daily thoughts and activities

Thursday, August 20, 2009

(Tulisan ini dibuat pada Jumat (14/08) tapi baru sempat di-posting sekarang ^^!)

Hari ini saya cukup senang. Ok. Saya senang. Begini, hari ini tepatnya pukul 08.00 – 15.00 WIB saya ditugaskan menjadi juri kebersihan lingkungan dalam rangka peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus. Penugasan saya sudah dijadwalkan sejak lama. Dan sejak lama pula saya bete menunggu kedatangan hari ini. Jadi, saya sudah double bete dan bersiap-siap menjadi triple bete ketika melaksanakan tugas tersebut di hari H. ya iyalah secara saya menilai 31 RT dengan poin-poin membosankan seperti pekarangan rumah, keberadaan MCK, dan sejenisnya. Selain itu, saya juga membayangkan bahwa hari ini saya akan cape beerrraaattt melakukan safari keliling 31 RT.

Ternyata kenyataan berkata lain. Saya malah mendapat kesenangan dan saya merasa senang. Dimulai dengan kejadian switching form penjurian. Saya akhirnya menjadi juri keindahan dan kerapihan lingkungan yang poin-poin penilaiannya lebih asyik seperti pengadaan pagar, umbul-umbul, gapura, dan lampu hias. Saya juga mengalami pengalaman petualangan menjelajah desa Sindangwangi yang rapih dan indah. Melewati hamparan sawah yang menguning dengan background langit dan pegunungan, sungai-sungai, irigasi, dan juga trek yang cukup menegangkan (saya dibonceng Oke naik motor Pak Kadus).

Melihat keindahan alam itu semua saya hanya ingin berteriak “Wohoo!”. Saya pun berteriak kemudian bernyanyi-nyanyi kecil. Dan tak lupa, ternyata penjurian keliling 31 RT itu tak lain adalah wisata kuliner. Ya. Wisata kuliner, karena kami berhenti di pos ronda tiap RT untuk menyantap hidangan yang telah disajikan dan juga membungkusnya buat teman-teman di rumah induk semang.

Begitulah. Saya enjoy dengan hari ini. Lalu, ketika sore hari, ketika saya pikir hari sudah berakhir dengan happy ending.. ternyata tidak. Bad mood lantas menghinggapi hingga ingin men-skip waktu saja rasanya. Saya ingin pulang. Malam pun datang dan diisi dengan kegiatan rutin selama KKN –main poker. Hingga sebelum tidur pun saya menulis paragraf-paragraf ini. Goodnight everyone..

Saturday, August 08, 2009

Tebak saya di mana. Yosh! Saya saat ini sedang berada di warnet Desa Sindangwangi. Oke banget kaann huahahahaha. Well, walaupun saya cengengesan seperti saat ini sebenarnya hati saya sedang gundah gulana tak terkira *lebay MODE: ON

h-12 menuju kepulangan ke tanah air (baca: Tangerang), saya berada dalam fase jenuh plus masalah yang pasti datang menghampiri ke siapapun insan di dunia ini. Masalah terbesar adalah canon error99. huaaa. Entah karena kemasukan pasir, atau karena udara laut, atau karena entah.. yang jelas lagi-lagi karena pantai. Sensitif sekali. Dulu juga body kamera saya pernah muncul jamur sehabis saya pulang dari pantai (nampaknya si jamur juga masih ada hingga sekarang).

Masalah terbesar (lagi), saya kangen berat dengan keluarga. KANGEN PAARRRAAHHHH!

Yok. Sekian. Intinya saya lagi pusing.

Trouble will find you no mater where you go, oh oh.
No Matter if you're fast no matter if you're slow, oh oh.
The eye of the storm and the cry in the morn, oh oh.
Your fine for a while but then start to loose control. (Trouble is A Friend – Lenka)

Friday, July 31, 2009

Hai! Saat ini saya berada di Jatinangor. Saya menumpang tidur dua malam di kosan teman KKN saya, Fiki. Perjalanan panjang Dusun Balater – Jatinangor itu dimulai Kamis lalu dengan menggunakan bus cepat Budiman. Cukup melelahkan 6 jam perjalanan dan setengahnya adalah rute pegunungan berkelok-kelok.

Sampai di Jatinangor, kira-kira pukul 1 siang saya bersama Fiki langsung ke kosannya di Hegarmanah. Lalu saya ke kampus. Menanyakan surat cuti (yang ternyata masih di proses ). Si orang SBA menanyakan apakah saya Dina yang mengajukan surat cuti tersebut. Oh, tentu saja. Saya sedikit khawatir dengan cara kerja SBA. Saya mengerti SOP. Tapi masalahnya adalah orang-orang yang menjalankan SOP tersebut. Baiklah, saya tidak akan suudzon lebih jauh dan tetap berdoa surat cuti tersebut diproses dengan baik.

Di kampus, saya juga melihat nilai saya (yang tidak ada A-nya) kemudian ke piano room, maksud saya Ruang Oemi. Saya mencoba memainkan sebuah lagu. Dammit saya lupa bagaimana memainkannya dan menggerakkan jari-jari saya. Lalu tiba-tiba saja hal sekecil itu membuat mood saya berubah, BT. Yasudah, Triste Couer saja yang saya ingat lalu saya mainkan.

Berada di Ruang Oemi sendirian terlalu luas buat saya. Saya teringat teman saya dan menulis di atas piano berdebu tersebut “I miss u, as a friend”. Saya tahu, esok tulisan ini akan hilang atau ketika Ruang Oemi ini digunakan untuk keperluan ospek atau apapun, seseorang akan menghapusnya. It’s easy to erase the dust. Maybe it’s just the same as our friendship. But I will always be your friend if you only knew.

Hari kedua di Jatinangor, seharusnya agenda saya tidak jauh beda dengan hari pertama. Tapi saya malas ke mana-mana. Lalu sore hari bersama Fiki, kami pergi ke Jatinangor Town Square (Jatos). Berbelanja dan makan makanan yang diinginkan. Saya membeli Klenger Burger dan Fiki makan di Paparon’s Pizza. Haha. Tentu dua makanan tersebut tidak akan kami temukan di Dusun Balater :p

And here we go, hari ketiga di Sabitu pagi ini saya menyempatkan diri online dengan computer (akhirnyaa) setelah hp berminggu-minggu cepat lowbatt karena saya pake OL terus. Sudah ya, saya harus bersiap-siap karena beberapa jam lagi akan kembali ke Batu Karas. Maksud saya Dusun Balater.

Saturday, July 11, 2009

Besok, 13 Juli saya akan berangkat untuk KKN (Kuliah Kerja Nyata) ke Desa Sindangwangi, Padaherang, Ciamis sampai tanggal 22 Agustus 2009. Hari ini lagi sibuk-sibuknya. Packing, mengembalikan barang teman-teman, transfer foto, musik, dll.
Oh ya, karena 40 hari saya akan berada di desa maka saya akan kesepian. Bukan kesepian karena tidak ada orang atau teman. Tapi karena saya meninggalkan leptop yang merupakan music player saya. I will leave my keyboard, too L Saya memutuskan bawa kamera aja ke desa. Oleh karenanya, kemarin saya membeli Ipod. Yasudah hari ini saya juga sibuk mentransfer lagu. Repot karena si leptop saya tinggal di rumah.
Hmm, mungkin bagian yang terlewat saya ceritakan adalah Rabu kemarin, seusai nyontreng, saya dan kedua orangtua ke Jatinangor dan mengangkut semua barang-barang di kosan. SEMUA. Jadinya kosan saya kosong melompong. Tak ada tv atau leptop atau keyboard. Sudah dua malam ini saya tidur dalam sepi dan dua malam pula saya bermimpi berturut-turut. Heheh. Gatau saya dari dulu tidak bisa tidur tanpa suara berisik. Kalo nggak, bawaannya suka mimpi buruk atau terbangun dengan kaget tengah malam. Hiihhh.
Alhamdulillah, dua malam ini saya selamat. Cuma mimpinya aneh-aneh. Udahlah yaa, sukur-sukur ga mimpi tentang setan.

Sunday, July 05, 2009

Hari ini, saya dan keluarga besar (jumlah kami 17 orang) bertamasya ke Taman Wisata Matahari (TWM) di daerah Cisarua, Bogor. Tempatnya biasa saja. Malah kurang nyaman saking padatnya pengunjung. Dan lagi, untuk remaja beranjak dewasa seperti saya (ahiww) kayaknya cuma bisa mati gaya. It’ll be fun if you have kids anyway, haha. Karena emang semua permainan di sana ukurannya mini semua.

Hal baik yang diambil hari ini adalah saya bisa berkumpul bersama keluarga besar mulai dari nenek, kakek, tante, om(s) *banyakk, sepupu(s), dan tentu saja keluarga inti saya. Yah, memang ada yang kurang, which are my beloved sista and her family and my bro, too. Yah saya jadi inget Izaz (terutama) yang berada di Jubail nun jauh di sana. Saya yakin, kalau keponakan saya tercinta itu ikut hari ini akan lebih ramai, lebih rusuh, dan lebih liarrr (apa coba).
Yang penting (lagi), hari ini saya bisa berarung jeram \m/


Saturday, July 04, 2009

Setelah melalui masa kapok dengan internet -tentu saja aplikasinya- yakni gmail, ym, dan facebook.. finally saya kembali dan berusaha berhasil mengatasinya dan saya pikir saya memang berhasil. Yea, apalagi penyebab traumatic saya terhadap tiga aplikasi tersebut kalau bukan tragedi yang akhir-akhir ini saya tulis di postingan sebelumnya secara abstrak (karena memang bukan konsumsi umum). Oh well, singkat cerita saya baru sembuh dari perasaan down level tinggi karena kehilangan seorang teman baik, purely my fault.

Tapi saya tidak ingin melebih-lebihkan keadaan dan memperburuk situasi yang sudah memang buruk. Saya ingin bangkit. I’ve lost a friend. Fortunately, I haven’t lost myself. That’s the point. Life must go on, dear. Oleh karena itu, saya pun ingin menuliskan hal-hal lain di luar topik tersebut. Umm, let’s try.

Tanggal 23-29 juni kemarin saya mengikuti Bandung Tour De Bali. Berdua saja (tadinya mau berenam tapi ga jadi), dengan mantan pacar saya. Rencana berlibur ke Bali sudah kami buat sebelum putus dan mungkin kalian bisa membayangkan betapa kacaunya rencana tersebut. Dilematis. Antara uang dan harga diri. Huahahhahahha. Ga ikut, sayang duitnya (udah disetor ke si travel agent). Ikut, ga enak maning. lagi benci-bencinya soale putusnya beneran baru banget, kayak tai ayam gitu, masih anget. Bodohnya, dina yang ga konsisten ini malah berprilaku seperti masih seorang girlfriend buat dia. Dan dia berprilaku sama. Kita udah kayak sepasang kekasih yang berlibur. Yah, pokoknya apa yang terjadi seminggu kemarin tidak membuat saya berubah pikiran untuk tetap single.

Cerita Balinya saja ya teman-teman.. Perjalanan menuju Bali melalui jalur darat bener-bener ga bikin ketagihan. Kayaknya saya ogah dua kali deh naik bus dua malem menuju Bali. Sampai di Bali hari pertama, kita (saya dan rombongan tur) mengunjungi Galuh, Cening Ayu, Krisna, dan apa lagi saya lupa. Pokoknya semua pusat oleh-oleh. Jadilah hari pertama saya sudah kere duluan, shopping ‘til die.
oya, kami juga mengunjungi Bedugul. which is, fotonya adalah ini, hehe




Hari kedua, kami wisata bahari. Mengunjungi Batara water sports dan saya main parasailing, juga mengunjungi pulau Penyu di sana. Lalu kami ke Dreamland dan GWK (Garuda Wisnu Kencana). Yang paling berkesan buat saya adalah GWK. Okei banget. Tiap ujung jengkalnya adalah karya seni. Jenius gilak itu si Nyoman blablabla yang jadi otak atas patung GWK dan karya-karya dia lainnya. Malamnya, kami romantic dinner di Jimbaran. Oh yes, ada kejadian yang romantis tapi pasangan lain yang melakukannya. Heheheh.

Hari terakhir, saya dan my ex menyempatkan diri ke Sukowati dan kami juga baru nyadar kalau Pantai Kuta begitu dekatnya dari hotel tempat kami menginap. Hahahhah. Tau gitu mah kita ke pantai mulu, til die! Lalu bersama rombongan kita ke Joger dan Tanah Lot. Terus pulang deh.. oleh-olehnya untuk keluarga saja. Love them damn much :-*

Monday, June 22, 2009

Saya ingat Kamis lalu, 18 Juni, saya yang bête karena seseorang, memutuskan tidak ikut bersenang-senang bersama yang lain dan hanya ingin jalan, menghilangkan rasa kesal campur sedih. Kamu yang baik, memaksaku untuk naik ke motor dan pergi bersama. Tapi saya hanya ingin berjalan sendiri. saya berkata saat itu, “gue lagi pengen jalan. Sama kayak loe. Kalo lagi sedih atau bête loe juga cuma pengen jalan kan. Dan berharap di tempat tujuan rasa sedih loe udah ilang.”
Sejak sabtu lalu aku sudah berjalan terlalu banyak namun rasa sedih ini tidak pergi juga. Tidak tahu, berapa kilometer lagi ku harus berjalan hingga sedih ini berganti.

Sunday, June 21, 2009

From : dina tsh
To : God
Date : Mon, Jun 22, 2009 at 09:20 AM
Subject : [spatubutut] a letter to God
mailed-by: blogger.bounces.google.com


Dear God, please send him an angel. Amen.


I’ve lost a friend. He’s my precious.

Saya tidak pernah merasakan kehilangan seseorang sebesar ini. I can’t handle this kind of feeling. Mungkin saya tidak akan pernah mengerti rasanya jadi dia yang tersakiti begitu dalam. Dan pernyataan maaf seperti apapun tidak bisa menghilangkan rasa sakitnya.

Tapi tetap, saya ingin mengatakan ribuan maaf ke kamu. Maaf maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf.. aku ngga tahu lagi caranya minta maaf. Sepertinya untuk minta maaf pun sebenarnya saya sudah nggak punya muka ke kamu. Dina yang bodoh ini cuma bisa mengutuki dirinya sendiri.

Di siang hari, saya selalu bisa mengalihkan pikiran dan melakukan kegiatan bersama teman. Namun, ketika malam datang dan aku sendiri di kamarku, pikiran ini rasanya ingin gila saja. Selalu bertanya: KENAPA.. tak ada habisnya….. Maaf :(

in your old room where we caught you
stepping through some old song

you said came from
where your going
a lady read it in you palm

down at the 12th avenue market

the promise you will not forget

you are going

till its gone


screen went blue
before i touched you
and my ride went home

all the photos came out lonely
but we're not alone
talking of everything we could not hope

i was stupid of thinking of east coast

already now its gone


there are things i cannot forget

i wish none had happened yet

there are some things i cannot forget


we were stronger than the preachers

we were wiser than the wall

took our sleeping by the river
and the beaches in your car
up where you taught me how to drive a stick

and told me your family secret

you were scared i was caught


why'd you stay behind
packing for the trip
why'd you ask me to be the one

first through your lips

i was awkward and i could not hear

your body through my body's fear

we were going to hell


there are things i cannot recall

there are some things that would risk it all

but these are the things we cannot recall

these are the things i cannot recall


**Things I Cannot Recall (by: Blind Pilot)

Monday, June 01, 2009

Sepertinya saya ini orang yang hidupnya hanya dituntun oleh mimpi. Mimpi saya segudang, beberapa mengatakan mimpi saya rendah. Nyatanya, mimpi serendah apapun tidak dapat diraih dengan mudah. Namun sebenarnya mimpi saya tidak rendah, hanya saja saya tidak pernah menceritakan dengan detail apa saja yang hendak saya raih. Saya ingin bahagia dan sukses. Bukan sukses. Lalu bahagia.

Keegoisan saya dalam mencapai mimpi ini sangat tinggi. Saya selalu berpikir positif bahwa saya mampu meraih semua mimpi saya. Sayangnya, hal tersebut berdampak negatif kepada orang lain. Orang lain pertama yang nampaknya selalu saya kecewakan adalah orangtua. Tidak bisa tidak, saya berprilaku sebagai bukan anak yang patuh dan diperbudak mimpi sendiri di depan mereka. Seringkali menangis, mengancam, demi membujuk mereka mengikuti keinginan saya.
Dengan mimpi pula, saya berdoa. Sepertinya, tanpa bermimpi saya tidak akan pernah terpikir untuk menemui dan memohon kepada-Nya. Sepertinya, menyembah-Nya bukan tujuan saya. Beribadah dan berdoa Nampak hanya sarana demi mencapai mimpi saya. Sarana yang esensial. Munafik kah? Dosa besar kah? Fasik kah? Tuhan, beri saya umur..