daily thoughts and activities

Friday, September 17, 2010

selamat datang katanya,
duduk
bercakap-cakap
bercangkir-cangkir kopi
sepanjang malam
hingga tuan-tuan rumah bertanya
"mengapa kau di sini?"

tamu itu berpikir,
harusnya di mana
ruangan itu mulai sesak
oleh tali-temali
oleh oksigen yang tak dikenali

seharusnya di hutan
mencari jalan di belantara
seharusnya di laut
menyelam di antara karang
seharusnya di kota
menundukkan pencakar langit
seharusnya di desa
melintasi damainya sawah
seharusnya di gunung
mencicipi jengkalan awan

masih kurang kisah rupanya
matahari mulai terbit
tak ada tidur malam ini
sang tamu berdiri
berlari ke pintu

bukan rumah sebelum kau temukan yang kau cari

Sunday, August 29, 2010

yahh.. aku kan emang orangnya nggak pernah bilangin kamu boleh ini, nggak boleh itu, blablabla.

aku cuma selalu mengutarakan pendapat aku terus sisanya kamu mikir sendiri. kamu kan manusia dewasa, masak mikir aja harus dibantuin?

Saturday, August 28, 2010


Truman Capote, penulis Amerika era tahun 40-an merupakan sosok penulis yang istimewa. Selain karyanya, Capote terkenal karena kepribadiannya yang menarik. Kisah hidupnya telah diangkat ke layar lebar dalam film Capote (2005) dan Infamous (2006).

Novel lawas Breakfast at Tiffany’s diterbitkan kembali oleh Serambi. Sebagian besar khalayak mungkin terlebih dahulu mengenal Breakfast at Tiffany’s sebagai sebuah film. Melalui novelnya, penggemar Holly Golightly akan mendapat kisah yang tak kalah intim dan memikat.

Cerita dibuka dengan tokoh aku yang mengungkapkan hasratnya menulis tentang Holly yang sudah lama menghilang. Keinginan ini muncul setelah diceritakan bahwa ada ukiran kepala kayu yang mirip dengan Holly Golightly di Afrika dari sebuah foto.

Tokoh aku yang mengagumi Holly ini merupakan teman seapartemen Holly. Awal pertemuannya dengan Holly yakni ketika Holly yang sering kehilangan kunci membunyikan bel apartemen-apartemen tetangganya untuk dibukakan pintu. Aku yang berprofesi sebagai seorang penulis menuliskan deskripsi Holly Golightly dengan lugas. Diam-diam ia pun mencintai Holly.

Holly Golightly, seorang wanita muda misterius berjiwa bebas yang menjadi pujaan kaum pria kelas atas New York. Orang-orang mengenalnya sebagai ratu pesta, simpanan jutawan, dan sekaligus kaki tangan mafia. Namun, siapakah sesungguhnya dia? Apakah yang dicarinya? Cinta atau harta?


Ternyata sisi lain Holly tidak seglamor kehidupan sehari-harinya. Holly adalah seorang wanita muda yang masa kecilnya tidak bahagia, menikah di usia 14, dan pindah dari Texas ke New York. Hal tersebut terungkap ketika Doc Golightly, suami Holly datang ke New York untuk meminta Holly kembali ke Texas. Namun Holly menolaknya dengan alasan pernikahannya di usia 14 tahun tidaklah sah.

Holly yang naïf akhirnya berurusan dengan polisi karena terlibat dengan mafia narkoba. Tanpa disadarinya, ia menjadi perantara berita antara kepala mafia yang di penjara Sing Sing dengan anak buahnya. Holly mengunjungi mafia tersebut di penjara setiap hari Kamis dengan bayaran seratus dolar tiap kunjungannya. Holly harus melaporkan kunjungannya melalui kode pesan berupa laporan cuaca seperti ‘ada badai di Kuba’ dan ‘salju turun di Palermo’. Holly berpikir hal tersebut benar-benar hanya sebuah pesan. Akibatnya, rencana pernikahan Holly dengan pria terkaya di dunia di Brazil menjadi batal. Calon suaminya sedang memulai karier di bidang politik, dan tidak mau menerima Holly yang sudah memiliki catatan kriminal.

Satu alasan mengapa sosok Holly Golightly begitu banyak menginsipirasi wanita adalah karena inti pada kisah ini terletak pada keinginan Holly Golightly untuk mencari tempat dimana ia merasa aman dan senyaman di toko perhiasan Tiffany.

Penuturan orang ketiga sebagaimana yang dilakukan buku ini dalam menceritakan Holly Golightly terjalin dengan apik. Ia menceritakan karakter Holly dengan lugas. Capote mampu memainkan bahasa dengan berirama sehingga pembaca enak mengikuti jalan cerita sampai selesai. Fakta Holly Golightly diungkap satu demi satu dan pada akhirnya pembaca selalu merasa terkesan dengan sosok Golightly yang eksentrik. Selain itu, tokoh yang dimunculkan dalam novel ini pun tidak banyak. Cerita terfokus pada Holly sehingga seolah-olah Truman sedang bercerita pada kita seorang gadis yang dikenalnya.

Mungkin penggemar film Breakfast at Tiffany’s yang menyukai cerita happy ending di film akan sedikit kecewa dengan akhir cerita asli yang menggantung di novel ini. Happy ending di film yang menginspirasi semua wanita untuk berhujan ria dengan pria tampan bermata biru dan kucing jalanan itu tidak sama adanya dengan yang tertulis di buku.

Tidak bisa tidak, selesai membaca buku ini pun, saya masih sempat memejamkan mata untuk menyelidik kembali Holly Golightly yang tinggi langsing mengenakan gaun hitam dan pipa rokok panjang. Sosok Holly Golightly disebut-sebut sebagai salah satu tokoh fiksi berpengaruh. Sepertinya anggapan itu tidak berlebihan mengingat tokoh Holly Golightly begitu mudah dicintai semua orang, sebuah citra wanita muda yang naïf, berantakan, cerdas sekaligus misterius.

Monday, July 12, 2010


Ryan : Er...Kara mentioned that you were having some thoughts.

Jim : I don't think I'm going to be able to er... to do this.

Ryan : Why would you say that...today?

Jim : Well, last night I was kinda laying in bed and I couldn't get to sleep. So I started thinking about the wedding and the ceremony, and about our buying a house and moving in together. And having a kid, and having another kid and then Christmas and Thanksgiving and spring break. Going to football games, and then all of a sudden they're graduating. They're getting jobs, getting married. And, you know, I'm a grandparent. And then I'm retired. I'm losing my hair, I'm getting fat. And then the next thing you know I'm dead. I'm just, like...I can't stop from thinking, what's the point? I mean, what is the point?

Ryan : The point?

Jim : What am I starting here?

Ryan : Jim, it's...marriage. It's one of the most beautiful things on earth. It's what people aspire to.

Jim : You never got married.

Ryan : That's true.

Jim : I mean, you never even tried.

Ryan : Well, it's hard to define try.

Jim : I don't know, just you seem happier than all my married friends.

Ryan : Look, Jim, I'm not going to lie to you. Marriage can be a pain in the ass. And you're right. This all is just stuff that leads to your eventual demise.

Jim : Yes.

Ryan : And we're all on running clocks. And they can't be slowed down or paused. And...we all end up in the same place.

Jim : yeah.

Ryan : There is no point.

Jim : There is no point. That's what I'm saying.

Ryan : You know, er... I'm not normally the guy you would talk to about stuff like this. If you think about it... your favourite memories, the most important moments in your life. Were you alone?

Jim : No, I guess not.

Ryan : Come to think of it, last night, the night before your wedding when all this shit is swirling around in your head, weren't you guys in separate bedrooms?

Jim : Yeah, Julie went back to the apartment and I was just by myself in the honeymoon suite.

Ryan : Kinda lonely, huh?

Jim : Yes, it was pretty lonely.

Ryan : Life's better with company.

Jim : Yeah...

Ryan : Everybody needs a co-pilot.

Monday, July 05, 2010

Saya bukan seorang yang menganut paham kebetulan. There’s no such thing as coincidence. Saya percaya, everything happens for a reason. Tapi kadang, tidak semua kejadian mempunyai reason yang mendalam, ga semuanya harus kita pikirin di mana letak hikmahnya. Terkadang Tuhan hanya ingin membuat kita tertawa. Bagi saya, ada yang sangat melekat seperti kasus-kasus berikut.

Dulu, ketika saya masih punya pacar. Itu kapan ya, ahk udah lama banget deh. Kuliah sedang libur, saya di rumah, bingung mau ngapain. Tangan memegang hp. Hal yang paling mungkin saya lakukan saat itu adalah smsan dengan pacar saya. Ya, sepatutnya itu saya lakukan. Karena kalau tidak bertemu sudah sewajarnya saya sms dia. Tapi saya diam saja sambil memandangi hp saya. Saya bosan. B.O.S.A.N dengan dia. Gilak, bosen banged!

Bayangkan, seseorang yang jiwanya pergi dengan adegan sambil memegang HP seperti di iklan-iklan. Nah, seperti itulah saya. menimbang-nimbang kenapa saya begitu bosan dengan dia sambil memperhatikan hp yang sedang ada di tangan.

Tiba-tiba ada sms masuk, saya kaget (karena sedang bengong). Dan sms itu berbunyi, “bosan dengan pacar sekarang? Sms ke blablabla dan temukan teman kencan baru." Alhasil, saya sontak tertawa terbahak-bahak dengan isi sms tersebut. Tau aja nih si operator huehehehe, tapi saya nggak reply kok haha.

Pernah juga ketika saya kehilangan HP di Pantai Tanjung Lesung. Kehilangan HP merupakan sebuah kesialan, plus kalau hilangnya di depan orangtua. Bukan dihibur malah dimarahin. Dan hal itu terjadi di dalam mobil sepanjang perjalanan pulang. Kalau udah begitu, saya diam saja. Sebenernya saya sedih, HP tersebut adalah HP kesayangan yang didalamnya sudah penuh dengan catatan baik di kalender, notes, dan sebagainya.

Dan ketika saya sedang menenangkan diri, terdengar dari audio mobil.. “oh.. bukankah ku pernah melihat bintang..senyum menghiasi sang malam..yang berkilau bagai permata..menghibur yang lelah jiwanya..yang sedih hatinya” ahahaha brengsek itu lagu“Sang Penghibur”-nya Padi sedang berputar. Itu memang mp3 yang saya beli di sebuah alfamart dekat hotel. Sengaja saya pilih yang agak mainstream karena untuk didengarkan dengan seluruh anggota keluarga yang lain. Tidak saya kira, ternyata mp3 itu untuk menghibur saya di waktu yang tepat pada akhirnya.

Peristiwa yang cukup melekat lain, yakni tentang buku. Ketika semester tiga, saya mendapat tugas membaca novel dari mata kuliah Psikologi Komunikasi. Tiap mahasiswa tugas novelnya beda-beda, saya sendiri mendapat novel Mechanical Cat. Ternyata sangat sulit menemukan novel tersebut. Padahal kalo saya dapat novel Dunia Sophie, saya punya dan sudah baca tuh. Hmm, di mana ya novel Dunia Sophie saya?? Sudah lama tidak lihat. Lupaa naronya.

Berhubung saya pikir novel yang dikasih tugas baca itu pasti sulit dicari, jadi aja saya beli novel yang jadi tugas.. gebetan saya saat itu. Dengan berharap jadi 'hero’ buat dia huehehehe cerdas kamu Dina. Gataunya novel tersebut dapat ditemukan dengan mudah di toko-toko buku terdekat. Sang gebetan pun sudah membelinya. Sialan. Itungannya jadi tekor deh saya.

Lalu saya simpan saja novel tersebut tanpa dibaca bertahun-tahun lamanya, hingga.. saat saya semester tujuh, saya baca blog Raditya Dika. Doi berkata bahwa penulis favoritnya adalah Neil Gaiman. Mmm.. siapa dia.. saya tidak kenal dan tidak tahu karyanya. Habis baca tulisan Radit tsb saya pun ke kamar untuk mencari sesuatu, mengobrak-abrik rak buku, dan ha! Ada novel karya Neil Gaiman di sana. Judulnya Anansi Boys. Itu kan novel yang saya beli dengan niat menjadi 'hero' buat gebetan saya dan berakhir dengan mengutuk uang yang udah keluar untuk novel-yang-ternyata-mudah-dicari. Hahahha, saya pun tertawa terbahak-bahak sendiri di kamar siang itu. Sungguh konyol. In the end, saya baru baca setengah novel tsb. Bagus. Cerdas, penuh fantasi, dan humor :)

Terakhir, peristiwa bareng teman saya, Dex. Waa sudah lama banget. Saya yang pelupa ini saja heran kenapa masih bisa mengingat hal-hal yang terjadi puluhan tahun lalu *lebay*. Oke, begini. Hari itu, saya, Dex, dan abang saya mengunjungi Braga City Walk. Waktu itu masih muda, adrenalin masih mengalir deras, jantung kembang kempis, kulit masih kencang, dan si Dex masih bareng istri mudanya eh pacar dia dulu. Sebut saja cewek itu Mawar (bukan nama sebenarnya).

Si Dex kala itu tergila-gila dengan pacarnya sendiri. Baguslah yaa. Daripada tergila-gila sama pacar orang. So, tiap jam tiap menit tiap detik doi selalu membicarakan si Mawar. Bahkan saya tidak punya kesempatan untuk bilang, “Ohh.. come on. Please stop it”. Hehe nggak lah. Saya dengerin saja abis seru sih hehe. Si Mawar punya adik, namanya si Melati (bukan nama sebenarnya juga) dan hal ini menjadi trending topic kita tiap berbincang. Dari yang penting sampe yang nggak penting.

Nah, pas di Braga City Walk ini, ada nama Mawar yang jadi nama toko baju. Si Dex iseng ngomong, “wah ada toko Mawar, nanti sebelahnya ada toko Melati”. Pas kita jalan melingkar(pusatnya Braga City Walk berbentuk bundar) beberapa langkah dari toko Mawar itu.. ternyata beneran ada donggg toko Melati!!! Which means, gubrak banget. Hahaha saya langsung tertawa terbahak-bahak. Namun, kali ini tidak sendiri. Si Dex yang berjalan di samping saya pun turut tertawa. Sedang abang saya yang ikut bersama hanya bisa bengong. Bingung dengan apa yang kami tertawakan.

Friday, June 04, 2010

Nonchalant. Indiscreet. Haphazard. Yup itu kata-kata yang saya temukan mengenai diri saya di Oxford Learner’s Pocket Dictionary (buku yang sangat bagus, eh. very recommended).

Tidak terhitung banyaknya kejadian sial yang menimpa saya sepanjang hidup saya (begitu juga dengan semua orang nampaknya). Tapi baru-baru ini saya menemukan cara yang (cukup) ampuh dalam meredam kekesalan saya dengan.. tersenyum. Yeah, tersenyum saat kesialan menimpa saya.

Sudah tentu tiap ada kejadian buruk di luar rencana saya, saya akan menjadi kesal. Namun, kekesalan itu hanya akan memperburuk keadaan. Contohnya, saya jadi bersikap menyebalkan terhadap orang-orang yang tidak ada hubungannya dengan masalah saya, membatalkan janji maupun kegiatan tertentu, dan sebagainya. Padahal, hey, semua itu tidaklah berkaitan langsung. Tapi kalau emosi sudah turut campur maka semua hal jadi berkaitan. Nah, dengan mencoba tersenyum saya bisa meminimalisir kekesalan ketika ada kejadian sial.

Saya ambil contoh ketika saya pertama kali mempraktekkan self-therapy ini. Saat itu saya sedang di mobil bersama kakak saya dan saya menyadari bahwa kunci rumah tidak ada di kantong celana saya. Saya mulai panik membayangkan si mamah akan mengomeli saya (hehe). Kakak saya cukup bijaksana dengan tidak men-judge saya di tempat. Ia tahu saya tengah mengutuki diri saya dalam hati jadi ia diam saja.

Saya bad mood seketika. Lalu, saya memasang tampang ga enak sebagaimana suasana hati saya. Saya berpikir, “Ah sialan. Kejadian seperti ini saja membuat hari saya kacau. Saya tidak akan membiarkannya. Saya harus tersenyum dan membuktikan kejadian ini tidaklah seberapa.”

Dan.. yah, sulit sekali untuk tersenyum. Tidak pernah terpikir oleh saya bahwa untuk tersenyum saja bisa sesulit ini. Saya tidak tahu mengapa. Butuh beberapa menit untuk menarik bibir ke samping lebih lebar.

Dann.. saya tidak percaya ketika saya berhasil melakukannya perasaan saya jadi lebih ringan. Syaraf-syaraf yang menegang terasa lebih rileks. Hahaha. Cobain deh. Yahh.. walau bukan berarti kejadian buruknya hilang dengan tersenyum. Setidaknya kemudian kamu bisa berpikir lebih jernih.

Spongebob yang selalu tersenyum

p.s. dan ternyata kunci rumah yang saya pikir hilang itu ada di jok mobil abang saya. tersenyum tidak menyelesaikan masalah. Lain kali saya harus lebih hati-hati :)

Thursday, May 13, 2010

Saya si bungsu yang brengsek dari 4 bersaudara. Ketiga kakakku sudah menikah. Namun, ada yang berbeda dengan pernikahan kakakku yang terakhir. Entahlah. Menikah adalah sesuatu yang wajar. Dan ada pernikahan jutaan orang tiap harinya. Tapi pernikahan kakak yang usianya hanya terpaut dua tahun denganku terasa begitu aneh buatku.

Saya dan dia tumbuh bersama sejak kecil. Kami berbagi kamar bertahun-tahun, mandi bersama, berantem hingga jambak-jambakan, rebutan mainan, dan sebagainya. Hingga ketika dia tumbuh remaja, hubungan saya dan kakak menjadi berjarak karena, ok, terdengar konyol, sifat kami begitu berbeda. Saya (dulu) cenderung pendiam, menghindari konflik sedangkan kakakku memiliki sifat yang sebaliknya. Terlebih, dulu kami sibuk dengan pertemanan sebagaimana remaja tumbuh pada umumnya. Ketika kakak kuliah ia menjadi pribadi yang lebih tenang dan saya bisa kembali dekat dengannya.

Hingga suatu hari, kedua orangtuaku mengatakan bahwa bulan Mei kakakku akan menikah. Saya tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Mama papa bingung lantas mengomeliku. “Dina, kamu sudah bukan anak kecil lagi. Suatu saat kamu akan mengalaminya,” ujar mereka. Saya diam.

Setelah hari itu saya pun bertanya-tanya, haruskah saya menikah? Menurutku tidak ada alasan yang tepat untuk saya menikah. Saya nyaman dengan keadaan seperti ini. Saya tidak kekurangan cinta karena, yah, cinta saja nggak pernah terasa cukup buat saya.

Dan, di suatu Jumat, ketika teman-teman masuk kelas untuk kuliah Penulisan Berita Elektronik. Saya dan Tendi Mahadi tertinggal di plasa Fikom. Sebenarnya si Tendi ini agak-agak rese kalo diajak bicara, tapi kadang lumayan lah daripada lumanyun.

(sebelumnya percakapan kami sudah terjadi agak lama tapi saya nggak ingat apa yang dibicarakan)

Tendi : jadi sekarang apa yang lu pikirin?

Saya : hmm.. sebenarnya Ten. Gue dalam fase bertanya-tanya ngapain sih orang nikah?


Tendi : itu yang ada di kepala lu?


Saya : Iya. Itu dia. Tapi belum nemu jawabannya. Eh Ten katanya cowok tuh matanya, misalnya kalo lagi nongkrong gini, liatin cewek juga gitu ya, misalnya ada cewek cantik lewat terus wajarnya cowo liatin. Nah kalo cowok ganteng lewat nggak diliatin.


Tendi : Ya iyalah! Ngapain juga cowok liatin cowok. Emangnya homo!


Saya : Ih tapi cewek nggak gitu Ten. Ok, kalo ada cowok ganteng lewat kita liatin. Tapi kalo ada cewek cantik lewat kita juga liatin..


Tendi : (bengong bentar) Fashion..


Saya : ya, ya fashion. Liatin dari atas sampe bawah. “wah sepatunya oke” misalnya


Tendi : sampe ke fisik fisik juga? Bodi?


Saya : ya, itu juga termasuk. Misalnya kakinya bagus banget, kecil. Waw jadi mikir pengen kaki kayak gitu. Tapi jatohnya sirik juga sih ya. Makanya, pusing banget jadi cewek.


Tendi : semua cewek gitu?


Saya : hmm rata-rata. Nyaris semua kata gue sih. Mungkin cewek-cewek yang cuek itu ngga terlalu keliatan aja. Tapi pada dasarnya itu alamiah cewek kok. Tapi Ten, cewek-cewek itu nggak bakal dandan abis-abisan, nggak akan usaha gimana caranya biar cantik kalo nggak ada cowok loh. Dan gue juga pernah baca yah tentang si Onassis. Tau nggak lu?


Tendi : pengusaha Yunani itu?


Saya : Ya,yang tajir tujuh turunan itu. Si
Aristotle Onassis itu pernah bilang kalo semua uang di dunia ini nggak akan ada artinya kalo nggak ada cewek, Ten.

Tendi : hmm jadi intinya seks.


Saya : seks? (sambil mengernyitkan dahi)


Tendi : seks dalam arti luas.


Saya : ooh. Haha. (sialan, lelaki cerdas sekali menyederhanakan masalah)


Tendi : pria dan wanita itu saling membutuhkan. Emang maksud lu seks yang mana?


Ok. Percakapan selanjutnya tidak penting

Ya. Seperti yang dikatakan Tendi tadi. Mungkin benar pria dan wanita itu saling membutuhkan. Membutuhkan yang seperti apa? Saya sendiri juga percaya, lelaki itu dianugerahi otak yang lebih cerdas dari wanita dan juga kekuatan fisik yang berlebih. Sedangkan wanita, kami ditakdirkan untuk menaklukkan pria. Haha.

Mungkin nilai plus kami ada di kelembutan dan hal-hal menyangkut hati. Tapi, kalau alasan membutuhkan hanya sekedar itu, saya pikir pria wanita tidak perlu menikah segala. Kalau saya kurang cerdas, kalian bisa mengajari saya. Begitu juga kalau saya butuh kekuatan fisik untuk membetulkan pompa air yang rusak, mengangkat lemari, dan sebagainya.. sepertinya saya tidak perlu sampai menikahi cowok segala kan. Saya hanya perlu minta tolong atau membayar jasa.

Mari bicarakan alasan yang lebih sakral : cinta. Ha. Apa ada orang yang mencintai saya melebihi mama saya? ok. Saya dan mama saya berbeda umur jauh dan besar kemungkinan beliau meninggalkan saya lebih dahulu sehingga saya harus mencari pendamping hidup. Cinta tuh apa sih?

Beberapa lelaki mengatakan pada saya, lelaki itu selalu melakukan apapun agar tujuannya tercapai. Gombal doang mah biasa. “Aku sayang kamu, cinta kamu” tuh.. ahh.. cuma basa-basi busuk aja. Tujuan lelaki.. seks ya. Mungkin bagi lelaki yang baik dan masih menganggap itu tabu, tujuan mereka yaa.. menaklukkan wanita. Ingin lihat aja, reaksi cewek kalo digombalin itu seperti apa. Dan jujur, mungkin wanita memang senang digombalin. Pada akhirnya, cinta antara pria wanita itu NGGAK MUNGKIN ngga pake nafsu.

So, orang menikah karena cinta dan nafsu (haha. Sepertinya kalimat barusan menghancurkan makna kesucian pernikahan bagi sebagian orang). Dan lagi, kalau memang alasan menikah adalah karena cinta dan nafsu.. mengapa mereka yang mencintai sesama jenis tidak boleh menikah? Tidak akan menghasilkan keturunan? Aib bagi masyarakat? Dosa besar? Jadi tujuan pernikahan itu memang melestarikan peradaban manusia? Atau tuntutan hidup bermasyarakat? Ngomogin dosa, siapa sih yang benar-benar suci di dunia ini?

Lagi-lagi, saya teringat kata-kata Tendi “pria dan wanita itu saling membutuhkan”. Oke. Mungkin pernikahan adalah jalan yang tepat untuk melengkapi ketidaklengkapan yang ada di pihak wanita maupun pria, baik jasmaniah maupun batiniah, materiil maupun formil. Namun.. kalau ternyata kita sudah mendapatkannya dari beberapa orang, lalu mengapa kita harus memilih salah satu dari mereka untuk dinikahi?

Ya ya seperti kata-kata Tendi, “pria dan wanita itu saling membutuhkan”. Dan dia pun melanjutkan, “Mungkin sekarang lu belum ngerti Din. Tapi nanti, suatu saat, pasti.”

Ya, saya tahu kok. Saya mungkin tidak bisa menemukan jawabannya sekarang. Tapi saya yakin, suatu saat nanti. pasti.

Ah ya, ini foto pernikahan kakakku.

Kakak ipar dan kakak tengah berlatih tari tor-tor

Dia tampak bahagia sekali di hari pernikahannya. Selalu ada harapan untuk kebahagiaan =)

Monday, May 10, 2010

Sabtu, 8 Mei 2010
Hari ini, kakakku yang terakhir menikah ketika saya sedang melewati fase hidup di mana muncul pertanyaan "ngapain sih orang nikah?"

Monday, April 26, 2010

Alice : Bisa tolong beritahu aku? Jalan mana ya yang harus aku ambil dari sini?
Kucing : Tergantung, kamu maunya ke mana?
Alice : Mmm, ke mana saja juga boleh deh.
Kucing : Ya kalau begitu, jalan mana pun yang kamu pilih, sama saja.

(diambil dari kisah Alice's Adventure in Wonderland)