tumben saya ‘on’ jam segini. Maksut saya, ‘on’ di sini saya lagi ngerasa waras, detak jantung normal, adrenalin terpompa (loh, detak jantung sama adrenalin gimana si hubungan keduanya? Apa mereka satu orang eh organ atau gimana?). ‘on’-nya saya menyebabkan saya melakukan sesuatu yang terduga, tidak terencana, dan akan menimbulkan rasa OH-MY-GOD-KENAPA-BISA-BISANYA-GUE-MELAKUKAN-HAL-ITU di kemudian hari. Bukan penyesalan, hanya rasa malu yang bukan kepalang. Di lain pihak, ada rasa puas karena telah melakukan sesuatu. Yea, dina tanpa spontanitasnya hanya akan jadi orang yang terlalu banyak mikir dengan action nol. Dan postingan ini, akan menjadi salah satu tindakan tanpa berpikir panjangnya. Menyeramkan.
Saya lagi senang sama aplikasi twitter. Dengan stats sekarang, yakni 11 followers dan 35 following terlihat jelas saya bukan orang eksis dan populer di aplikasi tersebut (atau di belahan bumi manapun). Saya juga tidak pernah mempromosikan account saya di twitter karena, saya merasa nyaman hanya saya yang tahu saya punya social-networking account tersebut. Mereka yang (pada akhirnya) tahu saya punya account di twitter karena saya follow, hanya teman-teman dekat -yang tidak saya rencanakan untuk nge-follow saya. Hehe.
Dan, facebook jadinya.. umm, males ngurusnya. Sebenernya, yang bikin saya ilfil sama facebook adalah, aplikasi chatting-nya yang tiap saya buka fb ada saja orang yang ngajak ngobrol padahal saya nggak suka ngobrol kecuali punya interest sama atau punya tendensi tertentu. Huh. Ya, emang salah saya yang gaptek –dan baru-baru ini melakukannya- yakni meng-off-kan keberadaan di status chatting fb.
Kali ini, saya teringat si hp nokia 6280 yang hilang di Tanjung Lesung. Ini gara-gara getol buka twitter (yang jadi asik kalo lewat TweetDeck) dan aktivitas tersebut membawa memori lama saya ke si hp butut tersayang. Saya ingat, waktu itu hari keempat lebaran (kalo gasalah).. saya yang sedang berlibur bersama keluarga besar ke Mutiara Carita Cottage, mati gaya berada di pantai. Karena saya sudah terlalu hitam untuk (lagi-lagi) main di pantai. Yak, 6 bulan terakhir saya ke 4 pantai yang berbeda dan diperparah kkn yang mengakibatkan saya terlihat seperti akamsi di tengah anggota keluarga yang putih-putih.
Mati gaya di pantai, saya pun bermain saja dengan si hp dan lagi seru-serunya trending topics #janjijoko. Hahaha, kalo inget itu lucu banget. hari itu pula, saya jadi menyadari bahwa twitter kocak juga, bikin orang jadi gila dan menunjukkan kegilaannya. Dan sehari semalam itu saya tidak lepas dari si hp. Keesokan harinya, hp saya sudah hilang. Hueks. Begitukah kelakuan orang yang seharian bersama barang kesayangannya. Lalu ketika melihat pantai indah Tanjung Lesung langsung melupakan si hp dan baru inget pas udah perjalanan pulang.
Ok. Kemungkinan paling besar, hp gue jatuh dari tas dan cuma tersisa casing belakang yang emang dah dol.
barang bukti yang tersisa
Ok. Itu cuma hp butut yang baterenya udah bocor dan kameranya eror dan berisi kalender yang penuh sama agenda penting yang harus gue lakuin, film-film keren yang bakal muncul di tahun ini, notes yang penuh sama target-target, lagu-lagu keren yang harus didonlot, jadwal kuliah, nilai kuliah, absensi, dll.. I WANT MY CELLPHONE BACK!! Ha-ha-ha terbawa suasana doang ini mah. Sudah saya ikhlaskan kok :)
----
Udah, segitu aja yang bisa dipublikasikan. Sebenarnya, malah belum masuk inti permasalahan. No way, saya tidak mungkin pajang itu di sini. Cheers, everyone!
Anak vs orangtua. Sebenarnya saya masih bingung dengan hubungan fungsional dari siklus biologis keduanya. Orangtua melahirkan anak. Anak nggak minta dilahirkan. Tapi, katanya hidup itu anugerah paling besar jadi berbahagialah sama yang telah dilahirkan ke dunia *meureun, kalo orangtuanya KB emang itu anugerah. Gatau deh yang nggak dan bikin negara makin miskin aja dan si anak itu sendiri sengsara.
Agak melenceng sepertinya saya. Dan yang mau saya omongin adalah, mengapa dalam hubungan fungsionalis biologis itu peran masing-masing, anak, ibu, bapak, terlihat pakem, statis, dan hanya mewariskan dari, hubungan anak-orangtua versi terdahulu. Maksudnya, si mamah aku atau mamahmu, dalam mendidik anak sering tanpa referensi kecuali bagaimana cara orangtua mereka dulunya mendidik mereka. Terjadi plagiarisme di sini, penjiplakan pola asuh. Padahal, anak mereka berbeda dengan mereka. Anak-anak yang mereka lahirkan itu, yang diwariskan mutlak hanya gen dan kromosom-kromosom (iya nggak sih), absolut. Sedang sifat, karakter adalah sesuatu yang berbeda, relatif, dan berdiri sendiri.
Mungkin memang benar ada penurunan sifat-sifat seperti kalimat-kalimat yang sering kita dengar ketika seorang ibu sedang memarahi anaknya, “watakmu memang seperti bapakmu. Keras kepala.” Tapi saya percaya, everyone is made of such specific details. Elo nggak bisa memperlakukan semua orang dengan perlakuan yang sama. Semua orang unik. Nggak biasa. Nggak sama. Jangan melakukan generalisasi.
Dann, sepertinya gue melenceng lagi. Yang mau saya tekankan di sini, semua anak pasti beranjak dewasa, tapi peran “anak” ga bakal pernah bisa lepas dari dia (saya nggak memungkiri itu). Cuma satu poin yang nggak saya sreg, nggak kompatibel sama jiwa saya. Kenapa orangtua dengan mudahnya menyatakan harapan-harapan, keinginan-keinginan mereka kepada si anak -yang tanpa mereka sadari telah menaruh beban yang berat ke pundak si anak. Sedangkan, kenapa si anak tidak bisa dengan mudahnya, dengan leluasanya, menyatakan mimpi-mimpi mereka kepada orangtuanya. Orangtua sudah curi start dengan terlebih dahulu menaruh beban-beban yang telanjur dipikul si anak. Terlebih, mimpi-mimpi si anak pada akhirnya bertentangan dengan mimpi-mimpi orangtuanya.
Menurut saya, banyak orang yang menjalankan hidup nggak sesuai dengan keinginannya atau mimpinya karena faktor tadi. Padahal ya, orangtua pasti mati (I mean, everyone must be dead). Dan kita, anak-anak yang ditinggal para orangtuanya harus menjalani hidup sendiri, menemukan pendamping, dan bikin anak lagi. Mengapa hidup harus terdikte sama yang melahirkan kita. wow, saya nggak bisa menemukan kata yang lebih halus dari itu. Maaf, jiwa sarkastik.
Dan yang mau saya luruskan di sini adalah, saya mempunyai orangtua yang amazing. Mereka nggak pernah BENAR-BENAR mengikat saya untuk menjadi A atau B. jelas mereka inginnya saya menjadi seperti yang mereka mau tapi kayaknya mereka udah nyerah untuk hal itu. still, I have doubts in my mind to tell them what I really want to do in my life. Dan meninggalkan pertanyaan besar buat gue: Why.
Mungkin pola asuh tadi ya. Mereka telanjur pernah nyuri start dengan mengatakan harapan-harapan mereka dari saya, telanjur pernah mengatakan tidak atas mimpi saya, telanjur pernah menaruh beban di pundak ini dan sejumlah do’s-and-don’t’s-thingy in my mind. Well, hingga pagi ini saya akhirnya memutuskan untuk mendobrak benteng tersebut. Benteng yang entah siapa yang menciptakan. Sayakah, merekakah, tidak penting..
There are dreams that I dare to dream, I’m striving to make them really do come true.
(Tulisan ini dibuat pada Jumat (14/08) tapi baru sempat di-posting sekarang ^^!)
Hari ini saya cukup senang. Ok. Saya senang. Begini, hari ini tepatnya pukul 08.00 – 15.00 WIB saya ditugaskan menjadi juri kebersihan lingkungan dalam rangka peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus. Penugasan saya sudah dijadwalkan sejak lama. Dan sejak lama pula saya bete menunggu kedatangan hari ini. Jadi, saya sudah double bete dan bersiap-siap menjadi triple bete ketika melaksanakan tugas tersebut di hari H. ya iyalah secara saya menilai 31 RT dengan poin-poin membosankan seperti pekarangan rumah, keberadaan MCK, dan sejenisnya. Selain itu, saya juga membayangkan bahwa hari ini saya akan cape beerrraaattt melakukan safari keliling 31 RT.
Ternyata kenyataan berkata lain. Saya malah mendapat kesenangan dan saya merasa senang. Dimulai dengan kejadian switching form penjurian. Saya akhirnya menjadi juri keindahan dan kerapihan lingkungan yang poin-poin penilaiannya lebih asyik seperti pengadaan pagar, umbul-umbul, gapura, dan lampu hias. Saya juga mengalami pengalaman petualangan menjelajah desa Sindangwangi yang rapih dan indah. Melewati hamparan sawah yang menguning dengan background langit dan pegunungan, sungai-sungai, irigasi, dan juga trek yang cukup menegangkan (saya dibonceng Oke naik motor Pak Kadus).
Melihat keindahan alam itu semua saya hanya ingin berteriak “Wohoo!”. Saya pun berteriak kemudian bernyanyi-nyanyi kecil. Dan tak lupa, ternyata penjurian keliling 31 RT itu tak lain adalah wisata kuliner. Ya. Wisata kuliner, karena kami berhenti di pos ronda tiap RT untuk menyantap hidangan yang telah disajikan dan juga membungkusnya buat teman-teman di rumah induk semang.
Begitulah. Saya enjoy dengan hari ini. Lalu, ketika sore hari, ketika saya pikir hari sudah berakhir dengan happy ending.. ternyata tidak. Bad mood lantas menghinggapi hingga ingin men-skip waktu saja rasanya. Saya ingin pulang. Malam pun datang dan diisi dengan kegiatan rutin selama KKN –main poker. Hingga sebelum tidur pun saya menulis paragraf-paragraf ini. Goodnight everyone..
Tebak saya di mana. Yosh! Saya saat ini sedang berada di warnet Desa Sindangwangi. Oke banget kaann huahahahaha. Well, walaupun saya cengengesan seperti saat ini sebenarnya hati saya sedang gundah gulana tak terkira *lebay MODE: ON
h-12 menuju kepulangan ke tanah air (baca: Tangerang), saya berada dalam fase jenuh plus masalah yang pasti datang menghampiri ke siapapun insan di dunia ini. Masalah terbesar adalah canon error99. huaaa. Entah karena kemasukan pasir, atau karena udara laut, atau karena entah.. yang jelas lagi-lagi karena pantai. Sensitif sekali. Dulu juga body kamera saya pernah muncul jamur sehabis saya pulang dari pantai (nampaknya si jamur juga masih ada hingga sekarang).
Masalah terbesar (lagi), saya kangen berat dengan keluarga. KANGEN PAARRRAAHHHH!
Yok. Sekian. Intinya saya lagi pusing.
Trouble will find you no mater where you go, oh oh. No Matter if you're fast no matter if you're slow, oh oh. The eye of the storm and the cry in the morn, oh oh. Your fine for a while but then start to loose control. (Trouble is A Friend – Lenka)
Hai! Saat ini saya berada di Jatinangor. Saya menumpang tidur dua malam di kosan teman KKN saya, Fiki. Perjalanan panjang Dusun Balater – Jatinangor itu dimulai Kamis lalu dengan menggunakan bus cepat Budiman. Cukup melelahkan 6 jam perjalanan dan setengahnya adalah rute pegunungan berkelok-kelok.
Sampai di Jatinangor, kira-kira pukul 1 siang saya bersama Fiki langsung ke kosannya di Hegarmanah. Lalu saya ke kampus. Menanyakan surat cuti (yang ternyata masih di proses ). Si orang SBA menanyakan apakah saya Dina yang mengajukan surat cuti tersebut. Oh, tentu saja. Saya sedikit khawatir dengan cara kerja SBA. Saya mengerti SOP. Tapi masalahnya adalah orang-orang yang menjalankan SOP tersebut. Baiklah, saya tidak akan suudzon lebih jauh dan tetap berdoa surat cuti tersebut diproses dengan baik.
Di kampus, saya juga melihat nilai saya (yang tidak ada A-nya) kemudian ke piano room, maksud saya Ruang Oemi. Saya mencoba memainkan sebuah lagu. Dammit saya lupa bagaimana memainkannya dan menggerakkan jari-jari saya. Lalu tiba-tiba saja hal sekecil itu membuat mood saya berubah, BT. Yasudah, Triste Couer saja yang saya ingat lalu saya mainkan.
Berada di Ruang Oemi sendirian terlalu luas buat saya. Saya teringat teman saya dan menulis di atas piano berdebu tersebut “I miss u, as a friend”. Saya tahu, esok tulisan ini akan hilang atau ketika Ruang Oemi ini digunakan untuk keperluan ospek atau apapun, seseorang akan menghapusnya. It’s easy to erase the dust. Maybe it’s just the same as our friendship. But I will always be your friend if you only knew.
Hari kedua di Jatinangor, seharusnya agenda saya tidak jauh beda dengan hari pertama. Tapi saya malas ke mana-mana. Lalu sore hari bersama Fiki, kami pergi ke Jatinangor Town Square (Jatos). Berbelanja dan makan makanan yang diinginkan. Saya membeli Klenger Burger dan Fiki makan di Paparon’s Pizza. Haha. Tentu dua makanan tersebut tidak akan kami temukan di Dusun Balater :p
And here we go, hari ketiga di Sabitu pagi ini saya menyempatkan diri online dengan computer (akhirnyaa) setelah hp berminggu-minggu cepat lowbatt karena saya pake OL terus. Sudah ya, saya harus bersiap-siap karena beberapa jam lagi akan kembali ke Batu Karas. Maksud saya Dusun Balater.
Besok, 13 Juli saya akan berangkat untuk KKN (Kuliah Kerja Nyata) ke Desa Sindangwangi, Padaherang, Ciamis sampai tanggal 22 Agustus 2009. Hari ini lagi sibuk-sibuknya. Packing, mengembalikan barang teman-teman, transfer foto, musik, dll.
Oh ya, karena 40 hari saya akan berada di desa maka saya akan kesepian. Bukan kesepian karena tidak ada orang atau teman. Tapi karena saya meninggalkan leptop yang merupakan music player saya. I will leave my keyboard, too L Saya memutuskan bawa kamera aja ke desa. Oleh karenanya, kemarin saya membeli Ipod. Yasudah hari ini saya juga sibuk mentransfer lagu. Repot karena si leptop saya tinggal di rumah.
Hmm, mungkin bagian yang terlewat saya ceritakan adalah Rabu kemarin, seusai nyontreng, saya dan kedua orangtua ke Jatinangor dan mengangkut semua barang-barang di kosan. SEMUA. Jadinya kosan saya kosong melompong. Tak ada tv atau leptop atau keyboard. Sudah dua malam ini saya tidur dalam sepi dan dua malam pula saya bermimpi berturut-turut. Heheh. Gatau saya dari dulu tidak bisa tidur tanpa suara berisik. Kalo nggak, bawaannya suka mimpi buruk atau terbangun dengan kaget tengah malam. Hiihhh.
Alhamdulillah, dua malam ini saya selamat. Cuma mimpinya aneh-aneh. Udahlah yaa, sukur-sukur ga mimpi tentang setan.
Hari ini, saya dan keluarga besar (jumlah kami 17 orang) bertamasya ke Taman Wisata Matahari (TWM) di daerah Cisarua, Bogor. Tempatnya biasa saja. Malah kurang nyaman saking padatnya pengunjung. Dan lagi, untuk remaja beranjak dewasa seperti saya (ahiww) kayaknya cuma bisa mati gaya. It’ll be fun if you have kids anyway, haha. Karena emang semua permainan di sana ukurannya mini semua.
Hal baik yang diambil hari ini adalah saya bisa berkumpul bersama keluarga besar mulai dari nenek, kakek, tante, om(s) *banyakk, sepupu(s), dan tentu saja keluarga inti saya. Yah, memang ada yang kurang, which are my beloved sista and her family and my bro, too. Yah saya jadi inget Izaz (terutama) yang berada di Jubail nun jauh di sana. Saya yakin, kalau keponakan saya tercinta itu ikut hari ini akan lebih ramai, lebih rusuh, dan lebih liarrr (apa coba).
Yang penting (lagi), hari ini saya bisa berarung jeram \m/
I'm a lover, a wife, a daughter, a friend, an account executive, an avid reader, a writer, a traveler, and many others role :)
I can be reached at dina.tsharahahap(at)gmail.com