daily thoughts and activities

Sunday, February 28, 2010

Ya ya selamat datang semester baru. Pengen liburan nih. Hahah. Kumat kebiasaan jelek.

Sudah seminggu saya di Jatinangor (sekarang sih lagi di rumah). Kosan baru, lumayan sreg. Hal pertama yang saya tes ya kloset jongkoknya yang ber-merk duty. Sudah di uji coba. Duty, kamu melaksanakan tugasmu dengan baik. Saya puas. Hmmm..

Jatinangor dari WC-ku, eh kosanku

Ngampus dengan orang-orang yang itu-itu lagi. Yang kalo ngobrol dan sms isinya nggak jauh-jauh dari “ntar kuliah jam berapa, ruang berapa, ada tugas ga”. Maklum, angkatan tua tapi otak masih muda (baca: calon mahasiswa abadi). Nggak mau juga sih sebenernya. Tapi jokes baru yang mengocok perut saya akhir-akhir ini adalah, “entar lulus 2012, abis itu langsung kiamat”

Cuti saya ditutup dengan manis. MANIS BANGET. Placebo bagi saya bukan sekedar idola tapi saviour, mungkin kayak beatles-nya orang-orang. Haha lebay. Tapi jadinya kemarin langsung bolos dua minggu karena malas bolak-balik. Pas ngabsen mpk2, absennya full. Hahaha. Melihat kejadian ini, saya sebaiknya jangan pernah bekerja di pemerintahan. Punya bakat korupsi soalnya.

Well oh well Kamis kemarin keponakanku si Tiger Riga ulang tahun, Jumat Maulid Nabi Muhammad SAW, dan Sabtu kakakku tunangan. Whooaa.. such a long vacation for me. Tapi malah weekend kali ini berasa weekdays. Tanya kenapa? zzzZZz..

Saturday, February 13, 2010

This is what I was doing on one night when valentine’s day came double with chinese new year.

--
We were sitting on a bench waiting for our pizza. Sitting calmly, my sister was texting her far-away-husband while I was doing some writings on my cell. The restaurant was full of couples and families. I told you. It’s time for celebrating valentine and chinese new year. Plus, it’s a Saturday night. Lovers time.

I don’t have any lover. My sister has. But she’s lonely just like me. On val’s day, when her children was taken care by their grandma, we were going to a nearest cinema. Watched an action movie titled From Paris With Love. I sat between couples. I looked lonely. But the couples just didn’t pay attention for other people around them. The world seemed just for them. They looked lonely for me.

So, here we go again, at the terrace of a pizza restaurant after making a little conversation in the car. I was looking inside the restaurant. The families who were taking dinner, they looked happy like there was no time like that in their daily life. Where were they? What were they doing? I guess they’re lonely.

What’s lonely anyway?
Is it really happening?

Is it a real feeling?

Or is it just the way of thinking?

Friday, February 12, 2010


Using only song names from ONE BAND or ARTIST, cleverly answer these questions. Pass it on to 15 people you like and include me. You can't use the band I used. Try not to repeat a song title. It's a lot harder than you think! Repost as "my life according to (band name)"


Pick your Artist: Placebo

Are you a female: Lady Of The Flowers

Describe yourself: One Of A Kind

How do you feel: Something Rotten

Describe where you currently live: Dark Globe

If you could go anywhere, where would you go: Mars Landing Party

Your favorite form of transportation: Infra-Red

Your best friend is: Pure Morning

You and your best friend are: Johnny & Mary

What's the weather like: English Summer Rain

Favorite time of day: In The Cold Light Of Morning

If your life was a TV show, what would it be called: In A Funk

What is life to you: For What It's Worth

Your relationship: The Bitter End

Your fear: Miss Moneypenny

What is the best advice you have to give: Follow The Cops Back Home

How I would like to die: Then The Clouds Will Open For Me

My soul's present condition: The Never-Ending Why

My Motto: Protect Me From What I Want

Wednesday, February 10, 2010

Saya selalu suka majalah. Unsur-unsur yang membentuk majalah mulai dari kertas, konten, grafis, tipografi, layout, foto, kesemuanya menjadi sesuatu yang menarik banget bagi saya. Meskipun belum terbilang magazines-freak, saya ingin membahas majalah-majalah yang beredar di tukang majalah di sekitar kita.

Spot favorit saya untuk berkenalan dan bermesraan dengan majalah-majalah lama maupun baru adalah BSD Plaza. Tepatnya Gunung Agung BSD Plaza. Maklum, dekat dari rumah. Nggak mungkin juga kan saya pergi ke Senayan City cuma buat nyari majalah. Lagian, saya bukan fashionista yang punya hasrat untuk show off dengan pergi ke mall. Hehe.

Di sana biasanya saya memandangi mereka (majalah-majalah itu) satu-persatu. Seperti yang saya lakukan sekitar tiga hari yang lalu. saya kemudian bingung. Tampak muka mereka semua amat menarik. Rasanya saya ingin membawa empat rak majalah tersebut ke kasir, tapi nggak tahu bayarnya pake apa. Akhirnya saya melakukan seleksi ketat. Majalah yang sudah dibuka atau dapat dibuka saya skimming di tempat. Ternyata, banyak yang kontennya tidak semenarik tampak mukanya.

Isinya keliatan banget nyomot internet atau isu-isu yang dibahas sudah basi dan menurut saya nggak penting, misalnya Mary Kate Olsen baru aja beli anjing pudel seharga 10.000 USD hanya itu. Sungguh. Hanya itu. Sisanya foto si Mary Kate yang juga diambil dari internet (tanpa anjing pudelnya) yang lebih besar dari tulisannya. Gubrak.

Saya juga baca, ada majalah baru (lupa judulnya apa), pas saya skimming, ada artikel si majalah anak bawang itu yang membahas “citizen journalism, setuju atau tidak?”. Dalam hati saya, widih, boleh juga nih majalah baru punya semangat menjalankan jurnalisme yang benar. Lalu di halaman selanjutnya ternyata ada artikel mengenai Dewi Lestari, “Luna Bukan Kopaja”. Ada foto Dewi Lestari dengan gaya penulisan yang pribadi seolah-olah Dee menulis untuk majalah tersebut sepanjang dua halaman. Di akhir tulisan, majalah tersebut menulis begini, “sebagian dikutip dari http://dee-idea.blogspot.com”

Apanya yang sebagian dikutip haa??!!! Itu sih 99% emang dari blognya Dewi Lestari. Kebetulan sehari sebelumnya saya membaca tulisan Dewi Lestari di blognya tersebut sehingga masih segar di ingatan saya. Judul maupun isi tulisan di blog maupun di majalah tersebut benar-benar persis sama. Kayaknya pihak si majalah cuma nulis tiga baris sebagai pembuka. Kenapa mereka tidak nulis, “sebagian BESAR dikutip dari http://dee-idea.blogspot.com”, atau nggak langsung aja “sumber: http://dee-idea.blogspot.com”. Ya, ya, baiklah.

Banyak majalah wanita yang isinya 70% tentang fashion, bahkan 65% foto-foto baju dengan dandanan yang match. Sah-sah saja. Saya juga suka kok ngeliatinnya. Bisa jadi inspirasi juga dalam berpakaian. Hanya saja, sayang banget kalo beli majalah yang (paling lama) dalam waktu 15 menit sudah bisa khatam bacanya, mulai dari halaman pertama sampai terakhir. Tipe majalah seperti ini saya baca di tempat saja.

Dulu, saya suka beli majalah Trax karena tertarik dengan gayanya yang minimalis, kontennya pun lumayan. Lama-kelamaan ko artikelnya boring banget yah. Kayak nggak baca apa-apa, nggak ada isinya. Yang masih bagus cuma review albumnya aja, sisanya sampah. Akhirnya saya berhenti membeli majalah tersebut. Ternyata, di edisi terakhir saya beli majalah Trax, ada surat pembacanya yang mengeluhkan hal yang saya rasakan. Majalah Trax sekarang isinya boring nggak kaya dulu. Mengalami penurunan kualitas lah, so sad. Mungkin majalah tersebut sekarang udah bagusan kali yah. Tapi saya telanjur ilfeel meski kovernya sebagus apapun.


The Fabulous Five

Info Serpong (kanan bawah) majalah gratis yang rutin dateng ke rumah

Saya beli lima majalah dua minggu terakhir ini; Hai, Tempo, Concept, Total Film, dan Rolling Stone.

Hai. Saya tertarik dengan cewek cantik yang menjadi kover majalah Hai edisi minggu terakhir Januari. Ya ya selain cowok ganteng jadi kover majalah saya juga suka cewek cantik. Intinya, saya suka keindahan mau itu cowok atau cewek. Terlebih Hai memakai konsep warna-warni yang keluar dari bordernya bahwa Hai itu majalah pria. Wew, menarik. Jaman sudah berubah. Persaingan makin ketat. Industri media makin kreatif dan tidak berpegang pada pakem-pakem tradisional. Secara konten, Hai belum banyak berubah dari jaman saya SMP. Rubrik yang menarik buat saya adalah dear superstar di mana para pembaca bisa mengirim pertanyaan yang akan dijawab oleh artis idolanya. Artis idola biasanya bergantian dan diberi tahu di edisi sebelumnya. Poin menariknya adalah pertanyaan pembaca (yang mana poin-poin yang ingin diketahui pembaca) mengenai artis idolanya sangat tidak biasa. Sedangkan apabila jurnalis beneran yang bertanya pasti akan penuh dengan pertanyaan standar dan klise seperti bagaimana proses bisa jadi terkenal, terpengaruh siapa, harapan ke depannya, blablablabla..

Tempo. Biasanya saya nggak pernah beli majalah ini kecuali karena ada tugas kuliah yang sumbernya dari feature majalah Tempo. Sudah tidak perlu diragukan kapasitas Tempo dalam menyuarakan informasi yang berbobot kepada masyarakat bangsa ini. Sudah berimbangkah? Kalo itu nggak ngerti hehe. Oh ya, majalah Tempo juga nyetak English version-nya. Baguslah, kali aja bisa bikin franchise di luar negeri. Bosen majalah franchise luar mulu yang masuk dalam negri. Saya beli majalah Tempo edisi Februari hanya karena ada isu pemenang foto berita terbaik. Bagus-bagus deh. Dan feature yang saya baca hanya sepak terjang Baekuni alias Babe. Itu loh, Robot Gedek versi 2. Sisanya.. I don’t give a damn about politics.

Concept. ini majalah desain grafis. Saya tuh nggak ngerti sama sekali sama dunia grafis. Dan juga bukan orang yang artsy. Ini kenapa beli majalah ini alasannya simpel, penasaran. Bahan kertas untuk kovernya sungguh nggak biasa. Dan make konsep silver gitu, saya jadi ingin melihat lebih dari sekedar luarnya. Saya belilah dan setelah saya buka dalamnya, tetap aja nggak ngerti. Penuh gambar-gambar keren. Tapi tetap aja, saya nggak ngerti. Bukan duniaku jadinya sampe sekarang belum dibaca deh.

Total Film. ini majalah franchise yang baru masuk Indonesia. Masih harga promosi (itu juga yang menjadi alasan saya untuk membelinya hehe). Tadinya bingung antara Cinemagz atau Total Film. Ah tapi kalo Cinemagz udah pernah tau, Total Film belum. Ternyata isinya padat banget. Hanya saja, saya merasa nuansa franchise magz-nya terlalu terasa. Tahu kan kalau kita nonton film luar lalu kita baca subtitle-nya kadang dialog film tersebut jadi aneh. Nah, begitulah Total Film. Mungkin masih banyak bagian yang harus dilokalkan. Persentasi penggunaan bahasa inggris di majalah ini masih banyak, sekitar 20%. Tapi saya nggak merasa rugi kok beli majalah ini ;) bahan kertas untuk kover depan maupun back cover juga ciamik. Wow, keren abis!

Rolling Stone. Majalah dewa. Hehehe. RS benar-benar majalah yang mempertahankan kelanggengan konsepnya yang klasik. Perhatiin deh, dari jaman band Rolling Stones atau Axl Rose masih berjaya tampak muka majalah ini tidak banyak berubah. Begtu pula tampilan dalamnya. Kayak produk Yakult yang nggak pernah ganti kemasan tapi tetap dicari orang. wow keren banget. Tanya kenapa?

RS menjual eksklusivitas. Ya, benar. Sesuatu yang mahal banget. Eksklusivitas berarti tidak ditemukan di tempat lain. Hal itu yang menjadi daya jual majalah RS sejak dulu hingga kini. Semua artikel mereka merupakan liputan lapangan. Awal membaca majalah ini, saya agak bingung dengan penulisan mereka yang seringkali terdapat kata tempat seperti, “Sheila malam itu sangat gelisah dan terus terjaga hingga pukul 5 dini hari di kamar hotel”. Lha, ini emangnya fiksi yah.. ko doi ada di kamar hotel si artis tengah malam.

Setelah nonton film Almost Famous, barulah saya mengerti bahwa kinerja majalah RS memang seperti itu. Mereka sebelum menulis feature tentang si artis/band, akan mengikuti si artis/band tersebut beberapa hari atau minggu bahkan berbulan-bulan. Itulah mengapa jawaban-jawaban si narasumber begitu intim. Bahkan setelah tulisan si wartawan jadi, masih ada tim pemeriksa fakta yang akan mengecek kebenaran tulisan si wartawan dengan menelepon si artis/band tersebut. Menanyakan apakah benar kejadian tersebut terjadi di sana, apa kutipan-kutipan tersebut benar adanya, dan sebagainya. Tidak heran dengan profesionalitas setinggi itu, si artis yang terpilih menjadi bahan tulisan RS merasa mendapat penghargaan/kehormatan lebih dibanding masuk media manapun.

RS Indonesia pun di mata saya masih menjadi majalah musik paling prestisius di banding yang lain. Oh ya, sudah agak lama ini RS Indonesia juga menambahkan rubrik politik “National Affairs” yang bisa ditebak siapa arsiteknya, Andy F. Noya. Ia kayaknya ada bagian megang saham RS (atau owner mungkin, ah entahlah). Tidak disangka rubrik politik ini banyak juga yang suka hehe.

Ada seorang wartawan RS Indonesia, namanya Soleh Solihun, yang ternyata merupakan alumni Jurnalistik Universitas Padjadjaran. Ia selalu menulis feature dengan gaya yang berbeda dibanding jurnalis lain. Kekuatan tulisannya terletak dari judul dan penulisan lead yang menohok. Pernah saya mencoba menebak tulisan-siapa-ini dengan membaca judulnya saja mulai dari halaman awal hingga akhir majalah RS tanpa liat kredit penulisnya. Ternyata saya bisa menebak tulisan Soleh hanya dengan melihat judulnya. Ya, karena hanya ia yang menulis judul dengan gaya yang menyentil. Denger-denger sih, kuliah jurnalistiknya lama banged, sampe tujuh tahun hehe.

Well, segitu aja yang saya mau bagi kali ini. Mohon maaf kalo banyak yang salah dan banyak yang harus dikoreksi. Kritikan saya terhadap majalah-majalah yang beredar di Indonesia bukan bermaksud negatif. Saya tidak lebih pintar dari mereka dan sedikit tahu bagaimana cara kerja jurnalis. Sebenarnya copy-paste internet itu terjadi hanya karena satu alasan; malas. Mungkin ada yang menyanggahnya dengan kata deadline. Well, waktu sesempit apapun pasti bisa dipergunakan untuk mengolah isi otak menjadi bentuk tulisan. Saya juga masih banyak banget malasnya. Mungkin suatu saat saya akan menulis tentang kemalasan saya supaya lebih malu sama diri sendiri. Hehe.

Monday, February 08, 2010

Hello, how's life?

Seharusnya saya kemarin dan hari ini ikut ke puncak bersama teman-teman untuk hunting foto. Sayangnya, saya tidak bisa ikut karena harus mengurus bayaran SPP yang telat. Iyah telat. Karena keteledoran saya dan si mamah nggak tau. Kalo tau, habislah saya. Tapi hari ini udah diurus kok. Well, lagi pengen hunting mode on nih. Apa saya ke ITB Fair aja yah. Males sih, saya pengennya ITB Unfair *krik krik.

Sepertinya langkah saya yang sekarang tidak seiring dengan siapapun. Ngga apa-apa sih. Udah biasa. Dari dulu juga selalu jalan sendiri hehe. Saya akan menetap lagi di Jatinangor sekitar tanggal 18 Februari. Kuliah.. tanggal berapa ya masuknya? Nggak tahu deh, tapi kalau minggu ketiga baru ngampus lagi, paling parah saya cuma dua kali absen tiap mata kuliah.

Tiap saya ceritakan tentang jadwal saya kepada orang-orang, mereka akan berkata bahwa saya orang yang terlalu kaku dan terencana. Ya, itu benar saya membuat banyak rencana dalam hidup saya. Mulai dari esok hari sampai esok tahun. Tapi, ya gitu, hari ini harusnya ngerjain apa tapi karena kangen sama keponakan-keponakan misalnya, saya langung aja pergi meninggalkan semua jadwal cuma buat bermain dengan keponakan. I make plans everyday and then I screw them up.

Gimana nggak kangen kalo punya keponakan2 imut kayak roti unyil gini

Banyak juga hal yang saya nantikan di bulan Februari ini. Salah satunya adalah konser Placebo, hehe. Dan sambil menuju hari itu, banyak juga hal yang harus diurus. Seperti mencari kosan baru, ngampus lagi ketemu dosen, say “hi, masih inget saya pak?”, dan juga mengakhiri les foto. Akhirnya saya yang bloon ini tahu bagaimana cara memegang kamera yang benar, saudara-saudara. Hohoho.

Saya bertemu teman-teman baru yang beda generasi di tempat les. Yang paling muda kelas 3 SMA dan yang paling tua udah punya anak SMA. Perbedaan umur menyebabkan perbedaan pemikiran dan tindakan. Kalau yang saya perhatikan, jadi anak muda itu memang selalu punya kesempatan untuk menyolok di lingkungan yang heterogen. Benar kalau ada yang bilang, “yang muda yang berbahaya”.

Teman saya itu, yang kira-kira masih 17 tahunan, tindak-tanduknya begitu semau gue, nekat, terlalu ceroboh, temperamen, dan bersuara lantang. Dia cerita kalau sudah lama tidak masuk sekolah dan ingin masuk kalau ujian saja. Saya hanya manggut-manggut.

Sedang beberapa teman saya yang umurnya sudah kepala empat, lebih terlihat kalem, hati-hati, terlihat matang, dan tenang. Tapi yang saya tahu, orang dewasa terlihat tenang karena terlalu banyak yang dipendam. Ya, mereka begitu hati-hati. Tidak lagi berkoar-koar seperti yang muda padahal kepala orang dewasa lebih njlimet isinya.

Sedang saya, saya berada di antara yang muda dan yang tua. Baiklah, saya ngaku, saya sering merasa tua. Umur 20-an itu terasa cepat berjalan menuju 30.. AKU INGIN NGEREM UMURKU, MAMA! T_T

Ya, ya, saya bisa merasakannya. Sekarang saya lebih berhati-hati ketimbang dahulu, terlalu memikirkan masalah sampai ke detil-detilnya. Two things that I dislike in this world but I have to live through: growing up and making new friends.

Thursday, February 04, 2010

Grammy baru aja dilaksanain 1 Februari lalu. Sebenernya saya nggak gitu tertarik sama award2-an. Tapi juga pengen bahas sedikit.

Kayaknya remaja sekarang begitu tergila-gila sama Lady Gaga. She’s talented, stylish, pretty, and stylish :b Jadi opening act Grammys, teman saya tidak pernah berhenti membicarakan bahwa Lady Gaga itu keren abis. Well she’s good and damn ‘nyentrik’.

Di Grammy 2010 Beyonce sempat kover lagu ‘You Oughta Know’-nya Alanis Morissette. Huaa, ga rela hehe. Tapi ya sudahlah. Penyanyi cewek favorit saya adalah Christina Aguilera and luckily she gave a fantastic permance on Grammy 2007.Saya sampe merinding dengar suaranya. She covered James Brown’s song. Here’s the video.



Penyanyi cowok favorit saya, Sandhy Sandoro. Yang ini produk lokal. Nama doi udah familiar banged sekarang. You guys who don’t know him have to check his myspace page (and a-must-read-his-influences-column) and googling too, maybe xD

Indah banget suaranya.



Klik juga ini

Saturday, January 30, 2010

Dua hari yang lalu saya beli tiket konser Placebo.

Bukan, ini bukan gambar tiketnya :b

Yang di atas tuh kover salah satu album Placebo, “Sleeping With Ghosts”. Tapi nyari-nyari di toko musik belum pernah nemu. Hmm di Indonesia kena sensor kali yah. Menurut saya, bagus deh artwork-nya. Tapi jadi kayak iklan celana jeans yaa. Soalnya polos sih, yang jadi point of interest akhirnya si celana jeans itu. mana si Placebo punya salah satu hit yang judulnya Commercial For Levi (bukan di album SWG). Jadi aja saya mikir iklan jeans. Artwork album Placebo yang lain juga menarik, bisa dilihat di sini

Well, ngomongin artwork maupun foto, sering kita temukan. Kenapa iklan pakaian dalam di majalah-majalah seringnya si model nggak pake baju selain two pieces itu.. wew namanya juga iklan pakaian dalam, kalo doi pake jas hujan panjang nggak keliatan dong yah produknya. Kenapa kalo iklan kosmetik yang difoto mukanya si model doang? Kalo seluruh badan jadinya iklan produk peramping badan dong yah. Haha, semua orang juga udah pada tau. Just intermezzo (padahal dua paragraf lagi juga nih tulisan udah mau abis).

Foto bukti pembelian tiket

Biasanya kalo beli tiket konser, tiket aslinya baru dikasih h-1 menjelang konser. Sebelumnya dikasih tiket palsu, nggaklah, cuma bukti pembelian tiket. Hal ini dilakukan untuk mencegah pemalsuan tiket. Anyway, saya kayaknya nonton sendiri nih. Teman-teman saya nggak ada yang suka sama Placebo. Ngga apa-apa sih. Saya kan beli tiket festival. Mana tau dengan nonton sendiri saya jadi lebih bebas bergerak, menyelip-nyelip, dann.. tadaa, saya akhirnya berada di paling depan panggung. Fufufufu *evil chuckles.

Anyway, tetep aja, akan lebih baik nonton musik (apalagi yang disukai) bareng orang lain yah (yang suka musik yang ditonton juga tentunya). So, guys, kalo ada yang kebetulan baca tulisan ini dan juga mau nonton Placebo, kamu bisa kabarin saya. Biar nanti kita nonton Placebo bareng, atau ternyata kamu megang tiket tribune pun, kita bisa bercakap-cakap dulu di sekitar gate sebelum berpisah venue. Selamat malam.

Tuesday, January 26, 2010

Wahh udah lama juga ya nggak posting *sambil liat tanggal posting terakhir. Wokeh, membuka postingan perdana di 2010 ini saya akan.. refleksi diri. Haha telat yah. Biarin lah who cares gituu. Tapi apa yang direfleksi ya? Ini aja deh, resolusi yang saya buat awal 2009 kemarin, yang tepat tanggal 1 Januari 2009 saya post di blog ini dan sekarang saya agak-agak jijik bacanya. Haha.

Setelah saya liat lagi list resolusi saya, ternyataa.. target-target yang saya buat itu banyak yang unmeasureable-nya, huhu. Ini nih list-nya,

Pinginnya di 2009, saya..

1. Solat 5 waktu (ayoo bawa mukena kemana-mana)
Okei, resolusi yang dijadiin nomor 1 ini nih yang namanya unmeasureable. Ya iya lah, kalo saya sukses solat 5 waktu di 2009 terus selanjutnya apa? Ga solat lagih? Masuk surga? Hehe. Yang jelas, hal ini bakal jadi resolusi saya tiap tahun sampe mati lah.
2. Nggak cengeng lagi
Hahah. Nggak jelas ini kenapa nulis gini :b
3. Lebih gape main piano
Resolusi nomor 3 ini sebenernya sama kayak nomor1, unmeasureable. Sebego atau sepinter apapun loe main piano, tetep aja harus ngelakuin routine daily practice. Sama kayak solat lah, sesoleh atau sebejat apapun, solat tuh kewajiban.
4. Memperluas khasanah di dunia musik (bc: download lagu lebih lebih lebih banyak lagi hahhaa)
Lumayan lah tercapai haha
5. Bisa renang!
Hmm.. yang ini blur, ga jelas tercapai atau ngga. Tadinya saya berpikir, resolusi ini nggak akan tercapai. Nggak tahunya di akhir tahun 2009 saya nyaris bisa renang. Kenapa nyaris? Saya dalam setahun (belajar) renang 3x. Yang pertama bareng mantan pacar dan teman-temannya di awal tahun 2009. Pacarnya teman pacar, Tita, ngajarin saya katanya pelajaran pertama belajar renang adalah ngambang. Yaudah saya ngambang. Bisa. Renang kedua, bareng kakak dan ponakan2 tercinta. Di kasih teori-teori renang (apa sih). Renang ketiga, renang massal bareng keluarga tante dan om. Mereka bilang, saya udah bisa renang. Saya sih nggak yakin, soalnya saya belajar ngambang dan majunya di kolam arus, yang kalo diem aja juga bakal kebawa arus kann. Nah lho..
6. Bung nabung
Sampah. Gagal.
7. Mengunjungi Anya ke Surabaya
Check :)
8. Nggak sekebo dulu
Apa si ini? Ok. Saya masih kebo.
9. Bisa jaga porsi makan (halah)
??????
10. Nggak kebobolan absen kuliah seperti semester sekarang
Resolusi ini belum kesampean. Saya masih males kuliah di 2009 dan kewalahan untuk menebus kemalesan saya. Well. Ada kisah yang saya simpan mengenai hal ini --

-- Pernah saya mengalami starting day yang kacau di kuliah Penulisan Artikel. Saya dan Ical satu hari berangkat bareng kuliah. Pas kita berangkat tu hari masih damai dan ceria, bunga-bunga bermekaran, dan saya dibonceng ical di motornya. Kita berangkat tepat waktu (dalam arti pas-pasan, ga telat tapi juga ga kecepetan untuk berangkat kuliah). Gataunya gerbang Unpad lagi perbaikan dan ngga bisa dilewatin kendaraan, jadi kita harus muter lewat belakang yang mana jauh banget dan jam menunjukkan tinggal 10menit lagi kesempatan sebelum pintu neraka ditutup (baca: ga boleh masuk kelas).

Saya dan Ical udah ngambil jatah absen kuliah 3x. Sekali lagi absen, kita ngga boleh ikut uas. Ical ngebut dan nyampe kampus kita juga ngebut. Sebenernya si ical doang. Dia lari kayak the flash, saya kayak siput. Bukannya saya nggak buru-buru tapi itu udah lari terkencang saya T.T Si ical sampe sempet jatuh ngesot gitu. Orang-orang di kampus ngeliatin kita. Ketauan banged lah kalo di fikom ada yang lari-lari cuma buat ngejar kuliah pasti itu anak jurnal dan pasti itu kuliah pak sahala.

Pas saya naikin tangga sampe lantai 3 si Ical udah nggak keliatan. Pasti dia udah di kelas dan saya.. nggak punya harapan lagi. Ini udah telat sekitar 3 menit atau lebih. Saya akhirnya menunjukkan diri di depan Bu Maimoon yang terkenal ketat dan disiplin. Sambil terengah-engah dan muka pasrah. Kelas lagi diem. Temen-temen udah pada duduk manis di kursi masing-masing. Saya berdiri sendiri sambil berpikir, “this is my last chance and I can’t make it. I’m so fucked up”, saya cuma nunggu kata-kata pengusiran yang legal dari mulut bu Maimoon.

Tiba-tiba ada suara terdengar menggelegar di kelas itu. “Dia bareng saya, Bu”. Saya pikir itu sumbernya dari surga. Ternyata itu suara si ical. Dia udah duduk di depan dengan muka masih terengah-engah dan mau belain saya. Saya nggak percaya, si ical, anak seegois itu.. hiks, saya terharu. Magic happened, saya boleh duduk. It means saya boleh ikut uas, rangkuman buku-buku yang saya telen idup-idup ga jadi sia-sia, tugas-tugas artikel saya yang kayak sampah masih dipertimbangkan.

you'll never know how a friend could bring your day (even if I forget what day was that day, hhe).

Friday, December 11, 2009

Siapa sih orang Indonesia yang gak tahu Pertamina? Pertamina sebagai satu-satunya BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang menguasai sektor migas sebagai kebutuhan energi bangsa ini tercatat telah memiliki sekitar 4465 SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum). Selain BBM, Pertamina juga mengeluarkan berbagai produk bahan bakar lain seperti LPG (Liqueified Petroleum Gas), Bahan Bakar Khusus (BBK), maupun produk pelumas yang sudah mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia.

Perjalanan panjang selama setengah abad lebih atau tepatnya 52 tahun telah dilewati Pertamina untuk menjadi sebesar sekarang. Merupakan hasil merger dari PN Pertamin dan PN Permina tahun 1968, masalah yang dihadapi Pertamina kian kompleks mengikuti perkembangan jaman dan gejolak tanah air yang tidak pernah berhenti. Ya, masih ada perjalanan panjang di depan mata yang harus dilewati. Untuk memulainya, tentu harus dengan langkah pertama.

“Pasti Pas”?
Meski diisukan pernah menjadi perusahaan negara yang kontoversi dengan politisasi elit, Pertamina yang telah bertransformasi menjadi perusahaan perseroan tahun 2006 kemarin, berusaha untuk melangkah menjadi perusahaan yang dapat dibanggakan oleh bangsa Indonesia. Langkah pertama yang dilakukan Pertamina dalam transformasinya adalah menciptakan slogan/logo SPBU Pertamina “Pasti Pas”.

Dengan slogan/logo tersebut, Pertamina menjamin tidak ada kecurangan dalam takaran pengisian bahan bakar kendaraan (pas). Slogan “Pasti Pas” juga dapat mengandung arti bahwa produk Pertamina lah yang paling pas untuk para konsumennya. Sayangnya, belum semua SPBU Pertamina berlogo “Pasti Pas”. Dan SPBU yang berlogo “Pasti Pas” pun ternyata belum pasti pas. Mungkin tidak diragukan lagi ke-“pas”-an SPBU yang berada di kota-kota besar dan mudah dilakukan pengawasannya oleh pusat. Namun, beda halnya dengan SPBU “Pasti Pas” yang lokasinya jauh dari pengawasan pusat dan kebanyakan berada di daerah-daerah.

Saya memiliki pengalaman pribadi akan hal tersebut. Saya dan keluarga yang gemar melakukan traveling di kala liburan panjang, sering melakukan perjalanan luar kota bahkan luar pulau Jawa. Di saat itulah, keberadaan SPBU Pertamina terasa bagai kebutuhan pokok bagi kami. Kami sering menemukan SPBU yang tidak berlogo “Pasti Pas”. Jangankan berlogo “Pasti Pas”, fasilitas umum seperti mushola saja tidak ada atau kalaupun ada, keadaannya sangat tidak terawat.

Ketika melakukan road trip tahun 2008, pernah juga kami kesulitan menemukan SPBU di daerah Majenang sampai Wangon, yakni arah menuju Purwokerto, Jawa Tengah. Setelah cemas puluhan kilometer karena ketiadaan pom bensin, akhirnya kami menemukan SPBU Pertamina. Namun, ternyata tidak ada premium sama sekali. Habis. Padahal saat itu masih siang. Petugasnya berkata bahwa pasokan BBM belum sampai.

Kami yang meninggalkan SPBU tersebut dengan rasa kecewa, akhirnya membeli bensin eceran di warga sekitar. Hal ini tentu masih menjadi PR (Pekerjaan Rumah) untuk Pertamina, yakni masalah pendistribusian, sebagaimana masih sering menjadi berita-berita hangat di televisi hingga sekarang. Keadaan SPBU di daerah-daerah pun terkesan kurang terawat, tidak semegah yang biasanya saya temukan di kota-kota besar dan juga tidak ada slogan “Pasti Pas” di SPBU-SPBU tersebut. Bukankah seseorang maupun instansi yang profesional akan bersikap profesional di mana pun ia berada, sekalipun dalam situasi yang kurang menguntungkan?

Kerja Keras Adalah Energi Kita
Di luar kekurangannya, Pertamina juga telah mengukir berbagai prestasi. Seperti konversi minyak tanah menjadi LPG yang banyak menuai pro dan kontra. Secara pribadi, saya sangat mendukung program ini, terlebih apabila tidak dibarengi dengan kelangkaan LPG itu sendiri. Pertamina juga telah mengeluarkan produk Bio Solar dan Bio Pertamax yang ramah lingkungan. Saya harap akan menyusul produk-produk ramah lingkungan yang lain, terutama untuk bensin ramah lingkungan dengan harga yang terjangkau.

Visi Pertamina “to be a world class national oil company” menunjukkan kemauan Pertamina untuk maju ke arah positif. Memang, tidak akan mudah dalam mencapai visi tersebut. Dilihat dari kualitas produknya, produk Pertamina tidak kalah dengan produk-produk asing yang telah berlaga dalam kancah internasional. Kabar baik juga sudah terhembus dengan mengantongi sertifikasi internasional dari American Petroleum Institute (API), Japanese Automobile Standard Organization (JASO), dan sebagainya.

Namun, mungkin dalam manajemennya, masih banyak yang perlu dibenahi. Pertamina harus banyak belajar terhadap perusahaan-perusahaan migas asing yang telah mempunyai nama dan dikenal masyarakat dunia. Hingga pada akhirnya pengelolaan Pertamina bisa sepenuhnya dipegang oleh anak bangsa. Begitu banyak orang cerdas di negeri ini hingga kita tidak perlu merasa kurang percaya diri dalam mengelola aset negeri sendiri.

Jangan pernah terlalu lelah untuk berbenah diri menjadi lebih baik. Kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia pun harus terus memberi dukungan, use local products. Hingga selain menjadi tuan di negeri sendiri, Pertamina juga dapat mengharumkan nama bangsa. Semakin tinggi mimpi maka usaha yang dibutuhkan harus lebih tinggi dari mimpi tersebut. Oleh karenanya, kerja keraslah yang menjadi energi untuk menggapai itu semua. Maju terus Pertamina!