daily thoughts and activities

Monday, July 12, 2010


Ryan : Er...Kara mentioned that you were having some thoughts.

Jim : I don't think I'm going to be able to er... to do this.

Ryan : Why would you say that...today?

Jim : Well, last night I was kinda laying in bed and I couldn't get to sleep. So I started thinking about the wedding and the ceremony, and about our buying a house and moving in together. And having a kid, and having another kid and then Christmas and Thanksgiving and spring break. Going to football games, and then all of a sudden they're graduating. They're getting jobs, getting married. And, you know, I'm a grandparent. And then I'm retired. I'm losing my hair, I'm getting fat. And then the next thing you know I'm dead. I'm just, like...I can't stop from thinking, what's the point? I mean, what is the point?

Ryan : The point?

Jim : What am I starting here?

Ryan : Jim, it's...marriage. It's one of the most beautiful things on earth. It's what people aspire to.

Jim : You never got married.

Ryan : That's true.

Jim : I mean, you never even tried.

Ryan : Well, it's hard to define try.

Jim : I don't know, just you seem happier than all my married friends.

Ryan : Look, Jim, I'm not going to lie to you. Marriage can be a pain in the ass. And you're right. This all is just stuff that leads to your eventual demise.

Jim : Yes.

Ryan : And we're all on running clocks. And they can't be slowed down or paused. And...we all end up in the same place.

Jim : yeah.

Ryan : There is no point.

Jim : There is no point. That's what I'm saying.

Ryan : You know, er... I'm not normally the guy you would talk to about stuff like this. If you think about it... your favourite memories, the most important moments in your life. Were you alone?

Jim : No, I guess not.

Ryan : Come to think of it, last night, the night before your wedding when all this shit is swirling around in your head, weren't you guys in separate bedrooms?

Jim : Yeah, Julie went back to the apartment and I was just by myself in the honeymoon suite.

Ryan : Kinda lonely, huh?

Jim : Yes, it was pretty lonely.

Ryan : Life's better with company.

Jim : Yeah...

Ryan : Everybody needs a co-pilot.

Monday, July 05, 2010

Saya bukan seorang yang menganut paham kebetulan. There’s no such thing as coincidence. Saya percaya, everything happens for a reason. Tapi kadang, tidak semua kejadian mempunyai reason yang mendalam, ga semuanya harus kita pikirin di mana letak hikmahnya. Terkadang Tuhan hanya ingin membuat kita tertawa. Bagi saya, ada yang sangat melekat seperti kasus-kasus berikut.

Dulu, ketika saya masih punya pacar. Itu kapan ya, ahk udah lama banget deh. Kuliah sedang libur, saya di rumah, bingung mau ngapain. Tangan memegang hp. Hal yang paling mungkin saya lakukan saat itu adalah smsan dengan pacar saya. Ya, sepatutnya itu saya lakukan. Karena kalau tidak bertemu sudah sewajarnya saya sms dia. Tapi saya diam saja sambil memandangi hp saya. Saya bosan. B.O.S.A.N dengan dia. Gilak, bosen banged!

Bayangkan, seseorang yang jiwanya pergi dengan adegan sambil memegang HP seperti di iklan-iklan. Nah, seperti itulah saya. menimbang-nimbang kenapa saya begitu bosan dengan dia sambil memperhatikan hp yang sedang ada di tangan.

Tiba-tiba ada sms masuk, saya kaget (karena sedang bengong). Dan sms itu berbunyi, “bosan dengan pacar sekarang? Sms ke blablabla dan temukan teman kencan baru." Alhasil, saya sontak tertawa terbahak-bahak dengan isi sms tersebut. Tau aja nih si operator huehehehe, tapi saya nggak reply kok haha.

Pernah juga ketika saya kehilangan HP di Pantai Tanjung Lesung. Kehilangan HP merupakan sebuah kesialan, plus kalau hilangnya di depan orangtua. Bukan dihibur malah dimarahin. Dan hal itu terjadi di dalam mobil sepanjang perjalanan pulang. Kalau udah begitu, saya diam saja. Sebenernya saya sedih, HP tersebut adalah HP kesayangan yang didalamnya sudah penuh dengan catatan baik di kalender, notes, dan sebagainya.

Dan ketika saya sedang menenangkan diri, terdengar dari audio mobil.. “oh.. bukankah ku pernah melihat bintang..senyum menghiasi sang malam..yang berkilau bagai permata..menghibur yang lelah jiwanya..yang sedih hatinya” ahahaha brengsek itu lagu“Sang Penghibur”-nya Padi sedang berputar. Itu memang mp3 yang saya beli di sebuah alfamart dekat hotel. Sengaja saya pilih yang agak mainstream karena untuk didengarkan dengan seluruh anggota keluarga yang lain. Tidak saya kira, ternyata mp3 itu untuk menghibur saya di waktu yang tepat pada akhirnya.

Peristiwa yang cukup melekat lain, yakni tentang buku. Ketika semester tiga, saya mendapat tugas membaca novel dari mata kuliah Psikologi Komunikasi. Tiap mahasiswa tugas novelnya beda-beda, saya sendiri mendapat novel Mechanical Cat. Ternyata sangat sulit menemukan novel tersebut. Padahal kalo saya dapat novel Dunia Sophie, saya punya dan sudah baca tuh. Hmm, di mana ya novel Dunia Sophie saya?? Sudah lama tidak lihat. Lupaa naronya.

Berhubung saya pikir novel yang dikasih tugas baca itu pasti sulit dicari, jadi aja saya beli novel yang jadi tugas.. gebetan saya saat itu. Dengan berharap jadi 'hero’ buat dia huehehehe cerdas kamu Dina. Gataunya novel tersebut dapat ditemukan dengan mudah di toko-toko buku terdekat. Sang gebetan pun sudah membelinya. Sialan. Itungannya jadi tekor deh saya.

Lalu saya simpan saja novel tersebut tanpa dibaca bertahun-tahun lamanya, hingga.. saat saya semester tujuh, saya baca blog Raditya Dika. Doi berkata bahwa penulis favoritnya adalah Neil Gaiman. Mmm.. siapa dia.. saya tidak kenal dan tidak tahu karyanya. Habis baca tulisan Radit tsb saya pun ke kamar untuk mencari sesuatu, mengobrak-abrik rak buku, dan ha! Ada novel karya Neil Gaiman di sana. Judulnya Anansi Boys. Itu kan novel yang saya beli dengan niat menjadi 'hero' buat gebetan saya dan berakhir dengan mengutuk uang yang udah keluar untuk novel-yang-ternyata-mudah-dicari. Hahahha, saya pun tertawa terbahak-bahak sendiri di kamar siang itu. Sungguh konyol. In the end, saya baru baca setengah novel tsb. Bagus. Cerdas, penuh fantasi, dan humor :)

Terakhir, peristiwa bareng teman saya, Dex. Waa sudah lama banget. Saya yang pelupa ini saja heran kenapa masih bisa mengingat hal-hal yang terjadi puluhan tahun lalu *lebay*. Oke, begini. Hari itu, saya, Dex, dan abang saya mengunjungi Braga City Walk. Waktu itu masih muda, adrenalin masih mengalir deras, jantung kembang kempis, kulit masih kencang, dan si Dex masih bareng istri mudanya eh pacar dia dulu. Sebut saja cewek itu Mawar (bukan nama sebenarnya).

Si Dex kala itu tergila-gila dengan pacarnya sendiri. Baguslah yaa. Daripada tergila-gila sama pacar orang. So, tiap jam tiap menit tiap detik doi selalu membicarakan si Mawar. Bahkan saya tidak punya kesempatan untuk bilang, “Ohh.. come on. Please stop it”. Hehe nggak lah. Saya dengerin saja abis seru sih hehe. Si Mawar punya adik, namanya si Melati (bukan nama sebenarnya juga) dan hal ini menjadi trending topic kita tiap berbincang. Dari yang penting sampe yang nggak penting.

Nah, pas di Braga City Walk ini, ada nama Mawar yang jadi nama toko baju. Si Dex iseng ngomong, “wah ada toko Mawar, nanti sebelahnya ada toko Melati”. Pas kita jalan melingkar(pusatnya Braga City Walk berbentuk bundar) beberapa langkah dari toko Mawar itu.. ternyata beneran ada donggg toko Melati!!! Which means, gubrak banget. Hahaha saya langsung tertawa terbahak-bahak. Namun, kali ini tidak sendiri. Si Dex yang berjalan di samping saya pun turut tertawa. Sedang abang saya yang ikut bersama hanya bisa bengong. Bingung dengan apa yang kami tertawakan.

Friday, June 04, 2010

Nonchalant. Indiscreet. Haphazard. Yup itu kata-kata yang saya temukan mengenai diri saya di Oxford Learner’s Pocket Dictionary (buku yang sangat bagus, eh. very recommended).

Tidak terhitung banyaknya kejadian sial yang menimpa saya sepanjang hidup saya (begitu juga dengan semua orang nampaknya). Tapi baru-baru ini saya menemukan cara yang (cukup) ampuh dalam meredam kekesalan saya dengan.. tersenyum. Yeah, tersenyum saat kesialan menimpa saya.

Sudah tentu tiap ada kejadian buruk di luar rencana saya, saya akan menjadi kesal. Namun, kekesalan itu hanya akan memperburuk keadaan. Contohnya, saya jadi bersikap menyebalkan terhadap orang-orang yang tidak ada hubungannya dengan masalah saya, membatalkan janji maupun kegiatan tertentu, dan sebagainya. Padahal, hey, semua itu tidaklah berkaitan langsung. Tapi kalau emosi sudah turut campur maka semua hal jadi berkaitan. Nah, dengan mencoba tersenyum saya bisa meminimalisir kekesalan ketika ada kejadian sial.

Saya ambil contoh ketika saya pertama kali mempraktekkan self-therapy ini. Saat itu saya sedang di mobil bersama kakak saya dan saya menyadari bahwa kunci rumah tidak ada di kantong celana saya. Saya mulai panik membayangkan si mamah akan mengomeli saya (hehe). Kakak saya cukup bijaksana dengan tidak men-judge saya di tempat. Ia tahu saya tengah mengutuki diri saya dalam hati jadi ia diam saja.

Saya bad mood seketika. Lalu, saya memasang tampang ga enak sebagaimana suasana hati saya. Saya berpikir, “Ah sialan. Kejadian seperti ini saja membuat hari saya kacau. Saya tidak akan membiarkannya. Saya harus tersenyum dan membuktikan kejadian ini tidaklah seberapa.”

Dan.. yah, sulit sekali untuk tersenyum. Tidak pernah terpikir oleh saya bahwa untuk tersenyum saja bisa sesulit ini. Saya tidak tahu mengapa. Butuh beberapa menit untuk menarik bibir ke samping lebih lebar.

Dann.. saya tidak percaya ketika saya berhasil melakukannya perasaan saya jadi lebih ringan. Syaraf-syaraf yang menegang terasa lebih rileks. Hahaha. Cobain deh. Yahh.. walau bukan berarti kejadian buruknya hilang dengan tersenyum. Setidaknya kemudian kamu bisa berpikir lebih jernih.

Spongebob yang selalu tersenyum

p.s. dan ternyata kunci rumah yang saya pikir hilang itu ada di jok mobil abang saya. tersenyum tidak menyelesaikan masalah. Lain kali saya harus lebih hati-hati :)

Thursday, May 13, 2010

Saya si bungsu yang brengsek dari 4 bersaudara. Ketiga kakakku sudah menikah. Namun, ada yang berbeda dengan pernikahan kakakku yang terakhir. Entahlah. Menikah adalah sesuatu yang wajar. Dan ada pernikahan jutaan orang tiap harinya. Tapi pernikahan kakak yang usianya hanya terpaut dua tahun denganku terasa begitu aneh buatku.

Saya dan dia tumbuh bersama sejak kecil. Kami berbagi kamar bertahun-tahun, mandi bersama, berantem hingga jambak-jambakan, rebutan mainan, dan sebagainya. Hingga ketika dia tumbuh remaja, hubungan saya dan kakak menjadi berjarak karena, ok, terdengar konyol, sifat kami begitu berbeda. Saya (dulu) cenderung pendiam, menghindari konflik sedangkan kakakku memiliki sifat yang sebaliknya. Terlebih, dulu kami sibuk dengan pertemanan sebagaimana remaja tumbuh pada umumnya. Ketika kakak kuliah ia menjadi pribadi yang lebih tenang dan saya bisa kembali dekat dengannya.

Hingga suatu hari, kedua orangtuaku mengatakan bahwa bulan Mei kakakku akan menikah. Saya tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Mama papa bingung lantas mengomeliku. “Dina, kamu sudah bukan anak kecil lagi. Suatu saat kamu akan mengalaminya,” ujar mereka. Saya diam.

Setelah hari itu saya pun bertanya-tanya, haruskah saya menikah? Menurutku tidak ada alasan yang tepat untuk saya menikah. Saya nyaman dengan keadaan seperti ini. Saya tidak kekurangan cinta karena, yah, cinta saja nggak pernah terasa cukup buat saya.

Dan, di suatu Jumat, ketika teman-teman masuk kelas untuk kuliah Penulisan Berita Elektronik. Saya dan Tendi Mahadi tertinggal di plasa Fikom. Sebenarnya si Tendi ini agak-agak rese kalo diajak bicara, tapi kadang lumayan lah daripada lumanyun.

(sebelumnya percakapan kami sudah terjadi agak lama tapi saya nggak ingat apa yang dibicarakan)

Tendi : jadi sekarang apa yang lu pikirin?

Saya : hmm.. sebenarnya Ten. Gue dalam fase bertanya-tanya ngapain sih orang nikah?


Tendi : itu yang ada di kepala lu?


Saya : Iya. Itu dia. Tapi belum nemu jawabannya. Eh Ten katanya cowok tuh matanya, misalnya kalo lagi nongkrong gini, liatin cewek juga gitu ya, misalnya ada cewek cantik lewat terus wajarnya cowo liatin. Nah kalo cowok ganteng lewat nggak diliatin.


Tendi : Ya iyalah! Ngapain juga cowok liatin cowok. Emangnya homo!


Saya : Ih tapi cewek nggak gitu Ten. Ok, kalo ada cowok ganteng lewat kita liatin. Tapi kalo ada cewek cantik lewat kita juga liatin..


Tendi : (bengong bentar) Fashion..


Saya : ya, ya fashion. Liatin dari atas sampe bawah. “wah sepatunya oke” misalnya


Tendi : sampe ke fisik fisik juga? Bodi?


Saya : ya, itu juga termasuk. Misalnya kakinya bagus banget, kecil. Waw jadi mikir pengen kaki kayak gitu. Tapi jatohnya sirik juga sih ya. Makanya, pusing banget jadi cewek.


Tendi : semua cewek gitu?


Saya : hmm rata-rata. Nyaris semua kata gue sih. Mungkin cewek-cewek yang cuek itu ngga terlalu keliatan aja. Tapi pada dasarnya itu alamiah cewek kok. Tapi Ten, cewek-cewek itu nggak bakal dandan abis-abisan, nggak akan usaha gimana caranya biar cantik kalo nggak ada cowok loh. Dan gue juga pernah baca yah tentang si Onassis. Tau nggak lu?


Tendi : pengusaha Yunani itu?


Saya : Ya,yang tajir tujuh turunan itu. Si
Aristotle Onassis itu pernah bilang kalo semua uang di dunia ini nggak akan ada artinya kalo nggak ada cewek, Ten.

Tendi : hmm jadi intinya seks.


Saya : seks? (sambil mengernyitkan dahi)


Tendi : seks dalam arti luas.


Saya : ooh. Haha. (sialan, lelaki cerdas sekali menyederhanakan masalah)


Tendi : pria dan wanita itu saling membutuhkan. Emang maksud lu seks yang mana?


Ok. Percakapan selanjutnya tidak penting

Ya. Seperti yang dikatakan Tendi tadi. Mungkin benar pria dan wanita itu saling membutuhkan. Membutuhkan yang seperti apa? Saya sendiri juga percaya, lelaki itu dianugerahi otak yang lebih cerdas dari wanita dan juga kekuatan fisik yang berlebih. Sedangkan wanita, kami ditakdirkan untuk menaklukkan pria. Haha.

Mungkin nilai plus kami ada di kelembutan dan hal-hal menyangkut hati. Tapi, kalau alasan membutuhkan hanya sekedar itu, saya pikir pria wanita tidak perlu menikah segala. Kalau saya kurang cerdas, kalian bisa mengajari saya. Begitu juga kalau saya butuh kekuatan fisik untuk membetulkan pompa air yang rusak, mengangkat lemari, dan sebagainya.. sepertinya saya tidak perlu sampai menikahi cowok segala kan. Saya hanya perlu minta tolong atau membayar jasa.

Mari bicarakan alasan yang lebih sakral : cinta. Ha. Apa ada orang yang mencintai saya melebihi mama saya? ok. Saya dan mama saya berbeda umur jauh dan besar kemungkinan beliau meninggalkan saya lebih dahulu sehingga saya harus mencari pendamping hidup. Cinta tuh apa sih?

Beberapa lelaki mengatakan pada saya, lelaki itu selalu melakukan apapun agar tujuannya tercapai. Gombal doang mah biasa. “Aku sayang kamu, cinta kamu” tuh.. ahh.. cuma basa-basi busuk aja. Tujuan lelaki.. seks ya. Mungkin bagi lelaki yang baik dan masih menganggap itu tabu, tujuan mereka yaa.. menaklukkan wanita. Ingin lihat aja, reaksi cewek kalo digombalin itu seperti apa. Dan jujur, mungkin wanita memang senang digombalin. Pada akhirnya, cinta antara pria wanita itu NGGAK MUNGKIN ngga pake nafsu.

So, orang menikah karena cinta dan nafsu (haha. Sepertinya kalimat barusan menghancurkan makna kesucian pernikahan bagi sebagian orang). Dan lagi, kalau memang alasan menikah adalah karena cinta dan nafsu.. mengapa mereka yang mencintai sesama jenis tidak boleh menikah? Tidak akan menghasilkan keturunan? Aib bagi masyarakat? Dosa besar? Jadi tujuan pernikahan itu memang melestarikan peradaban manusia? Atau tuntutan hidup bermasyarakat? Ngomogin dosa, siapa sih yang benar-benar suci di dunia ini?

Lagi-lagi, saya teringat kata-kata Tendi “pria dan wanita itu saling membutuhkan”. Oke. Mungkin pernikahan adalah jalan yang tepat untuk melengkapi ketidaklengkapan yang ada di pihak wanita maupun pria, baik jasmaniah maupun batiniah, materiil maupun formil. Namun.. kalau ternyata kita sudah mendapatkannya dari beberapa orang, lalu mengapa kita harus memilih salah satu dari mereka untuk dinikahi?

Ya ya seperti kata-kata Tendi, “pria dan wanita itu saling membutuhkan”. Dan dia pun melanjutkan, “Mungkin sekarang lu belum ngerti Din. Tapi nanti, suatu saat, pasti.”

Ya, saya tahu kok. Saya mungkin tidak bisa menemukan jawabannya sekarang. Tapi saya yakin, suatu saat nanti. pasti.

Ah ya, ini foto pernikahan kakakku.

Kakak ipar dan kakak tengah berlatih tari tor-tor

Dia tampak bahagia sekali di hari pernikahannya. Selalu ada harapan untuk kebahagiaan =)

Monday, May 10, 2010

Sabtu, 8 Mei 2010
Hari ini, kakakku yang terakhir menikah ketika saya sedang melewati fase hidup di mana muncul pertanyaan "ngapain sih orang nikah?"

Monday, April 26, 2010

Alice : Bisa tolong beritahu aku? Jalan mana ya yang harus aku ambil dari sini?
Kucing : Tergantung, kamu maunya ke mana?
Alice : Mmm, ke mana saja juga boleh deh.
Kucing : Ya kalau begitu, jalan mana pun yang kamu pilih, sama saja.

(diambil dari kisah Alice's Adventure in Wonderland)

Tuesday, April 06, 2010

“I know,” Brian chuckles. “I guess being in a rock band you don’t grow up as quickly as other people no matter what happens in your life, or maybe because you’re so used to conflict and things teetering on the edge of falling apart that sometimes you have to create that around you in order to feel alive. When you listen to the album you find a good deal of confusion and desperation. Things are never simple in Placeboworld. I think the interesting thing about the people who inhabit the songs on this album is that they’re always going through some kind of conflict, with themselves or in terms of their place in the world or in terms of dependence or addiction.” There’s also, somewhat mysteriously, a track called “Space Monkey”, which none of the band can explain but which has left Stefan awash with emotional awe. “I listen to it and I don’t hear us playing it or remember recording it,” he says, “it’s like I’m listening to another band and I’m getting very strong emotions while I’m listening to it. It’s the first time I’ve had that with our music.“(http://eventful.com/performers/placebo-/P0-001-000002052-6)

Banyak alasan untuk seseorang menyukai musik tertentu. Salah satunya adalah karena alasan personal. Yeah itulah yang terjadi pada saya yang menjadi fans Placebo, saya suka musik mereka dengan alasan yang personal. Alasan personal adalah, contohnya ketika kamu jatuh cinta, tiap kamu pergi kemanapun terdengar lagu band yang menyanyikan suara hatimu, misalnya band dengan penjualan RBT tertinggi di Indonesia (baca: Kangen Band). Terus kamu jadi suka deh sama band yang potongan rambut frontman-nya poni lempar tersebut.

Begitu halnya yang terjadi pada saya sehingga menyukai Placebo. Placebo menyertai saya melewati masa-masa labil hehe, simply sentimental reasons. Jadi inget, ketika mengajak beberapa teman untuk menonton konser Placebo kemarin, kebanyakan dari mereka menjawab, “Nggak mau ah. Homo sih.” Loh? Musisi emang nggak boleh homo ya? Menurut gua yang nggak boleh homo tu pak haji (sori, sori, mulai asal ngomong).

Oke saya bukan mau bahas homo-homoan.

Menurut saya, ada dua tipe di sini. Orang-orang yang menganggap music dan attitude adalah sebuah kesatuan dan yang tidak. Saya termasuk orang yang cuma peduli musiknya, peduli amat sama attitude-nya. Saya pernah baca sebuah artikel yang bahas ini, dengan gaya menulis seperti orang-orang marah (itu kayak gimana ya, pokoknya gitu deh) si penulis membahas scene rock Indonesia yang lembek. Masak mau manggung bilang assalamualaikum, masak rockstar nggak mati karena OD, masak nggak nge-sex, masak nggak tatoan, dsb. Mungkin tipe seperti ini juga bermasalah kalo ada anak metal yang ternyata rajin solat.. zzZ.. saya sih egaliter aja. Dan atas nama egaliter juga saya tidak berhak mencak-mencak orang seperti ini (sialan nih menjebak banget kata egaliter). Balik ke Placebo.

Yang saya suka dari Placebo adalah, liriknya dan suara Molko yang menyanyikan lirik-lirik brutal tersebut. Molko sendiri bilang kalau songwriting menjadi hal yang yang ditonjolkan dari Placebo. Walau kalau saya lihat hal tersebut berhenti sampai album Meds. Di album Battle For the Sun, seperti Sleeping With Ghosts, mereka kembali bereksperimen dengan musik.

Lagu-lagu mereka emang banyak bernuansa gloomy (tapi nggak secara emo); apalagi kalo bukan kesepian, kecemburuan, iri, dengki, kecanduan, merasa kecil, picik, ingin menjatuhkan, dll. Semua sifat alamiah manusia yang kadang terlalu malu untuk kita ucapkan. Dan.. itu semua ‘disease’ kita kan sebagai manusia. Dan tema lagu-lagu tersebut paling cocok dibawakan dengan tipe suara Molko. Hehe. Nggak ada yang lain lagi deh.

Lagu all time favourite saya dari Placebo adalah Without You I’m Nothing. Emosional banget. It’s just amazing in my ears. Pasti lagu yang bisa menyentuh hati datangnya dari hati juga ya. Pernah, suatu hari, ketika saya sedang baik-baik saja, tidak ada hal buruk yang menimpa saya, mood saya pun sedang baik. Namun ketika saya mendengarkan Without You I’m Nothing, air mata saya mengalir begitu saja. Wow! Saya tidak menyangka. Saya tidaklah merasa punya chemistry dengan lagu tersebut. yahh..the brutal honesty in its lyric makes me cry.


Strange infatuation seems to grace the evening tide/I'll take it by your side/Such imagination seems to help the feeling slide/I'll take it by your side/Instant correlation sucks and breeds a pack of lies/I'll take it by your side/Oversaturation curls the skin and tans the hide/I'll take it by your side/tick - tock x3/tick - tick - tick - tick - tick - tock/
I'm unclean, a libertine/And every time you vent your spleen/I seem to lose the power of speech/You're slipping slowly from my reach/You grow me like an evergreen/You've never seen the lonely me at all/I...Take the plan, spin it sideways/I...Fall/Without you, I'm nothing/Without you, I'm nothing/Without you, I'm nothing/Take the plan, spin it sideways/Without you, I'm nothing at all//

Sunday, March 21, 2010

“(Semua) manusia tuh kotor ya, penuh lumpur”, ujar saya kepada seorang teman beberapa hari yang lalu.

Tapi postingan ini bukan tentang hal-hal kotor maupun penuh kebencian. Bukan tentang kepura-puraan yang buat kita muak dengan orang lain maupun dengan diri sendiri. Postingan ini ingin bicara tentang hal indah –walau si penulis tidak tahu bagaimana membuat kata-kata supaya terdengar indah :b

Manusia memang kotor. Tapi kita selalu bisa membersihkan diri kalau kita mau. Salah satunya dengan maaf. Tidak perlu menunggu lebaran datang untuk saling memaafkan. Tapi juga jangan berharap maaf dari seseorang bisa datang dengan instan.

Tidak ada yang instan di dunia ini (kecuali pop mie mungkin. Tinggal seduh, jadi! Haha). Jangan pernah pesimis dengan kata “maaf”. Tapi juga jangan terlalu mengobral kata tersebut. Maaf yang tulus tidak sekedar di mulut saja, atau satu kata yang terkirim melalui sms, email, maupun yahoo messenger.

Maaf juga bukan tentang kamu bersujud di depan orang yang kamu mohon-mohon supaya dirimu dimaafkan. Maaf bukan menyesali kejadian yang telah lewat. Maaf bukan menyalahkan diri sendiri. Maaf bukan tentang itu, tidak hanya tentang itu, dan lebih dari itu. Ya, kata maaf saja memang tidak cukup.

Maaf. Dan saya akan memperbaiki diri.

Tuesday, March 16, 2010

I wrote this for something.. but something, it never came. Waktu itu Februari yang ribet. Tanggal 15 ngurusin foto, 16 Placebo, 17 packing (ugh!), 18 pindahan, 19 launching kuliah (lagi). Bener-bener deh.. jadinya saya baru bisa nulis setelah tanggal itu. udah telat, tulisan jelek, foto nge-blur.. tapi saya nulis sepenuh hati loh. Menyenangkan rasanya. Anggap saja, ini dari fans untuk fans =)

--

Placebo Sukses Menyihir Penonton


SUPER! Hanya itu komentar saya apabila ditanya teman tentang konser Placebo 16 Februari lalu. Sebagai salah satu dari penggemar Placebo, konser Placebo yang bertempat di Tennis Indoor Senayan lalu merupakan konser yang sudah lama saya nantikan. Saya datang ke venue pukul 5 sore dan antrian mulai terlihat pada pukul setengah enam sore.

Selama mengantri (sendirian) saya mendengar percakapan fans Placebo yang berasal dari Bandung. Hal tersebut dapat saya ketahui dari bahasa Sunda yang mereka gunakan. Yang cukup mengejutkan, ternyata ada juga fans yang berasal dari Surabaya dan menginap semalam di hotel demi melihat konser Placebo. Wah, saat mengantri saja saya jadi begitu bersemangat.

Konser malam itu dibuka dengan penampilan DJ Electronic Groove. DJ tersebut cukup sukses memanaskan penonton selama beberapa menit. Hingga akhirnya penonton terlihat mulai tidak sabar untuk menonton pertunjukan sesungguhnya malam itu. DJ berakhir, kru Placebo yang terdiri dari bule-bule memasuki panggung, menyiapkan set untuk Placebo. Saat itu pukul 20.15, tak lama drummer Steve Forrest, bassis/gitaris Stefan Olsdal, dan vokalis/gitaris Brian Molko satu persatu muncul ke panggung diiringi dengan additional players. Intro For What It’s Worth mengalir. Penonton mulai histeris.

Molko tampil simple dengan busana hitamnya sedangkan Olsdal memakai kemeja hitam dipadukan dengan celana silver ketat. Steve Forrest tampil cuek dengan kaos lengan buntung yang memamerkan tato di tubuhnya. Placebo memakai tiga orang sebagai additional players dan yang paling menonjol adalah seorang wanita cantik multi-instrumentalist yang berbusana putih.

Lagu For What It’s Worth sangat cocok menjadi lagu pertama dalam setlist. Intronya yang menghentak dengan beat yang membuat penonton tidak dapat menahan diri untuk bergoyang. Ya, penonton malam itu begitu ekspresif. Suasana Tennis Indoor yang terisi 80% dari kapasitasnya menjadi meriah. Stefan Olsdal terlihat beberapa kali tersenyum melihat crowd yang bersemangat.

Setelah For What It’s Worth, setlist yang memacu adrenalin penonton pun dimainkan tanpa jeda. Ashtray Heart, Battle For The Sun, Soul Mates, Speak In Tounges, Cops, Every You Every Me, Special Needs, Breath Underwater, Julien, Neverending Why, Come Undone, Devil In The Details, Meds, Song To Say Goodbye, Special K, sampai Bitter End. Dari 21 lagu yang dimainkan terdapat 10 di antaranya berasal dari album teranyar Battle For The Sun. Mungkin fans yang berharap lagu favoritnya dari album Without You I'm Nothing dimainkan, sedikit kecewa dengan setlist malam itu. Tapi semuanya dapat terobati dengan lagu-lagu hits dari album Black Market Music dan Sleeping With Ghosts yang dimainkan dengan bersih dan berenergi .

Satu hal yang sangat menonjol malam itu, selain penampilan Placebo sendiri, adalah kualitas sound-nya. Sangat jempolan. Semua elemen mulai dari gitar, biola, keyboard, drum, bass, hingga vokal terdengar begitu jernih, nyaring tanpa gangguan.

Sebelumnya, promoter Java Musikindo, Adrie Subono, telah mempromosikan kecanggihan konser Placebo melalui jejaring sosial Twitter. Dikatakan bahwa Placebo membawa kargo seberat 7 ton untuk sound system. Memang, Placebo adalah band yang sangat memperhatikan kualitas sound.

Konser Placebo menjadi luar biasa didukung dengan panggung berukuran 18 x 10 m dengan tata lampu yang fenomenal sebesar 250 ribu watt dan sound system sebesar 60 ribu watt. Belum lagi layar besar berisi klip-klip yang menguatkan kesan tiap lagu.

Placebo mempertunjukkan penampilan yang all-out. Molko maupun Olsdal seringkali berganti gitar di tiap lagu. Meski minim interaksi, nyatanya sihir Molko cs. ampuh membius penonton hingga terbawa dalam Placeboworld. Setelah Bitter End selesai dimainkan, anggota Placebo pergi meninggalkan panggung. Trik klasik dalam konser. Penonton pun bersahut-sahutan berteriak “we want more..we want more”.

Molko cs kembali muncul di panggung. Bright Lights menggebrak. Penonton kembali semarak. Molko cs. terlihat lebih rileks. Terdapat 4 buah lagu yang dinyanyikan sebagai encore, yakni Bright Lights, Trigger Happy, Infra-red, dan Taste In Men. Pemilihan lagu Taste In Men sebagai penutup konser benar-benar brilian. Wanita cantik multi-instrumentalist yang menjadi additional player Placebo memainkan alat musik theramin yang benar-benar hanya digunakan untuk lagu Taste In Men. Lagu tersebut melekatkan kesempurnaan konser malam itu sehingga mencapai klimaks.

Molko cs. melakukan penghormatan trakhir kepada penonton yang hadir di Tennis Indoor Senayan malam itu. Steve Forrest membuka dan melemparkan kausnya ke arah penonton. 21 lagu 115 menit. Berakhir sudah malam magis bersama Placebo diiringi dengan tepuk tangan meriah dan wajah puas penonton sekaligus hati yang sedih karena konser spektakuler itu telah berakhir.

Really a great concert this year =)